Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 33


__ADS_3

Kembali ke cerita Anya dan Anton...


"Kamu....kamu sudah bisa berdiri?", tanya Anya dengan terkejut.


Beberapa saat Anton berusaha mencerna pertanyaan Anya, lalu melihat ke arah kakinya.


"Wah, aku bisa berdiri!", ucapnya senang menyadari bahwa baru saja dirinya bisa berdiri, bahkan tadi sempat berjalan.


Anton sendiri merasa terkejut dan tidak menyangka dirinya benar-benar bisa berdiri tanpa berpegangan. Tapi kemudian saat mencoba untuk melangkah lagi, Anton malah terjatuh.


Raut wajah Anton berubah kecewa.


"Tidak apa-apa, sudah bagus tadi kamu bisa berdiri, itu berarti cepat atau lambat kamu pasti bisa berdiri dan berjalan lagi, tinggal banyak-banyak latihan dan bersabar sebentar lagi..." kata Anya menyemangati.


Mereka berdua sama-sama antusias dengan perkembangan yang dialami Anton, hingga tanpa sadar darah di jari Anya terus menetes dan membasahi lantai dapur.


Itu hanya luka kecil, tapi ternyata cukup dalam.

__ADS_1


Reflek Anton melepas kaos yang dikenakannya lalu membalutkannya pada jari Anya agar darahnya cepat berhenti.


Anton yang kemudian kehilangan keseimbangan reflek berpegangan pada Anya. Dalam jarak sedekat itu Anya bisa mencium aroma sabun di tubuh Anton dan juga melihat dada Anton yang ternyata lumayan berotot Dan entah mengapa ada sesuatu yang berdesir di dalam sana.


Menyadari jarak yang terlalu dekat, Anton segera mencari pegangan lain dan melepas Anya.


"Maaf...", ucapnya.


Anton lalu berjalan beberapa langkah sambil berpegangan pada dinding, lalu berenti sejenak untuk mengambil nafas dan memperbaiki posisinya, berjalan sedikit, berhenti lagi. Begitu seterusnya seperti bayi yang sedang belajar berjalan. Anton merasa dirinya sudah mampu untuk berjalan meski masih terseok-seok, jadi Anton akan berusaha terus agar tidak lupa dan kemampuannya terus meningkat. Anton mengambil kotak P3K yang berada di nakas ruang tengah, lalu kembali menghampiri Anya dengan cara yang sama.


Anton lalu melepaskan balutan kaosnya yang sudah terkena banyak darah.


Saat dibuka darah yang mengalir sudah tidak begitu banyak. Anton lalu mengoleskan cairan antiseptik dan membalutnya dengan perban.


"Kalau besok darahnya masih mengalir harus kita periksakan ke dokter...", kata Anton menasehati Anya.


Anya hanya mengangguk seperti anak yang penurut.

__ADS_1


"Maaf sudah membuatmu terkejut dan terluka..."


"Tidak apa-apa..."


"Masuklah ke kamar dan beristirahatlah lagi, biar aku yang membereskannya. Percaya padaku, aku pasti bisa meski perlahan-lahan. Anggap saja ini sebagai latihan agar fisikku lekas pulih.."


Anya hanya mengangguk, tapi masih berada di sekitar dapur untuk mengamati Anton bekerja.


"Aku akan menemanimu sampai selesai..." ucap Anya kemudian. Anya khawatir kalau Anton kenapa-napa lagi.


"Baiklah, tapi sebaiknya kau duduk saja sambil melihat..."


Anya bisa melihat bagaimana Anton sangat berusaha. Sebenarnya Anya masih bisa membantu, karena yang terluka hanyalah jarinya. Tapi Anya memilih duduk di sofa sambil melihat Anton dari kejauhan saja. Menikmati pemandangan seorang laki-laki sedang membersihkan dapur merasa geli dan salah tingkah sendiri. Anya tahu, hatinya mulai bergetar. Anya menyadari ada sesuatu yang janggal. Hatinya berbunga-bunga seperti anak kecil mendapatkan permen saat mendapat perhatian kecil dari Anton.


Anya adalah wanita dewasa yang telah terbiasa disentuh dan meyentuh para pria. Tubuhnya terasa sudah kebal, seolah pria-pria itu hanyalah makanan yang akan dilahabnya sesaat. Tidak ada hati, tidak ada ingatan yang tertinggal tentang pria-pria itu. Hanya nafsu sesaat yang memang ingin dilupakannya segera.


Tapi entah mengapa, dengan Anton terasa berbeda. Meski hanya sedikit sentuhan mampu menggetarkan hatinya. Dan Anya mulai takut untuk terperangkap lebih dalam.

__ADS_1


__ADS_2