Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 159


__ADS_3

Hari itu Anya datang ke kantor seperti biasa. Anya melakukan tugas-tugasnya, tapi entah mengapa Anya merasa ada sesuatu yang kurang. Biasanya Husein sering sekali memanggilnya untuk masuk ke ruangannya. Tapi hari ini belum sekalipun Husein memanggilnya. Dan entah mengapa hal itu membuat Anya jadi gelisah.


"Anya, ada apa dengamu?", tanya Rayhan yang menyadari tingkah Anya tidak seperti biasa.


"Tidak ada apa-apa, kenapa memangnya?"


"Sepertinya kamu terlihat gelisah, apa ada yang menganggu pikiranmu?"


"Tidak ada...", jawab Anya mencoba mengelak.


"Oh ya, hari ini Pak Husein tidak datang ke kantor karena sedang ada urusan, jadi kamu tidak perlu menunggu atau mencarinya..."


"Oh, baiklah..."


Anya mencoba bersikap sedatar mungkin, meski entah mengapa hatinya sebenarnya merasa kecewa.


Sementara Rayhan yang sedikit banyak tahu tentang 'hubungan' Anya dan bosnya hanya tertawa kecil melihat tingkah Anya yang selalu berusaha menutupi perasaannya tapi sering terlihat salah tingkah jika ada sesuatu menyangkut Husein.


"Tenang saja, hanya sehari, besok beliau sudah masuk lagi dan rindumu bisa segera terobati..", Rayhan kembali menggoda Anya.

__ADS_1


"Hey, jangan bicara sembarangan!", bentak Anya dengan mata melotot.


Meski begitu mereka kemudian saling melempar senyum. Di kantor Rayhan adalah satu-satunya teman yang bisa dipercaya Anya. Mereka juga cukup akrab karena setiap hari bekerja bersama.


Anya akhirnya berusaha menutupi kekecewaannya dengan menyibukkan diri dan bekerja lebih giat. Hingga saat makan siang tiba, akhirnya Anya memutuskan tidak pergi kemana-mana. Anya hanya memesan makanan melalui aplikasi online lalu menyantapnya sendirian di meja kerjanya. Sedikit banyak Anya merasa kehilangan kehadiran Husein.


Tapi kemudian, sebuah pesan yang masuk ke ponsel Anya mengalihkan perhatiannya.


Hey Anya, ini aku Zaki kakakmu, apa di kantormu ini sedang istirahat? bisakah aku menelponmu sebentar?


Paradaan kaget bercampur senang membuncah di hati Anya saat membaca pesan itu. Anya sudah berencana menghubungi kakaknya sesuai amanah ibunya, tapi Anya belum memiliki keberanian. Dan sekarang kakaknya menghubunginya lebih dulu


"Assalamualaikum Kak Zaki..."


"Walaikum salam, jadi benar ini Anya? Adik kecilku yang nakal?"


Jawaban dari seberang terdengar sangat antusias.


"Ya kak, aku Anya bagaimana kabarmu?"

__ADS_1


"Baik Anya, aku sangat merindukanmu, aku terus mencarimu selama ini, bisakah kita bertemu?"


"Tentu saja kak, aku juga rindu, kapan kita bisa bertemu?"


"Secepatnya, bagaimana kalau nanti sore? Aku akan menjemputmu sepulang kerja, berikan alamat kantormu..."


"Baiklah kak, aku akan pulang awal nanti karena bos ku tidak masuk hari ini, nanti kukirimkan alamatnya via chat..."


"Baiklah Anya, kita lanjut nanti ya, jam istirahatku hampir habis, aku sudah tidak sabar untuk mengobrol banyak denganmu nanti.."


"Ya kak, sampai jumpa nanti..."


Sambungan terputus. Anya menjadi bersemangat sepanjang sisa hari itu karena sudah tidak sabar untuk bertemu kakak tercintanya.


Akhirnya waktu yang ditunggu tiba. Seperti yang dijanjikan, Kak Zaki menjemputnya dan sudah menunggu di depan kantor Anya dengan menggunakan sepeda motor. Sejenak mereka saling memandang, sebelum Anya mengulurkan tangan untuk menjabat tangan kakaknya lalu menciummya.


"Ayo naik, nanti saja ngobrolnya, biar aku cari tempat yang enak.."


Anya menurut. Anya langsung naik ke atas motor dan memeluk kakaknya erat-erat, melepas semua kerinduan yang selama ini terpendam. Sepanjang perjalanan mereka tak saling bicara, tapi hati mereka sama-sama hangat oleh pertemuan yang syahdu di senja itu.

__ADS_1


__ADS_2