Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 86


__ADS_3

Kabar bahwa suami Dokter Alina kecelakaan ternyata benar adanya. Teman-teman di komunitas mengajak Anya ikut menjenguk beramai-ramai. Tapi Anya jelas menolaknya. Bertemu dengan Heru adalah hal yang sangat dihindarinya, bagaimanapun keadaannya. Anya tidak mau mengambil resiko dengan nekat mendatangi pria itu. Anya memilih untuk pulang, berpisah dengan Fitri yang pergi menjenguk suami dokter Alina bersama teman-teman lainnya.


Anya merasa amat benar dengan pilihannya. Tapi kemudian, sepulang dari rumah sakit, Fitri langsung menghampiri Anya di kamarnya.


"Kamu sudah pulang?", tanya Anya saat membukakan pintu untuk Fitri.


"Ya, keluarlah sebentar, Dokter Alina mencarimu?"


Anya terkejut mendengar itu.


"Ada apa memangnya?"


"Entahlah, katanya dia ingin bicara berdua denganmu..."


"Baiklah, tunggu sebentar..."


Anya menyisir rambutnya dan merapikan pakaiannya, sebelum akhirnya keluar untuk menemui Dokter Alina.


"Selamat siang, maaf tadi saya tidak ikut menjenguk...", kata Anya begitu bertemu Dokter Alina.


"Tidak apa-apa, apa kita bisa keluar sebentar? aku ingin bicara berdua denganmu..."


"Ya, saya akan ganti pakaian dulu..."


"Baiklah, terimakasih banyak..."


Sepanjang perjalanan Anya terus saja menerka-nerka, hal apa yang akan dibicarakan Dokter Alina sampai mengajaknya keluar. Apakah begitu penting?


Suasana di dalam mobil hanya hening. Dokter Alina yang biasanya ramah kini hanya diam. Wajahnya terlihat sembab dan sendu. Seperti orang habis menangis semalaman. Anya merasa iba, tapi tidak berani buka suara. Sedikit banyak Anya tetap merasa bersalah, telah menjadi duri dalam rumah tangga orang lain, meski dia tidak menginginkannya.


Akhirnya mereka sampai di sebuah cafe yang lumayan sepi.

__ADS_1


Dokter Alina mengajaknya masuk dan duduk di sudut ruangan.


"Mau pesan apa?", tanya Dokter Alina sambil mengangsurkan buku menu.


Anya melihat sekilas, kalu menjawab cepat.


"Cappucino..."


"Makanannya?"


"Tidak usah, saya masih kenyang..."


"Baiklah, dua capoucino dan dua friend fries..."


"Baik..."


Pelayanpun pergi meninggalkan mereka.


"Tidak apa-apa Dok, ada apa?"


"Jangan panggil saya, paggil Alina saja, kalau kamu segan kamu boleh panggil mbak karena saya lebih tua dari kamu.."


"Baik mba...mbak.."


"Anya, kamu tahu hari dimana saya mengantarmu ke rumah dan suamiku ingin membawamu?"


"Hmm, ada apa sebenarnya?"


"Hari itu suami saya menyetir dalam keadaan kacau dengan kecepatan yang sangat tinggi dan menabrak pembatas jalan..."


"Astaghfirullah..."

__ADS_1


Anya cukup terkejut, karena tidak menyangka kecelakaan yang menimpa Dokter Heru terjadi di hari itu.


"Kecelakaan itu berakibat cukup fatal, sampai sekarang suami saya masih terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma..."


"Saya turut prihatin, semog suami anda bisa segera sadar dan pulih..", ucap Anya dengan tulus.


"Ya semoga saja...Anya saya tahu suami saya lah yang datang kepadamu dan menganggumu. Bahkan karena hal itu kamu sampai harus berpindah-pindah. Saya ingin meminta maaf dan meminta kamu untuk mengikhlaskan kesalahan suami saya, agar dipermudah jalan suami saya kedepannya..."


Mendengar itu hati Anya turut terenyuh. Betapa baik dan lembutnya hati Dokter Alina.


"Mbak...saya tidak pantas menerima permintaan maaf dari mbak, justru saya yang seharusnya meminta maaf...saya sudah memaafkan dan mengikhlaskan semua, saya hanya ingin hidup dengan tenang..."


"Ya...terimakasih banyak Anya.."


"Mbak, boleh saya tanya sesuatu?"


Sebenarnya Anya merasa tidak pantas untuk bertanya, tapi Anya sungguh penasaran.


"Silahkan?"


"Kenapa Mbak bisa sebaik ini? Apakah mbak tidak merasa sakit hati dengan semua perlakuan Dokter Heru, yang menurut saya sudah keterlaluan..."


"Tentu saya sangat sakit hati, tapi dia adalah suami saya, ayah dari anak-anak saya, baik dan buruknya sudah saya terima dan saya hanya ingin menunaikan kewajiban saya kepada sang pencipta sebagai seorang istri..."


"Semoga suami anda lekas sembuh dan segera sadar akan kesalahannya. Mbak Alina wanita yang sangat baik, tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu..."


Mendengar itu, Alina hanya bisa tersenyum dengan mirisnya.


"Saya tidaklah sebaik yang kamu lihat, setiap orang punya aib, dan saya beruntung Tuhan masih menutup aib saya rapat-rapat..."


Anya tidak ingin bertanya dan bicara lebih jauh lagi menyangkut kehidupan pribadi seseorang. Setelah itu Anya dan Dokter Alina menghabiskan minuman dan makanannya, lalu kemudian Dokter Alina mengantarkan Anya pulang.

__ADS_1


__ADS_2