
Saat mendengar pintu pagar di buka, Anya langsung nerlari ke depan dan mengintip lewat jendela. Benar itu Anton. Begitu batinnya. Tapi karena tidak ingin terlihat terlaku antusias, Anya kembali ke ruang tengah dan duduk di depan televisi. Bahkan Anya tetap bergeming saat Anton membuka pintu dan masuk sendiri.
"Assalamualaikum..."
Anton mengucap salam setengah berteriak.
"Walaikumsalam...", Anya menjawabnya sambil tetap duduk di sofa.
Sampai kemudian Anton menghampirinya dan duduk disamping Anya, barulah Anya mulai bertanya, Menumpahkan semua rasa penasaran yanh sedari tadi dipendamnya.
"Bagaimana tadi? Kamu tidak apa-apa kan? Apa sempat jatuh dijalan?", tanya Anya dengan khawatir.
Yah, Anya memang lebih mengkhawatirkan keadaan Anton yang dinilainya masih terlalu lemah.
"Tidak...aku tidak apa, aku berjalan pelan-pelan dan sangat berhati-hati...lagi pula aku naik kendaraan umum, bukannya terus berjalan..."
"Baguslah kalau begitu..."
"Hanya itu yang ingin kamu tanyakan? Tidak penasaran dengan dimana saja aku melamar kerja dan bagaimana hasilnya?"
"Memangnya bagaimana hasilnya? Apa sudah ada?"
"Belum, aku hanya baru memasukkan surat-surat lamaran saja..."
__ADS_1
"Sudah kuduga...dan lebih baik jangan terlalu berharap..."
"Kenapa? Kau tidak yakin kalau aku bisa?"
"Bukan begitu, kamu boleh saja bersemangat dan berusaha sebaik mungkin, tapi jangan berharap terlalu tinggi karena itu akan membuatmu sakit..."
"Baiklah..."
Anya kemudian masuk ke kamarnya untuk tidur.
Anton masih sangat bersemangat dan tidak terlalu perduli dengan kata-kata Anya.
Tapi yang terjadi kemudian, berhari-hari Anton terus berkeliling untuk mencari pekerkaan, tapi hasilnya nihil. Seolah tidak ada satupun orang ataupun perusahaan yang membutuhkan orang sepertinya. Jangankan ditolak, dipanggil untuk wawancara pun tidak. Ketika itu Anton barulah merenungi kebenaran kata-kata Anya. Ternyata tidak mudah mencari pekerjaan bagi orang rendahan sepertinya. Dan perlahan-lahan, semangat Anton yang sempat berkobar kini menjadi redup.
"Oh, tidak apa-apa..."
"Tidak mungkin, wajahmu terlihat murung, tidak bersemangat seperti biasanya?"
"Benarkah? Aku....aku...belum juga mendapatkan pekerjaan Anya..."
Anya lalu tersenyum sambil menyodorkan minuman boba yang telah diminumnya separuh kepada Anton.
"Minumlah, ini enak sekali, rasa coklat yang manis, mungkin bisa sedikit mendinginkan kepalamu..."
__ADS_1
Anton terkekeh, tapi tak urung meminumnya dan ternyata sangat enak.
"Benar apa katamu, seharusnya aku tidak terlalu berharap..."
"Dan jangan terlalu bersedih, kamu bukanlah satu-satunya orang yang kesulitan mencari kerja, mungkin ada ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang yang memiliki nasib sama sepertimu di negeri ini...jadi tidak usah berlebihan.."
"Hahaha", dan Anton kembali tertawa.
"Aku juga pernah merasakannya, dan rasanya sungguh menyakitkan dan amat tidak berdaya...disaat kita benar-benar membutuhkan, tapi tidak bisa melakukan apa-apa", pandangan Anya menerawang, mengingat kembali peristiwa paling menyakitkan dalam hidupnya.
"Ya aku tahu, tapi Anya aku tetap akan terus mencoba dan tidak akan menyerah. Bagaimanapun hasilnya nanti, bukankah tugas kita hanya berusaha, lalu menyerahkan hasilnya pada yang Maha Kuasa?"
sesaat Anya tertegun mendengar kata-kata Anton baru saja.
"Kenapa kata-katamu bagus sekali, apa jangan-jangan sebenarnya kamu adalah ustadz?",
"Ah, Anya zaman sekarang semua orang pandai bicara, tapi hanya sedikit orang yang memegang sendiri kata-katanya..."
"Atau jangan-jangan kamu seorang motivator?", tanya Anya lagi sambil tersenyum jahil.
"Ah sudah-sudah...kepalaku pusing..aku mau tidur dulu...",
Anton pura-pura merajuk, lalu berjalan masuk ke kamarnya. Tubuhnya benar-benar lelah setelah berhari-hari terus berkeliling tanpa hasil. Pikirannya juga suntuk, tak bisa lagi berfikir jernih. Tapi setidaknya, kini suasana hatinya sudah lebih baik setelah berbincang dan bercanda dengan Anya.
__ADS_1