
"Apa kamu mencintai Anya?"
Husein terkesiap, tidak siap dengan pertanyaan itu.
"Mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu?", tanya Husein kembali dengan salah tingkah.
"Aku hanya ingin tahu, sudahlah tidak papa jika kamu tidak mau menjawabnya, aku akan masuk untuk beristirahat...kamu juga beristirahatlah..."
Hasan tidak mau memaksa, tapi dari tingkah Husein, Hasan sudah bisa menebak jawabannya.
Hasan lalu masuk ke kamarnya untuk beristirahat begitupun dengan Husein.
Apakah dirinya mencintai Anya?
Pertanyaan itu terus saja terbersit dipikiran Husein, sejak Hasan menanyakannya tadi.
Padahal sebelumnya Husein tidak pernah memikirkan hal itu.
Jadi, apakah benar dirinya mencintai Anya?
__ADS_1
Entahlah, Husein pun tidak tahu isi hatinya.
Yang dirasakannya selama ini, Husein merasa nyaman dan senang ketika berada di dekat Anya. Dan saat berada jauh dari Anya, dirinya merasa rindu, ingin bertemu, dan merasa kehilangan hari-harinya bersama Anya. Sedikit banyak dirinya akan teringat pada Anya, mengkhawatirkan gadis itu dan bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang dilakukannya Anya sekarang.
Apa itu bisa dikatakan cinta?
Entahlah, Husein tidak mau pusing memikirkannya.
Lagi pula statusnya sekarang, adalah seorang lelaki beristri. Meskipun, entah bagaimana nasib pernikahannya nanti. Tidak adil rasanya jika dirinya berpikir yang tidak-tidak tentang Anya sebelum statusnya jelas. Dan apa bedanya dirinya dengan Heru kalau seperti itu.
Yang jadi prioritasnya saat ini adalah menyelamatkan Anya dari teror yang dilakukan Heru. Dan setelah itu Husein akan memikirkan bagaimana caranya membuat Anya berhenti dari pekerjaan kotornya tanpa melukai harga dirinya.
Husein memilih tidur cepat malam itu, karena besok pagi-pagi sekali dia akan menjemput Anya dirumahnya dan membantunya memindahkan barang-barangnya ke rumah baru. Hesein berdoa semoga ditempat tinggalnya nanti Anya akan lebih aman dan Heru tidak akan menemukan dan menganggunya lagi.
Keesokan harinya, Husein benar-benar bangun pagi-pagi sekali. Husein begitu bersemangat dengan apa yang akan dilakukannya hari ini. Husein berangkat bersama orang-orang suruhannya yang berjumlah lima orang. Mereka berangkat dengan menggunakan dua mobil. Satu mobil biasa dan satu lagi mobil dengan bak terbuka untuk mengangkut barang-barang Anya.
Begitu sampai di depan rumah Anya, Huseinlangsung turun dan mengetuk pintu rumah Anya. Butuh beberapa kali mengetuk pintu sampai kemudian Anya benar-benar keluar.
Anya keluar dengan masih mengenakan piyama, wajah kusut, dan rambut berantakan. Tapi entah mengapa penampilan alami Anya yang seperti itu justru membuat Husein terpana dan ada yang berdesir di dalam sana. Beberapa detik Husein berusaha menguasai dirinya sebelum bicara.
__ADS_1
"Apa kamu sudah siap?", tanyanya pada Anya.
"Siap untuk apa?"
"Kita akan pindahan hari ini...ah maksudku aku akan membantumu pindah..."
"Pindah rumah maksudmu? Apa kamu serius? Aku bahkan belum sempat melihat-lihat rumah yang dikontrakkan..."
"Aku sudah mendapatkannya Anya, percayalah padaku. Rumah itu cukup bagus dan aman, kamu harus pindah secepatnya dari sini sebelum lelaki itu datang lagi..."
Sejenak Anya terdiam mencerna kata-kata Husein barusan.
"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini, aku bisa mencarinya sendiri nanti!"
"Anya tolonglah, kali ini saja jangan menolakku...aku sudah mempersiapkan semuanya, aku juga bawa orang-orang untuk membantumu, katakan saja mana saja barang-barang yang harus dikemasi, biarkan mereka yang melakukannya dan kamu bisa mandi dan mempersiapkan diri..."
Anya terlihat berfikir sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Baiklah, bantu aku mengemasi semua barang yang ada di luar kamar. Barang-barang di kamar biar nanti ku kemasi sendiri nanti...duduklah di dalam, aku mau mandi dulu..."
__ADS_1
Anya akhirnya setuju untuk pindah.