Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 38


__ADS_3

Entah setelah berapa ratus lamaran yang sudah dia sebarkan, akhirnya Anton mendapatkan satu panggilan wawancara. Satu saja, tapi itu sangat berarti. Dan harapan itu mulai datang di saat Anton mulai putus asa.


Maka pagi itu, dengan sepenuh hati Anton telah mempersiapkan diri, memakai pakaian terbaik juga berpenampilan sebaik-baiknya. Sebab Anton tahu sang pemilik toko tertarik padanya karena Anton punya wajah yang lumayan. Biarkan saja dia sedikit narsis. Sesekali mengandalkan rupa pemberian Tuhan tidak ada salahnya. Sebab jika ditinjau dari sisi kepintaran, keahlian dan pendidikan dia memang minus.


Anton akan menajalani tes wawancara di sebuah gerai pakaian yang cukup besar di kota itu. Posisinya adalah sebagai pelayan. Tugasnya adalah berdiri sambil tersenyum manis dan membantu pengunjung agar lebih mudah dalam berbelanja. Tugas lainnya adalah membersihkan dan merapihkan barang-barang, sebelum toko buka dan setelah toko tutup. Pekerjaan yang lumayan cocok sepertinya. Setelah wawancara selesai, Anton langsung dinyatakan diterima untuk bekerja disana. Alangkah senang hati Anton. Akhirnya perjuangannya tidaklah sia-sia. Mungkin bagi orang pekerjaan sebagai pelayan bukanlah apa-apa, tapi bagi Anton pekerjaannya adalah segalanya. Karena dengan bekerja setidaknya Anton ingin mengembalikan harga dirinya sebagai laki-laki, walaupun untuk itu Anton masih harus bersabar sebentar lagi. Apalagi kalah bukan menunggu uang gajian, agar bisa memberikannya sebagian kepada Anya, untuk sekedar membantu biaya hidup sehari-hari.


Tapi ternyata harapan tak sesuai kenyataan. Sebab gajinya selama tiga bulan pertama hanya diberikan setengahnya, dan uang itu langsung habis untuk biaya transportasinya sehari-hari.


"Tidak papa, tidak perlu dipikirkan, fokuslah pada pekerjaanmu saja. Kalau pekerjaanmu bagus mereka pasti akan mempertahanmu dan meberikan gaji yang lebib pantas...", begitu hibur Anya.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih banyak", jawab Anton dengan tidak begitu bersemangat.


Dan kemudian Anton kembali menjalani pekerjaannya seperti biasa. Yang awalnya sangat bersemangat, kini Anton hanya menjalaninya dengan biasa saja. Mungkin karena perasaan kecewanya. Ternyata begitulah nasib orang kecil, meski sudah berusaha dengan segenap usaha, tapi ternyata hasilnya tetap tak seberapa. Yang bisa dilakukan Anton hanya tetap bersabar sambil menjalani hari-harinya dengan optimis.


Hari itu, seperti biasa Anton sedang bertugas sebagai pelayan toko. Anton sudah selesai membersihkan toko. Dan kemudian berdiri di bagian depan, siap untuk menunggu pembeli. Dari kejauhan Anton bisa melihat seorang wanita cantik berjalan ke arah toko sambil berbicara di telepon. Sepertinya wanita itu calon pelanggan yang cukup potensial, begitu pikirnya. Tapi kemudian seorang anak kecil menjatuhkan sebuah baju, sehingga Anton harus berjongkok untuk mengambilnya. Dan saat itulah seorang perempuan cantik yang tadi sempat diamatinya menabraknya tanpa sengaja. Perempuan itu sempat terjatuh dan Anton berusaha membantunya untuk kembali berdiri. Tapi entah mengapa kemudian, perempuan itu justru menatapnya dengan pandangan terkejut.


"Hu...Husein...kamu...kenapa bisa ada disini..?", tanya wanita itu dengan tergeragap.


"Kamu...kamu masih hidup Mas Husein, kamu kemana saja selama ini?"

__ADS_1


Anton bingung, tapi kemudian dia bisa menangkap maksud wanita itu.


"Apakah mbak mengenal saya?", tanya Anton kemudian.


"Kamu...apa tidak mengenali saya?"


"Maaf Mbak, saya mengalami amnesia atau hilang ingatan karena kecelakaan...kalau mbak memang mengenal saya, tolong jelaskan pada saya, mungkin itu bisa sedikit membantu saya...", terang Anton dengan jujur.


Namun kemudian, wajah wanita itu justru berubah menjadi ketakutan.

__ADS_1


"Tidak...saya tidak mengenal kamu, sepertinya saya hanya salah orang...."


Wanita itu kemudian berlari dan menghilang begitu saja. Meninggalkan sejuta pertanyaan di benak Anton.


__ADS_2