
Hari itu juga Husein pulang kembali ke jakarta. Husein memilih langsung pulang ke rumahnya dan sama sekali tidak datang ke kantor hari itu. Meski begitu Husein tetap memantau beberapa pekerjaan lewat emailnya. Perjalanannya ke kota kelahiran Anya memang hanya memakan waktu yang tak seberapa. Tapi pertemuannya dengan Ibu Anya benar-benar menguras pikiran dan emosinya sehingga Husein merasa amat lelah. Husein bisa merasakan ketulusan dan kesungguhan dari suara Ibu Anya. Ketulusan dan kedalaman cinta dari seorang Ibu untuk anaknya yang tak akan pudar meski sebesar apapun kesalahan yang dilakukan seorang anak. Hal itu kemudian mengingatkan Husein tentang Ibunya sendiri. Ibu kandung yang kini tak mungkin di jangkau nya lagi, kecuali hanya di dalam doa.
Hubungan Anya dan keluarganya ternyata tak jauh berbeda dengan hubungan Husein dan Ibunya dulu. Hubungan yang terhalang oleh prasangka dan kesalahpahaman. Hanya saja sudah terlambat bagi Husein untuk datang dan bertemu Ibunya, sebab Ibunya telah tiada. Tapi Anya masih punya kesempatan itu. Jadi Husein telah bertekad untuk meyakinkan Anya agar bertemu keluarganya. Kesalahpahaman itu harus diluruskan, agar Anya tak menyesal nantinya.
Malam itu Husein memilih tidur lebih awal untuk mengistirahatkan pikirannya. Besok Husein akan berangkat kerja seperti biasa, lalu kemudian Husein ingin mengajak Anya pergi ke suatu tempat.
Akhirnya pagi yang di tunggu tiba. Husein berangkat lebih pagi hati itu. Sampai di kantor Husein terus melihat rekaman CCTV yang ada di ruangannya. Mengamati kalau-kalau Anya sudah datang. Dan begitu Anya duduk di kursinya, Husein langsung menelpon dan menyuruh Anya ke ruangannya.
"Selamat pagi, tugas apa yang harus kukerjakan sepagi ini?",
"Ikutlah denganku, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat..."
Husein bicara sambil mengemasi beberapa barangnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaan?", tanya Anya yang agak ragu dengan perintah atasannya.
"Anggap saja begitu...",
__ADS_1
Tanpa memperdulikan tanggapan Anya Husein berjalan kekuar dari ruangannya.
"Ambil tas mu dan ikuti aku!"
Mau tidak mau Anya menurut dan mengekor di belakang Husein.
Sopir sudah menunggu di lobby, Husein membukakan pintu untuk Anya, lalu Husein masuk dan duduk disamping Anya.
"Jalan!", perintah Husein pada sopirnya.
Mobilpun melaju, menyusuri jalanan padat ibu kota di pagi hari.
"Untuk apa kita keseni?", tanya Anya dengan heran.
"Aku ingin berziarah ke makam Ibuku, tolong temani aku, kamu tidak keberatan kan?"
"Makam ibumu?", Anya belum mengerti.
__ADS_1
"Ya, makam Ibu kandungku..."
"Oh..maaf.."
"Tidak apa-apa, ayo..."
Husein pun melangkah menuju pusara Ibunya. Anya mengikuti Husein tanpa banyak bertanya lagi.
Di depan sebuah pusara, Husein nampak khusyuk melantunkan doa-doa hingga air matanya jatuh berurai. Anya berdiri di dekat Husein, sambil sesekali mencuri pandang ke arah atasannya itu.
Anya tidak berani bicara atau menyela, hanya terus berdiri di samping Husein. Anya baru tahu, jika Ibu kandung Husein telah tiada.
Husein lalu bersimpuh di depan pusara Ibunya yang telah tiada. Husein terus melafalkan doa-doa, sesekali tersenyum, lalu kemudian menangis, lalu sedikit mengajak ibunya bercakap-cakap. Anya menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang pilu. Bagaimanakah kabar Ibu dan Ayahnya? Tiba-tiba Anya merasa rindu.
Setelah puas berdoa dan menumpahkan kerinduannya, akhirnya Husein berdiri dan melangkah pergi.
"Ayo kita pulang, terimakasih sudah mau menamaniku kesini...", ucap Husein dengan tulus.
__ADS_1
Husein lalu masuk ke dalam mobil dan Anya hanya bisa mengikutinya dalam diam.