
Adrian kembali tertawa saat Anton telah selesai menyiapkan air mandi untuknya dan keluar dari kamarnya. Dia merasa sangat puas dan senang bisa mengerjai Husein yang kini tak berdaya.
"Akhirnya, tiba juga waktu yang ditunggu-tunggu, sekarang giliranku untuk bermain -main dan lihatlah apa yang kau bisa kau lakukan Tuan, hahahaha"
Adrian tertawa sendirian seperti orang gila. Dendamnya perlahan-lahan akan terbalaskan dengan sangat sempurna.
Sementara ini cukup, sekarang waktunya Adrian bersiap untuk pergi ke kantor dan fokus dengan pekerjaannya. Tapi nanti sore, saat dia pulang, dia pasti akan melanjutkan permainannya dengan lebih seru.
Sore itu, Adrian pulang lebih cepat karena badannya terasa lelah dan kurang enak. Mungkin juga karena belakangan ini kepalanya banyak pikiran. Tapi ditengah sakitnya, Adrian tetap saja ingin mengerjai Husein alias Anton.
"Anton!", Paggilnya begitu Adrian sampai di rumahnya.
"Ya Tuan?"
__ADS_1
"Bagaimana? Apa rumah sudah kamu bersihkan semua hari ini? Jangan lupa bersihkan langit-langitnya juga, lihat mulai ada sarang laba-laba disana!"
Anton menghembuskan nafasnya, mencoba menahan kesabarannya. Seharian itu dia bahkan belum sempat beristirahat. Pekerjaannya baru saja selesai dan dia baru saja mandi untuk membersihkan dirinya. Dan sekarang Tuan Adrian sudah kembali memanggilnya. Memangnya berapa lama seharusnya jam kerjanya? Apakah dia diharuskan bekerja sepanjang hari tanpa berhenti? Apa memang begini nasib para pekerja yang bekerja di lingkungan rumah tangga?
Ada hal lain yang terasa janggal bagi Anton. Sejak awal tiba dirumah ini dia selalu di awasi oleh Toni. Ya, Toni hanya mengawasinya tanpa melakukan pekerjaan apapun. Hanya dirinyalah yang disuruh bekerja. Jadi sebenarnya, siapakah Toni dan apakah statusnya disini? Semula Anton berfikir bahwa Toni adalah pekerja di rumah Tuan Adrian sama seperti dirinya, tapi sepertinya bukan. Setidaknya Toni bukanlah pekerja biasa. Sebab Tuan Adrian tidak menyuruhnya melakukan pekerjaan apapun sepertinya. Dan sepertinya Toni hanya disuruh mengawasinya saja. Apakah Toni masih ada hubungan kerabat dengan Tuan Adrian? Tapi pertanyaan itu hanya bisa dipendamnya saja, sebab Anton tidak berani bertanya.
Meskipun merasa lelah, tapi Anton tetap harus menuruti perintah tuannya itu. Tak berselang lama setelah Anton mulai mengerjakan tugasnya, terdengar suara bel pintu berbunyi. Tapi sepertinya tidak ada orang yang akan keluar untuk membukanya. Berkali-kali bel itu kembali berbunyi dan tak terlihat tanda-tanda orang akan membukakan pintu. Dan Anton menjadi bimbang. Anton masih ingat benar peraturan yang diberikan Tuan Adrian, bahwa dirinya tidak boleh melewati ruang tamu, apalagi sampai keluar rumah. Tappi disisi lain suara bel terus berbunyi dan suaranya cukup memekakan telinga. Tampaknya tamu di depan sudah mulai tidak sabar.
Dia adalah seorang wanita yang cukup cantik dan sepertinya Anton merasa pernah melihatnya, entah dimana.
Wanita itu berhenti dan tertegun ketika melihat Anton berdisi sambil masih memegang gagang sapu panjang yang digunakannya untuk membersihkan langit-langit.
"Hu..Hesein..."
__ADS_1
Wanita itu memandangnya sambil menyebut sebuah nama yang entah mengapa terdengar tidak asing di telinga Anton.
"Anton, namanya Anton!"
Sebuah suara menggelegar memotong kata-kata wanita itu.
"Perkenalkan, dia adalah Anton, pelayan baruku, mulai sekarang kamu bisa memanggilnya Anton, mengerti?"
"Oh...baiklah, salam kenal Anton, semoga kamu betah bekerja disini..."
"Tentu saja dia akan betah bekerja denganku, karena aku akan memperlakukannya dengan sangat baik, benar begitu, Anton?"
"Be..benar Tuan, saya sangat suka tinggal dan bekerja disini..", terpaksa Anton menjawab dengan dusta.
__ADS_1