Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 88


__ADS_3

Dengan malas Anya mengucek matanya yang masih mengantuk dan terpaksa bangun dari tidur siangnya, saat mendengar suara bel berbunyi bertubi-tubi. Siapa sih yang bertamu siang bolong begini? Rutuk Anya dalam hati. Anya menyeret langkahnya keluar dari kamar menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Betapa terkejutnya Anya saat melihat sosok yang diam-diam dirindukannya tiba-tiba muncul di depan pintu rumahnya.


"Husein?", reflek Anya menyebut nama pria itu.


Pria itu kemudian tersenyum dengan ramah. Dalam hitungan detik Anya menyadari dia telah salah orang. Itu bukanlah Husein.


"Saya Hasan, bukan Husein. Maaf jika membuat anda kecewa...", ucap pria itu kemudian, yang langsung kembuat wajah Anya memerah karena malu.


"Maaf..", ucap Anya kemudian.


"Tidak apa-apa, bolehkah saya masuk ke dalam? Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda..."


"Oh tentu saja, mari silahkan masuk..."


Hasan duduk diruang tamu rumah Anya. Sementara Anya pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman. Dalam benaknya Anya bertanya-tanya, untuk apa Hasan datang kerumahnya.


Anya segera keluar untuk menghidangkan minum dan menemui tamunya.

__ADS_1


"Maaf, ada perlu apa Anda datang kemari..."


"Saya kemari untuk meminta bantuan Anda..."


"Bantuan apa maksudnya?"


"Ini tentang saudara saya, Husein...saya sangat berterimakasih bahwa Anda telah menyelamatkan nyawa Husein kemarin, kami berhutang budi pada Anda dan sekarang kami butuh bantuan Anda lagi untuk memulihkan jiwanya"


"Memangnya ada apa dengan Husein?"


Bagaimana mungkin Husein mengalami masalah semacam itu? Padahal selama Anya mengenalnya, Husein adalah orang yang sangat bersemangat dan selalu berfikir positif.


"Memangnya apa yang bisa saya bantu?"


"Berdirilah disampingnya, aku ingin Anda bekerja di perusahaan kami, sebagai asisten direktur..."


"Tidak mungkin, aku tidak bisa melakukannya, Anda pasti salah orang, carilah orang lain yang lebih berkompeten dalam bidang itu..."

__ADS_1


"Saya pikir Andalah orang yang paling tepat, masalah teknis bisa kita bicarakan nanti, masalah pekerjaan pasti bisa dipelajari dan tidak sesulit yang Anda bayangkan..."


"Aku tidak bisa menerima tawaran ini begitu saja, aku masih terikat kontrak dengan pekerjaanku yang sekarang..."


"Masalah itu, kami bisa mengurus dan menyelesaikannya, yang penting Anda menyetujui tawaran ini, sisanya kami yang kan mengurusnya..."


"Oh ya, aku lupa, kalian adalah orang-orang hebat, yang bisa menyelesaikan semua urusan dengan uang dan kekuasaan...", ujar Anya dengan sinis.


"Nona, saya benar-benar minta maaf kalau permintaan saya menyinggung anda, tapi tolonglah pikirkan ini baik-baik, saya rasa ini demi kebaikan Anda juga dan ini akan menjadi kesepakatan yang saling menguntungkan..."


Anya sejenak terdiam dan berpikir. Selama ini dia selalu berdoa dan berdoa agar diberi kesempatan dan dibukakan jalan untuk keluar dari dunia malam dan pekerjaan haram yang terpaksa digelutinya. Dan kini di depan matanya laki-laki ini menawarkan solusi yang sempurna. Memang tawaran itu sedikit menyinggung harga dirinya. Tapi jika hanya karena harga diri Anya menolak tawaran itu, berarti Anya telah bersikap sombong dan tidak bersyukur.


"Baiklah tolong beri saya waktu tiga hari, saya ingin memikirkan tawaran ini dengan sungguh-sungguh..."


"Baiklah kalau itu kalau itu yang Anda inginkan, saya akan datang lagi dalam waktu tiga hari..."


Dan Anya benar-benar menggunakan tenggak waktu yang dimilikinya untuk terus berdoa dan memohon petunjuk. Anya juga melaksanakan shalat istikarah untuk memohon petunjuk. Anya tidak ingin keputusan yang diambilnya hanya karena emosi sesaat. Anya ingin keputusaanya nanti akan membawa kebaikan bagi masa depannya dan juga tidak merugikan semua orang.

__ADS_1


__ADS_2