
Tanpa sadar ada seorang pria yang sejak tadi mengikuti Husein. Dari sejak menjemput Fara di lapas hingga kini Husein pergi ke rumah Anya. Pria itu mengamati setiap apa yang dilakukan Husein.
Pria itu terus saja mengikuti Husein, sampai kemudian Husein pulang dan masuk ke dalam rumah, baru pria itu berhenti. Pria itu lalu menelpon seseorang untuk melaporkan hasil pengamatannya.
"Mission complette Bos, target sudah masuk ke kandang!", lapornya pada seseorang di ujung telepon.
"Bagus, temui saya di kantor sekarang juga!"
"Siap Bos, meluncur!"
Pria itu lalu pergi menuju tempat yang di maksud. Sebuah gedung perkantoran yang berdiri megah dengan segala fasilitas nomor satu. Pria itu lalu naik ke lantai dua puluh tiga dengan menggunakan lift. Disana seseorang yang dipanggilnya 'Bos', sudah menunggunya.
"Katakan padaku, apa saja yang kau lihat?", Tanya si 'Bos' itu tanpa basa basi.
Pria itu lalu menceritakan semua yang dilakukan Husein sejak menjemput Fara di penjara, makan di restoran, mengantar Fara pulang, lalu pergi ke rumah seorang wanita. Tak Lupa pria itu menunjukkan bukti berupa foto yang diambilnya.
"Bagus, kau berhasil merekam percakapan mereka?"
"Ya.."
Pria itu sempat memasang alat penyadap di tubuh Fara, agar bisa dengan lebih mudah memantau gerak gerik targetnya.
__ADS_1
Mereka lalu mendengarkan isi percakapan Fara dan Husein saat di restoran dan setelah tiba di apartemen.
"Sialan!", umpat si 'Bos' dengan jengkelnya.
"Kau awasi terus gerak gerik wanita licik itu dan laporkan padaku kalau ada yang mencurigakan"
"Siap Bos!"
Sebelum Fara masuk, pria itu juga sempat memasang beberapa kamera tersembunyi di beberapa sudut apartement.
"Oh ya, ada satu lagi!"
"Apa Bos?"
Kata Hasan sambil mengangsurkan secarik kertas.
"Baik Bos..."
Hasan tahu, dia harus bertindak dengan cepat agar adik kesayangannya tidak jatuh ke lubang yang sama. Dia tidak akan menunggu lebih lama untuk mengurus semuanya.
Keesokan harinya, orang suruhannya sudah melaporkan tentang seluk beluk jaringan prostitusi dimana Bela Irawan sebagai mucikari yang terjun langsung mengurus para wanita malamnya.
__ADS_1
Jaringan prostitusi itu cukup eksklusive dan sangat ketat mengikat para pekerja. Bagi mereka para wanita malam itu adalah aset berharga yang tak akan dilepas begitu saja. Apalagi para wanita malam yang mereka miliki adalah wanita-wanita pilihan dengan standard usia, bentuk tubuh, juga kecantikan di atas rata-rata. Mereka hanya akan dilepas jika dianggap sudah tidak produktif dan tidak menghasilkan lagi. Dan sebelum waktu tiba, jangan harap mereka bisa melepaskan diri dengan mudah. Karena itu mereka menerapkan sistem denda dengan nominal yang tak masuk akal jika benar mereka berniat untuk keluar.
"Temani aku kesana, sekarang!"
"Baik Bos!"
Mereka lalu pergi ke markas jaringan prostitusi ilegal tersebut. Markas mereka berupa rumah mewah empat lantai yang berkamuflase sebagai kost eksklusif. Beberapa pekerja yang masih berstatus sebagai sebagai mahasiswi juga benar-benar tinggal disana.
Hasan sudah membuat janji dengan mucikari yang menaungi Anya. Dia biasa dipanggil Tante Bella. Dulunya Bella Irawan juga salah satu wanita malam yang bekerja disana. Saat karirnya sebagai wanita malam usai sebab usia, Bella memilih melanjutkan perannya sebagai mucikari.
"Anya salah satu aset potensial kami, dia memang cantik, masih segar dan muda, juga pintar membawa diri. berapa yang sanggup Anda bayar untuk menebusnya?"
Hasan lalu menyerahkan selembar cek kepada Bella.
"Apa jumlah ini tidak terlalu kecil untuk orang sekelas anda?"
"Jangan macam-macam, itu harga yang sangat pantas, meski tidak seharusnya manusia tidak diperjual belikan, terima ini lalu aku akan menutup mata. Tapi jika kau menolaknya, aku bisa mengacak-acak bisnis ilegal ini!"
Bella tahu dengan siapa dia sedang berhadapan. Tak mau mengambil resiko, bela pun langsung menyetujui tawaran itu.
"Baiklah deal! Dengan ini sekarang Anya aku bebaskan..."
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih atas kerjasamamu..."
Hasan tentu hanya menggertak saja. Hasan mungkin mampu untuk mengusik bisnis haram itu jika dia mau. Tapi bermain-main dengan para mafia yang telah terorganisir pasti akan menguras waktu, uang, energi, dan terkadang juga mengancam nyawa. Jadi kali ini Hasan hanya akan bertindak sesuai dengan kepentingannya saja.