
Siang itu, seperti biasa Husein menyuruh Anya memesan makan siang lewat aplikasi online
Kali ini adalah giliran Anya menentukan menu makan siang mereka. Dan Anya memilih gado-gado sebagai menu mereka kali ini. Anya duduk di sofa di dalam ruangan Husein, sedangkan Husein masih sibuk dengan laptop di meja kerjanya.
"Ini sudah jam istirahat, kau menyuruhku memanfaatkan jam istirahat kantor dengan baik, tapi kamu sendiri malah sibuk bekerja...", rutuk Anya yang kesal karena merasa diabaikan.
"Aku di bayar berdasarkan keuntungan yang di dapatkan perusahaan, sedangkan kamu di gaji sesuai dengan jam kerja, cara kerja kita jelas berbeda..."
Anya sudah ingin menjawab lagi perkataan bosnya, tapi tiba-tiba pintu di ketuk dari luar. Anya segera beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu. Ternyata makanan pesanan mereka sudah datang. Anya segera mengambil piring dan air minum lalu menghidangkannya di meja.
"Makanannya sudah siap, ayo makan dulu selagi masih hangat..."
Husein membereskan sedikit berkas-berkas di mejanya lalu menghampiri Anya.
Mereka lalu makan bersama sambil berbincang.
"Sayuran lagi? Kenapa perempuan suka sekali diet sih? Padahal badanmu sudah kecil begitu?"
"Siapa bilang aku diet, aku hanya menjaga pola makanku agar lebih sehat. Lihat disini sudah ada karbohidrat, sayuran, sekaligus protein, di masak dengan cara direbus, ditambah dengan saus kacang yang lezat, bukankah ini adalah kombinasi yang sempurna..."
"Ya, tapi tidak ada salahnya juga sesekali menikmati makanan enak yang berminyak dan bersantan..."
"Buatku ini makanan enak, dan sepertinya menu makan siang kita akan seimbang sehari menu pilihanku dan sehari lagi menu pilihanmu...."
"Ya, kurasa begitulah cara yang terbaik agar kita bisa sehat dan tetap bahagia, hahaha..."
Mereka lalu mulai makan dengan lahapnya.
__ADS_1
"Enak juga ternyata makanan seperti ini...", puji Husein di tengah-tengah menyantap makanannya. Anya tersenyum penuh kemenangan.
Dan kemudian suara ketukan pintu kembali terdengar. Anya masih asyik mengunyah makanannya sedangkan Husein sudah selesai.
Husein berteriak agar orang itu masuk saja, tapi suara ketukan pintu terdengar semakin keras. Husein merasa aneh, sebab biasanya orang kantor akan langsung masuk begitu dia mempersilahkan.
"Lanjutkan makanmu, biar aku yang buka!"
Anya menurut dan kembali duduk.
Husein berjalan dan membukakan pintu. Betapa terkejutnya Husein saat melihat siapa yang datang. Seorang wanita yang tidak ingin dilihatnya lagi.
"Untuk apa kamu kesini?", tanya Husein dengan nada tak suka.
Tanpa di duga Fara langsung maju memeluk Husein. Husein yang tak siap membeku beberapa saat sebelum akhirnya mendorong tubuh Fara menjauh.
"Ini adalah kantor tempatku bekerja, seharusnya kamu tidak datang kesini..."
"Tapi kamu tidak pernah pulang kerumah dan aku tidak bisa menghubungimu, dan jadi kupikir satu-satunya cara bertemu denganmu adalah menemuimu disini..."
"Kamu bukan lagi istriku!"
Bentak Husein dengan suara keras.
"Kita belum resmi bercerai Husein..."
Mendengar percakapan itu, Anya merasa risih. Sepertinya dia terjebak di tempat dan waktu yang salah. Dengan mengendap-endap Anya berjalan menuju pintu, tidak jauh dari tempat sepasang suami istri itu berdebat.
__ADS_1
Tapi sebelum Anya benar-benar keluar, tangan Husein mencengkramnya.
"Mau kemana?"
Anya terlihat salah tingkah dan bingung mencari jawaban.
"Duduk dan lanjutkan makanmu!"
, perintah Husein kemudian.
"Aku mau ke toilet...", jawab Anya beralasan.
"Masuk dan gunakan toilet yang ada di ruanganku!"
Perintah Husein lagi.
Anya pun kembali masuk dan terpaksa kembali mendengar perdebatan Husein dan istrinya.
"Kita sudah bercerai secara agama, dan tinggal menunggu waktu untuk bercerai secara negara, pergilah dengan baik-baik...aku tidak ingin berbuat kasar!"
"Siapa perempuan itu? Apa karena dia, kamu ingin menceraikanku?"
"Jangan mencari kambing hitam, dia asisten pribadiku, kamu tahu kenapa aku menceraikanmu..."
"Baiklah, aku pulang dulu...sampai bertemu kembali..."
Fara melangkah dengan tenang meninggalkan kantor suaminya. Fara berjalan sambil tersenyum, sepertinya dia akan menemukan alasan baru untuk membuat perceraian mereka menjadi rumit.
__ADS_1