
Zaki dan Anya akhirnya pulang bersama ke kampung halamannya dengan mengambil penerbangan malam, hari itu juga.
Bagi Zaki, hal semacam ini bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya sudah dua kali Zaki pulang mendadak dengan alasan yang sama. Kondisi ayahnya yang tiba-tiba drop. Pertama adalah saat Ayahnya mendapatkan serangan stroke yang pertama. Dan yang kedua adalah saat ayahnya terkena serangan jantung beberapa bulan lalu. Posisi orang tuanya yang hanya tinggal berdua saja di rumah membuatnya merasa khawatir dan merasa bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada mereka. Terlebih Ibunya juga sudah berumur, kerap panik dan bingung jika dihadapkan pada situasi darurat. Namun disisi lain Zaki juga tak bisa tinggal di dekat orang tuanya. Sudah tiga tahun lebih Zaki merantau ke ibu kota untuk mencari rezeki. Selain itu ada amanah yang harus ditunaikan pada kedua orang tuanya, yaitu mencari Anya, adik kandungnya yang pergi meninggalkan rumah. Dulu Zaki berjanji bahwa dirinya tidak akan beranjak dari ibu kota sebelum menemukan adik kesayangannya itu. Tapi selama tiga tahun lebih menetap di ibu kota, sudah segala sudut dia datangi, tak sekalipun Zaki mendengar kabar atau melihat Anya. Yah, ibu kota memang tak seberapa luas. Tapi bukan perkara mudah untuk menemukan orang tanpa informasi yang cukup. Dan sekarang Zaki merasa sangat lega saat bisa berjumpa kembali dengan Anya.
Tiba di kota kelahirannya, Anya dan Zaki langsung menuju ke rumah sakit tempat Ayahnya dirawat. Mereka langsung mendekat begitu melihat Ibunya duduk di ruang tunggu dengan wajah yang terlihat lelah. Tapi, tiba-tiba perhatian Anya beralih pada seorang pria muda yang duduk disamping Ibunya. Seorang pria yang terlihat familiar dan amat dikenalinya. Untuk apa laki-laki itu ada disini?
Zaki segera memghampiri sang Ibu, mencium tangannya lalu memeluk Ibunya erat-erat.
"Gimana Bapak Bu?", tanya Zaki dengan nada khawatir.
"Bapakmu belum sadar le, banyak-banyak berdoa, yang terbaik buat Bapakmu..."
"Ya Bu, saya datang sama Anya Bu..",
Anya yang dari tadi sempat mematung, baru sadar lalu segera menyalami Ibunya.
__ADS_1
"Kamu juga datang nduk? Bapakmu pasti senang sekali kalau tahu kamu datang..."
Anya hanya tersenyum. Ibu menyadari tatapan Anya beralih pada pria yang duduk disampingnya.
"Oh ya, tadi Husein yang mengantar Bapak ke rumah sakit, kenapa kamu nggak bilang-bilang kalau teman kamu datang Anya?"
Husein lalu berdiri dan mendekati Anya.
"Maaf Bu, saya memang tidak memberitahu Anya, maaf jadi seperti ini kejadiannya.."
Anya hanya menatap Husein sekilas dengan tatapan tajam, lalu kembali beralih pada Ibunya.
"Anya mau lihat Bapak bisa Bu?"
"Bisa nduk, masuklah ke dalam, ayo biar Ibu temani, siapa tahu kalau mendengar suaramu Bapakmu akan lebih tenang..."
__ADS_1
Anya masuk bersama Ibunya. Wajah ayahnya terlihat tenang, meski banyak peralatan penunjang yang menempel di tubuhnya.
"Bapak, ini Anya datang Pak...Bapak kenapa jadi begini? Maafin Anya Pak, Anya banyak salah sama Bapak dan Ibu....Anya sering buat masalah sampai Bapak kepikiran dan jadi seperti ini.."
Anya mengenggam tangan Ayahnya dan menangis tanpa suara. Setelah bertemu kembali dengan orangtua dan keluarganya Anya paham apa yang terjadi sebenarnya. Bagaimanapun juga orangtua akan selalu memyayangi dan mengkhawatirkan anak-anaknya. Dan masalah yang dibuatnya di tambah kepergiannya tanpa kabar menjadi beban pikiran bagi Ayah dan Ibunya.
Ibu berdiri di belakang Anya sambil mengelus kepala Anya dan menepuk-nepuk punggung Anya.
"Sudah nduk...sudah...jangan menangis disini...nanti Bapakmu sedih, kita doakan saja, semoga Bapakmu lekas sadar dan bisa kembali pulih...sebaiknya kita keluar dulu nduk, biarkan Bapakmu istirahat..."
Anya baru saja ingin beranjak dan melepaskan genggaman tangannga dari tangan Ayahnya. Tapi tiba-tiba, tangannya kembali ditarik dan digenggam.
Anya mengamati wajah Ayahnya yang sedang berusaha membuka matanya dengan susah payah.
"Sepertinya Bapak sudah sadar Bu..."
__ADS_1