
Anton tidak habis pikir dengan sejumlah peristiwa yang dialaminya akhir-akhir ini. Terlalu banyak perubahan yang terjadi secara beruntun juga hal-hal yang terasa tidak masuk akal. Padahal Anton sudah bisa berdamai dan merasa nyaman dengan kehidupan barunya bersama Anya. Anton juga tak lagi berusaha untuk mengingat apapun dan merasa cukup dengan identitas yang dimilikinya sekarang. Dirinya hanyalah seorang Anton, orang hilang yang tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa. Satu-satunya orang yang berarti baginya hanyalah Anya. Dan Anya lah yang menjadi tujuan hidupnya saat ini. Bisa sembuh dari kelumpuhan dam beraktifitas selayaknya orang normal adalah anugrah luar biasa yang amat disyukurinya. Dan sejak itu Anton mulai menyusun rencana hidupnya meski dirinya hanya bisa bergerak dengan perlahan-lahan. Anton akan bekerja apa saja agar bisa menghasilkan sedikit uang, jika berhasil Anton ingin menyisihkan sedikit uangnya untuk Anya. Anton bekerja dengan sangat rajin dan ingin menebus seluruh hutangnya pada Anya. Dan jika nanti uangnya cukup, Anton ingin Anya berhenti dari pekerjaan kotornya dan dialah yang akan menananggung hidup mereka berdua. Tapi ternyata rencananya tidak sejalan dengan kenyataan.
Pekerjaan barunya yang terlihat menggiurkan ternyata mengantarkannya pada masalah demi masalah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dimulai dari perangai majikannya yang ternyata sangat berbeda dari saat pertama kali mereka berjumpa. Kemudian kedatangan seorang wanita yang seakan tak asing baginya, dan seperti membelanya sampai kemudian dirinya malah pingsan karena kelelahan. Dan saat tersadar, baru sebentar saja masalah yang lain sudah datang lagi. Rumah Tuan Adrian tiba-tiba saja didatangi polisi. Tuan Adrian bersama dengan wanita itu ditangkap, lalu polisi menggeledah seisi rumah Tuan Adrian.
Dan selama kekacauan itu terjadi, seoarang pria menghampirinya dan mengajaknya bicara tentang banyak hal. Anton tidak bisa mengingat semua perkataan yang dibicarakan pria itu karena terlalu banyak informasi yang di dapatnya secara tiba-tiba. Sedikit yang bisa Anton tangkap dari pembicaraan panjang itu adalah pria itu mengaku sebagai saudara kembarnya. Dan saat diperhatikannya baik-baik, memang benar wajah pria itu sedikit mirip dengannya hanya saja badannya jauh lebih gempal. Anto tidak bisa menyangkal dan akhirnya memilih untuk mempercayai apa yang dikatakan pria itu. Namun kemudian pria itu juga memintanya untuk ikut bersamanya. Anton merasa bingung untuk menanggapi tawaran itu. Tapi pria itu terus memaksa dan berusaha untuk meyakinkannya sebab Tuan Adrian pun sudah pergi dibawa polisi. Dalam kebimbangannya Anton ingin sekali menghubungi Anya untuk minta pendapatnya. Namun sepertinya ponselnya yang disita Tuan Adrian ikut diambil polisi sebagai barang bukti. Lagi pula Anton pun tidak hafal nomor telepon Anya.
__ADS_1
"Baiklah Tuan, aku akan ikut denganmu dengan satu syarat...", jawab Anton akhirnya.
"Katakan, apa syaratnya?"
"Teman, siapa temanmu itu? Apakah aku juga mengenalnya?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu Tuan mengenalnya atau tidak, dia adalah seorang wanita yang mengaku telah menabrakku, kemudian menolongku dan merawatku sampai aku pulih dan bisa bekerja..."
"Baiklah, aku akan mengantarmu kesana, aku juga ingin bertemu dan bertanya tentang beberapa hal padanya..."
Mereka akhirnya sepakat. Anton segera mengemasi semua barangnya yang ada di rumah Tuan Adrian, lalu ikut bersama Hasan. Anton berusaha keras untuk mengingat jalan menuju rumah Anya.
__ADS_1