Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 164


__ADS_3

Anya tidak menyangka bahwa jalan hidupnya akan menjadi seperti ini. Anya bahkan tidak berani bermimpi untuk menikah, apalagi dengan orang sesempurna Husein.


"Tenanglah Anya, statusku juga duda, aku bukan orang yang terlalu baik untukmu...",


Goda Husein sambil bergurau yang membuat pipi Anya langsung bersemu merah.


Tanpa sepengetahuan Anya, Husein sudah mempersiapkan semuanya. Anya hanya tinggal menyerahkan semua dokumen pribadinya kepada orang-orang suruhan Husein.


Entah bagaimana caranya, Husein sudah membuat aula rumah sakit yang lumayan luas sebagai tempat diadakannya akad nikah mereka. Design yang simple namun elegan dengan nuansa putih dan gold sudah mendominasi ruangan itu.


Rencananya acara hari itu hanya akad nikah saja. Tapi meski begitu, semua persiapan nampak begitu sempurna. Bahkan Husein memastikan surat nikah mereka tak akan ketinggalan, meski pernikahan ini didaftarkan secara mendadak. Begitulah kalau uang dan kekuasaan sudah berbicara.


"Nduk, bagaimana bisa calon suamimu menyiapkan akad nikah saja semewah ini? Bukankah ini sangat mendadak?"


"Sudahlah, Ibu tenang saja, jangan pikirkan yang macam-macam, fokus saja pada kesehatan Bapak..."


"Ya nduk..."


Orang tua Anya belum tahu siapa Husein dan keluarganya yang sebenarnya. Mereka hanya sekedar tahu bahwa Husein adalah atasan Anya.


Nanti perlahan-lahan Anya akan memberitahunya, tapi tidak sekarang. Takutnya Bapak malah jadi kambuh lagi. Kak Zaki saja sangat terkejut saat mengetahui nama belakang Husein.

__ADS_1


"Kamu beruntung sekali Anya, semoga dia benar-benar pria yang baik dan hidupmu kelak akan bahagia..."


Zaki benar-benar berharap hidup Anya akan dilimpahi kebahagian, setelah semua kesulitan hidup yang dilaluinya.


Hasan, Ayah, dan Ibu tiri Husein akhirnya datang satu jam sebelum acara dimulai. Terlihat Husein begitu lega saat melihat kedatangan keluarganya. Sebenarnya Husein telah siap jika harus melangsungkan pernikahan tanpa kehadiran keluarga, mengingat semuanya yang serba mendadak. Tapi ternyata Ayahnya dan Hasan sangat memprioritaskan dirinya dibanding semua agenda pekerjaan yang selalu padat.


"Terimakasih banyak bro, aku tidak menyangka kalian benar-benar datang..."


"Tentu saja, aku selalu menepati janjiku..."


"Ya, sekali lagi terimakasih banyak untuk semua bantuanmu selama ini..."


Semua sudah lengkap berkumpul. Penghulu, kedua mempelai, saksi, juga keluarga dari kedua pihak mempelai. Semua persiapan juga telah lengkap, dari dekorasi, surat-surat, hingga meja prasmanan juga telah tertata rapi.


Tepat pukul sepuluh akhirnya acara akad nikah dimulai.


Dengan suara lemah namun tetap terdengar jelas, Ayah Anya mengucapkan lafal ijab.


"Saudara Husein Al Rasyid bin Harun Al Rasyid, saya nikahkan dan kawinkan anda dengan putri saya yang bernama Zivanya Aisyah binti Abdullah sholeh, dengan mas kawin seratus gram logam mulia dibayar tunai..."


"Saya terima nikah dan kawinnya, Zivanya Aisyah binti Abdullah sholeh dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.."

__ADS_1


Husein menjawab dengan suara lantang dan jelas.


"Bagaimana hadirin, sah?"


"Sah...sah.."


"Alhamdulillah hirrabbilalamin...."


Setelah itu Pak penghulu membacakan doa-doa dan nasehat pernikahan. Tamu yang datang memang tidak banyak. Hanya keluarga inti dari kedua mempelai, orang dari KUA, orang-orang kepercayaan Husein, juga beberapa dokter dan perawat. Tapi semua mengikuti prosesi dengan sangat khusyuk dan suasana pun terasa sangat syahdu hingga terlihat beberapa hadirin meneteskan air mata.


Selesai dengan ijab qabul, Anya dan Husein menandatangi buku nikah secara bergantian. Setelah itu Anya dengan malu-malu mencium tangan Husein. Dan Husein pun terlihat canggung saat dipersilahkan mencium kening Anya.


Setelah itu mereka mengambil beberapa foto bersama keluarga dan kerabat yang hadir. Dan disepanjang prosesi itu Anya lebih banyak menunduk dan tersenyum dengan wajah malu-malu bersemu merah.


Mereka berdua bagaikan dua orang asing yang menikah karena dijodohkan, semua tampak begitu canggung. Anya sama sekali tak berani menatap Husein. Husein pun tampak canggung saat harus menyentuh Anya.


Tidak ada lagi obrolan akrab seperti sebelumnya. Jika saat Husein menjadi atasannya Anya masih bisa bersikap akrab dan menjadi diri sendiri, kini Anya benar-benar bingung bagaimana harus bersikap pada Husein yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya.


Setelah acara foto bersama selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama. Tapi Ayah Anya harus segera kembali ke ruang perawatan karena mulai merasa lelah. Sedangkan keluarga Husein juga langsung kembali ke ibu kota, karena memang banyak acara penting yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Husein dan Anya bisa memaklumi, karena memang pernikahan mereka sangat mendadak. Rencananya Husein ingin mengadakan acara syukuran atau resepsi nantinya agar keluarganya dan keluarga Anya bisa lebih saling mengenal dan lebih akrab satu sama lain, sekaligus mengumumkan pernikahannya kepada para kolega agar tidak menimbulkan fitnah dan salah paham di kemudian hari.


Setelah selesai menyantap hidangan, satu persatu tamu berpamitan dan beranjak pulang. Tinggalah Anya dan Husein berdua saja dan merekapun menjadi semakin salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2