Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 81


__ADS_3

Sepulangnya dari rumah Anya, Husein segera menyuruh salah satu pelayan untuk mencari rumah kontrakan yang bagus dan bisa disewa sekarang juga. Dengan patuh pelayan itu menurut dan segera melaksanakan perintah. Hanya dalam waktu dua jam saja, pelayan itu sudah kembali dengan membawa data sederet rumah yang bisa disewa di daerah kota. Ada sepuluh alternatif rumah yang disodorkan, lengkap dengan alamat, fasilitas, harga, dan foto-foto bagian dalam dan luar rumah. Husein mengamati semua data yang diberikan dengan seksama, lalu menjatuhkan pilihannya pada sebuah rumah bergaya minimalis yang terlihat masih baru dan berada di kawasan perumahan di pusat kota. Rumah itu terdiri dari tiga kamar dengan luas 100 mtr persegi. Cukup nyaman dan tidak begitu besar untuk ditinggali Anya seorang diri. Harganya paling mahal diantara yang lainnya, tapi itu bukanlah masalah. Anya pantas mendapatkan yang terbaik. Tapi alasan utama Husein memilih adalah karena rumah itu berada di kawasan perumahan elite dengan keamanan ekstra. Jadi Husein bisa lebih tenang dengan keselamatan Anya.


"Sewakan rumah ini atas namaku dan segera lunasi pembayarannya untuk satu tahun!", perintah Husein pada pelayan itu sambil menyerahkan sebuah kartu.


"Ta...tapi Tuan, sepertinya kita harus membicarakan urusan ini pada tuan Hasan terlebih dahulu....", kata pelayan itu dengan terbata.


"Oh, ****! aku lupa kalian hanya akan patuh sepenuhnya pada Hasan, bukan kepadaku!", umpat Husein dengan kesal.


"Kalau begitu pastikan kau membokingnya sekarang juga dan bayar uang mukanya, jangan sampai jatuh ke tangan lain. Aku akan membicarakannya dengan Hasan begitu dia pulang!"


Malam itu Hasan sepertinya sedang lembur di kantornya. Sebab hingga pukul tujuh, Hasan belum juga sampai dirumah.

__ADS_1


Dengan harap-harap cemas, Husein memilih menunggu Hasan di depan rumah sambil menikmati angin malam yang terasa sejuk.


Hanya berselang lima menit kemudian, mobil Hasan tampak masuk melintasi gerbang. Hasan sudah datang, Husein pun segera menyambutnya untuk membicarakan rencananya, sebab Husein tak ingin terlambat membawa Anya pergi dari rumahnya.


"Bagaimana kalau kita bawa saja dia ke puncak, disana ada villa keluarga kita, cukup besar dan nyaman, juga ada penjaga dan ART yang akan membantunya?", usul Hasan setelah mendengar cerita Husein.


"Kurasa tidak perlu, dia pasti akan menolak dan merasa tidak nyaman. Biarkan dia tinggal sendiri, aku sengaja memilih rumah di kota karena dia bisa dekat saat pergi bekerja..."


Hasan punya maksud lain dengan pertanyaan ini, tapi Husein tidak menyadarinya karena terlalu fokus pada pembahasan inti.


"Kita tidak bisa memaksanya untuk berhenti begitu saja. Dia punya harga diri yang tinggi untuk sekedar menerima bantuan. Sementara ini, cukup berikan dia tempat tinggal yang aman, setelah itu aku akan memikirkan cara untuk membuatnya berhenti..."

__ADS_1


"Baiklah, aku setuju untuk menyewa rumah yang kamu mau, akan ku suruh orang kita untuk mengurus semuanya. Besok pagi kamu bisa jemput Anya dan bantu dia untuk pindah, aku juga akan menyuruh beberapa pelayan untuk membantu kalian..."


"Terimakasih banyak Hasan, kamu memang sangat pengertian..."


Akhirnya Husein bisa bernafas lega. Dengan mudah Hasan menyetujui dan bahkan mau membantunya. Begitulah hukum alam, selama ada uang dan kekuasaan semua urusan bisa beres dalam sekejap.


"Hasan, boleh aku tanya sesuatu?"


"Tentu saja..."


"Apa kamu menyukai Anya?"

__ADS_1


Husein terkesiap, tidak siap dengan pertanyaan itu.


__ADS_2