Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 143


__ADS_3

Anya terkejut mendapati Husein ada di depan matanya. Tepatnya menjadi korban atas keteledorannya dalam mengemudi sepeda motor (lagi). Anya merasa aneh, sebab Anya merasa tengah mengendarai sepeda motor dalam kecepatan rendah dan sangat berhati-hati sambil memperhatikan samping jalan, tempat sebuah toko yang ditujunya untuk melamar pekerjaan. Dan bagaimana mungkin tiba-tiba Husein ada di depannya.


"Kamu harus tanggung jawab!"


Kata-kata Husein seketika menyadarkan Anya.


"Tanggung jawab bagaimana?", tanya Anya masih dengan raut bingungnya.


"Ya tanggung jawab, kamu kan sudah menabrakku, bagaimana sih?"


Anya menatap Husein dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sepertinya Husein baik-baik saja, hanya saja kakinya sedikit pincang.


"Baiklah, aku akan menelpon taksi online saja, lalu kita ke rumah sakit.."


"Tidak perlu, biar aku telepon sopirku saja untuk mengantarku ke rumah sakit, tapi kau harus ikut dan membiayai pengobatanku nanti..."


"Baiklah, terserah kau saja..."


Husein lalu terlihat menelpon seseorang. Selang beberapa saat mobil jemputan datang. Satu orang keluar dari mobil dan meminta kunci motor Anya.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit ya Pak..."


Ucap Husein kepada sopirnya yang dijawab dengan anggukan tanda mengerti. Sepanjang perjalanan Anya mulai memikirkan tentang kesialan yang baru saja menimpanya. Bagaimana dia harus membayar biaya perawatan Husein nanti, sementara untuk membayar sewa kamar kos saja dirinya masih berhutang pada Fitri. Semoga saja Husein mau memberikan keringanan mengingat hubungan baik mereka selama ini.


Sepanjang perjalanan Anya hanya diam karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Husein sekali-kali mencuri pandang, memperhatikan wajah Anya yang terlihat semakin manis kalau cemberut seperti ini. Dalam hati Husein merasa kasihan kepada Anya. Pasti Anya sedang stress memikirkan biaya perawatan yang harus ditanggungnya.


Sampai dirumah sakit, Husein langsung diantarkan oleh sipirnya ke ruang IGD.


"Kamu tunggu di luar saja, biar orang-orangku yang mengurus semuanya, tapi jangan pergi! Tunggu sampai aku selesai..."


Anya hanya bisa menurut, karena memang yang diizinkan untuk menunggui pasien hanya satu orang saja.


Diluar Anya menunggu dengan khawatir. Kali ini Anya bukan mengkhawatirkan keadaan Husein, karena pria itu masih sadar bahkan masih banyak bicara. Yang Anya khawatirkan adalah biaya yang harus dia tanggung.


Berselang satu jam lebih, Husein akhirnya keluar bersama sopir pribadinya. Kakinya terlihat di perban dan Husein berjalan dengan di bantu tongkat.


"Bagaimana keadaanmu?"


Tanya Anya saat sudah mrnghampiri Husein.

__ADS_1


"Lumayan sakit, tulang kakiku retak sedikit dan sekarang aku harus kesulitan berjalan...", kata Husein berusaha untuk terlihat meyakinkan.


"Jadi berapa biaya pengobatannya? Apa aku harus menggantinya?"


"Tentu saja, ini!"


Husein menyodorkan sebuah nota pembayaran.


"Kenapa banyak sekali?"


Jumlah yang tertera disana hampir dua puluh juta. Darimana Anya mendapat uang sebanyak itu? Sementara uang tabungan dari pekerjaan haramnya telah dia sedekahkan dan sekarang Anya tak memegang uang sepeserpun.


"Kau harus membayarnya sekarang juga! Atau aku akan menuntutmu"


Anya semakin kesal dengan tingkah Husein yang menyebalkan, padahal sebelumnya Husein tidak seperti ini.


"Apa maksudmu? Bukankah kamu punya banyak uang? Untuk apa menyusahkan orang kecil sepertiku? Aku pasti akan menggantinya, tapi nanti kalau aku sudah dapat pekerjaan aku akan mencicilnya"


"Tidak bisa, bayar sekarang atau kau harus kembali bekerja padaku! Aku tidak bisa percaya padamu jadi aku akan memotongnya dari uang gajimu nanti..."

__ADS_1


"Arrgh,!"


Anya benar-benar kesal, tapi sepertinya dia tidak punya pilihan.


__ADS_2