
Husein menjadi bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapakah dirinya sebenarnya? Siapa saja keluarganya sebenarnya? Semua masih terasa abu-abu. Bahkan orang-orang yang telah dipercayanya sebagai keluarga masih menyembunyikan sesuatu darinya.
Husein mengenali wanita itu sebagai Fara, perempuan yang ditemuinya di rumah Tuan Adrian saat dirinya masih bekerja di rumah lekaki itu. Tapi, bagaimana mungkin perempuan itu adalah istrinya? Dan lagi, istrinya sendiri yang menjadi dalang dalam pembunuhan dirinya? Berbagai macam pertanyaan terus berputar di kepalanya dan membuatnya frustasi. Hubungan macam apa yang dibinanya bersama sang istri. Apa dirinya begitu jahat sampai istrinya menyimpan dendam dan ingin membunuhnya? Suami macam apa dirinya dimasa lalu? Kenapa begitu sulit untuk mengingat dan menemukan jati dirinya sendiri?
Yang dipikirkan Husein saat ini, dia tidak bisa mempercayai siapun. Tidak Hasan atau pun keluarganya yang lain.
Husein tersadar saat mendengar suara pintu kamar sebelah diketuk, yang berarti itu adalah pintu kamarnya. Pasti itu pelayan pribadinya yang datang mengantarkan apa yang dimintanya. Sepertinya sudah terlalu lama Husein berada dalam kamar Hasan. Buru-buru Husein mematikan laptop dan menutupnya. Lalu keluar dari kamar Hasan dengan membawa sejumlah baju.
"Aku sedang mengambil beberapa baju Hasan!", jelas Husein agar pelayannya tak curiga.
"Letakkan semua itu dikamarku!"
Perintah Husein, lalu membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan pelayan itu masuk.
"Silahkan Tuan, ini semua yang tadi anda minta..."
"Baik, terimakasih banyak, kau bisa keluar sekarang...dan tolong jangan katakan pada siapapun kalau aku masuk ke kamar Hasan..."
Sejenak pelayan itu memandang Husein, seperti menimbang sesuatu, sebelum kemudian mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah Tuan, saya permisi dulu..."
Sepeninggal pelayan itu, Husein memilih merebahkan dirinya di tempat tidur. Pagi ini dirinya sedang tidak ada agenda apapun, Hasan bilang sore nanti akan mengajaknya memancing. Yah, Husein akan menggunakan kesempatan itu untuk menanyakan beberapa hal.
Sore itu, Husein sudah bersiap, mandi dan berpakaian rapi. Katanya, Hasan akan pulang lebih awal untuk bisa pergi bersamanya.
Seperti yang dijanjikan, Hasan benar-benar pulang lebih awal, bersiap sebentar, lalu keluar menemuinya.
"Ayo, kau sudah siap?"
"Ya, aku sudah siap.."
"Apa kau tidak lelah, harus pergi lagi setelah seharian bekerja? Kalau sibuk kau tidak perlu repot-repot mengajakku pergi..."
"Aku lelah, kerena itu aku ingin pergi memancing denganmu untuk merilekskan tubuh dan pikiranku..."
"Kau tahu, dulu kita berdua sering melakukan ini...hanya kau dan aku..."
Hasan seperti sedang mengenang sesuatu dengan pandangan menerawang. Hasan mengenang acara memancing terakhir mereka sebelum kecelakaan terjadi. Dimana Husein menceritakan kehamilan istrinya dengan begitu bahagia.
__ADS_1
Akhirnya sampai juga mereka ke tempat yang dituju. Sebuah danau buatan yang cukup indah dan tenang, juga sepi pengunjung. Pantas saja Hasan suka pergi kesini, suasananya sangat teduh dan menentramkan hati.
Mereka mulai memasang umpan dan melemparkan pancingan ke danau. Sesaat suasana terasa syahdu. Suara riak air dan kicau burung berpadu
"Hasan, sebenarnya bagaimana kecelakaan itu, apakah tersangkanya sudah ketemu?"
Tanya Husein memecah keheningan. Pertanyaan itu membuat Hasan cukup terkejut.
"Kamu, fokuslah pada pengobatan dan pemulihanmu, urusan tersangka biarlah ditangani pihak yang berwajib...", jawab Hasan mencoba mengelak.
"Tapi aku penasaran, apa tersangkanya sudah ketemu? Apakah dia punya dendam padaku? Apa aku dulu orang yang jahat dan punya banyak musuh?"
Husein membrondong Hasan dengam berbagai pertanyaan yang ada di kepalanya.
"Tidak, kamu orang yang baik. Tersangkanya adalah lawan bisnis kita. Dia ingin menjatuhkanmu untuk menghancurkan bisnis keluarga!"
Hasan menjawab dengan gamblang, agar tidak ada lagi pertanyaan terlontar dari mulut Husein.
"Oh, jadi begitu...baiklah..."
__ADS_1
Husein tahu, Hasan mungkin tidak ingin dirinya tahu dan terluka. Jadi mulai sekarang, Husein hanya akan mencari kebenarannya sendiri.