
"Dasar anak keras kepala, bagaimana mungkin dia berani bicara seperti itu padaku! Niatku kan baik, lagi pula sampai sekarang dia tidak juga punya kekasih..."
Mendengar Ayahnya mengumpat-ngumpat, Husein hanya tersenyum.
"Apa sekarang kau menertawakanku?"
"Tidak Ayah! Mana berani aku begitu?"
"Jadi di pihak mana kau berada? Aku atau Hasan?"
"Aku selalu ada diantar kalian..."
"Dasar anak bodoh, bukan begitu maksudku! Tolong bujuk kakakmu untuk menuruti keinginan Ayah.."
"Tidak akan bisa Ayah, kan Ayah tahu sendiri Hasan sangat keras kepala persis seperti Ayah!"
"Ah, kau ini! Dasar tidak berguna!"
"Sudahlah Ayah jangan berharap pada Hasan, dia memang tidak punya kekasih, tapi hatinya sudah jadi milik satu wanita..."
Tentu sedikit banyak Husein tahu tentang wanita pujaan kakaknya itu.
"Sudah jangan banyak membual, Ayah jadi pusing sekarang!"
__ADS_1
Harun bangun dari duduknya bersiap melangkah keluar dari ruang kerjanya. Tapi tiba-tiba Husein menahan tangannya.
"Tunggu dulu Ayah!"
"Ada apa anak muda?"
"Bagaimana denganku, apa kau tidak memikirkanku?"
"Kamu? Apa maksudmu?"
"Aku juga bisa melakukan apa yang Ayah minta pada Hasan!"
Harun sejenak berfikir, lalu menatap anak bungsunya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Tentu, jika Ayah mau, apa saja akan kulakukan demi Ayahku tercinta..."
Harun menatap Husein dengan pandangan penuh kasih sayang. Sejak kecil Husein memang anak yang manis, selalu bisa menyenangkan dan menenangkan hatinya, seperti sekarang ini.
"Terimakasih banyak Nak, terimakasih..."
Harun memeluk Husein erat-erat, sungguh senang dengan keputusan yang dibuat Husein.
Setelah sepakat dengan keputusan itu, mereka lalu memberitahu Hasan dan seluruh anggota keluarga lainnya. Hasan sangat senang dengan keputusan itu. Itu berarti dirinya bisa lepas dari jerat permintaan Ayahnya yang konyol.
__ADS_1
"Ayah, tapi apa Fara akan setuju?", tanya Husein dengan ragu-ragu. Bukan Ayahnya yang menjawab, tapi justru Hasan.
"Aku tau kau belum berpengalaman masalah wanita, tapi janganlah terlalu polos! Dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan mengulanginya. Dekatilah Fara dengan perlahan tapi pasti. Jangan pernah mengatakan kamu ingin menikahinya karena perintah Ayah atau karena ingin menebus kesalahan. Satu-satunya alasan yang diinginkan wanita untuk menikah adalah karena cinta, ingat itu! Dekatilah dia, beri perhatian, dengarkan dan manjakanlah dia, katakan kau mencintainya, setelah itu baru kau boleh melamarnya. Bagaimana, apa kau mengerti?"
"Aku sangat mengerti Hasan, tapi alangkah baiknya jika kau juga mempraktekkan teorimu ini!"
"Sialan kau!"
Harun hanya tertawa menyaksikan tingkah kedua putranya.
"Sudahlah, terserah kalian bagaimana caranya, aku ingin dalam waktu satu bulan kalian sudah menikah!"
Satu bulan rasanya waktu yang terlaku cepat, tapi Husein memilih menerima tantangan itu.
"Baiklah Ayah, dalam satu bulan aku akan menikahinya..."
Dan benar saja, Husein langsung mempraktekkan nasehat yang diberikan Hasan, tentu dengan sedikit improvisasi.
Dalam waktu satu minggu Husein berusaha selalu ada untuk Fara, setelah itu Husein langsung menyatakan cinta sekaligus membawa cincin untuk melamar Fara.
Singkat cerita usaha yang dilakukan Husein berhasil tanpa menemukan banyak kendala. Fara menerima setelah berfikir selama tiga hari. Setelah itu lamaran secara resmi segera diselenggarakan. Dan kemudian mereka segera sibuk mengurus persiapan pernikahan. Dalam waktu kurang dari satu bulan acara akad nikah secara sederhana akhirnya bisa terlasana. Ya, hanya sederhana saja, sebab Fara masih dalam suasana berduka akibat kepergian keluarganya. Namun acara resepsi yang mewah pun akan diadakan setelah berselang enam bulan.
Begitulah akhirnya rencana pernikahan itu benar-benar terwujud dan berjalan dengan lancar.
__ADS_1