Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 168


__ADS_3

Anya terbangun saat merasakan sesuatu yang basah menyentuh bibirnya. Anya membuka matanya dan terkejut melihat wajah Husein berada begitu dekat. Reflek Anya mendorong dada Husein dan lelaki itu hanya terkekeh.


"Masih malu ya? Padahal kan sudah halal"


Husein baru saja membangunkannya dengan sebuah ciuman. Anya menunduk malu dan menghindari tatapan Husein. Dan hal itu membuat Husein semakin gemas pada istrinya itu.


"Aku baru saja bangunin putri tidur ternyata..."


Anya buru-buru mengusap air liur yang menetes di dekat mulutnya. Benar-benar memalukan.


Husein hanya tersenyum memperhatikan Anya.


"Ayo kita sholat subuh dulu, setelah itu kita jenguk Bapak. Beliau sudah sadar dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan..."


"Benarkah? Bagaimana kondisi Bapak?"


"Insya allah semuanya baik..."


Husein lalu menggandeng tangan Anya berjalan menuju masjid yang terletak di seberang rumah sakit.


Anya shalat dengan khusyuk dan berdoa cukup lama, hingga Husein harus menunggu di depan masjid.

__ADS_1


Setelah selesai mereka langsung menghampiri Bapak di ruang perawatan.


Bapak terlihat cukup segar meski masih berbaring saja di tempat tidur. Bapak langsung tersenyum saat melihat anak dan menantunya masuk ke ruang perawatan.


"Pagi-pagi sudah disini, apa kalian menginap disini semalaman?"


"Ya Pak, kami disini menunggu Bapak, Ibu dan Kak Zaki juga, tapi setelah selesai operasi Kak Zaki mengajak Ibu beristirahat di hotel...Bagaimana Pak apa sudah merasa baikan?"


"Yah beginilah, insyaallah Bapak akan sembuh, maaf ya kalian jadi harus menghabiskan malam pertama di rumah sakit..."


"Nggak papa Pak, kami senang punya kesempatan menunggu Bapak, semoga Bapak sehat-sehat selalu..."


Tiba-tiba pintu di buka dari luar.


"Gimana Pak? Bapak sudah sadar?"


"Ya...sudah Bu, alhamdulillah..."


"Syukurlah kalau begitu, Bapak itu bikin semua orang khawatir..."


"Tuh Anya denger Ibumu ngomong? Bapak sehat suka dimarahin, sekarang sakit juga masih disalahin..."

__ADS_1


"Ah Bapak ini, sudah tua masih suka ngadu..."


Zaki, Anya, dan Husein tertawa melihat kedua orang tuanya sudah bisa bertengkar lagi.


"Zaki sama Ibumu sudah datang, sebaiknya kamu pulang nduk, habiskan waktumu bersama suamimu...kamu sekarang sudah jadi seorang istri, suami mu lebih berhak akan dirimu dibandingkan orang tuamu...manfaatkan waktu kalian sebelum kembali bekerja..."


"Tidak apa-apa Pak, saya tidak keberatan jika Anya masih ingin disini..."


"Tapi Bapak yang keberatan, Bapak cuma butuh istirahat, tidak perlu ditunggu ramai-ramai...kalian lebih baik habiskan waktu berdua, Bapak masih ingin menggendong cucu kalau masih diberi umur..."


Mendengar kata-kata Bapak, Anya jadi malu. Sedangkan Husein justru mengulum senyum membayangkan sesuatu.


"Baiklah kalau begitu, kami pamit dulu...ayo Anya, kita harus segera mewujudkan keinginan Bapak..."


Husein lagi-lagi tersenyum jahil menggoda Anya.


Tak ingin berlama-lama menjadi bahan bulan-bulanan. Anya pun akhirnya pamit dan menyalami semua keluarganya, lalu pergi dengan terburu-buru. Husein pun melakukan hal yang sama sebelum kemudian mengejar Anya.


Mereka kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, Husein langsung mandi karena tubuhnya terasa gerah. Setelah Husein selesai barulah Anya mandi.


Dan saat keluar dari kamar mandi, Anya justru melihat Husein tidur dengan nyenyaknya. Seperti semalam Husein tidak tidur karena menjaganya. Sesaat Husein memperhatikan wajah Husein yang terlihat begitu menawan. Kulitnya yang bersih berpadu dengan jambang tipis. Dan bibir merahnya terlihat menynggingkan sedikit senyum.

__ADS_1


"Apa kamu benar-benar bahagia telah menikahiku?", tanya Anya di dalam hati.


Anya lalu berbaring di samping Husein. Semalam Anya baru tidur menjelang dini hari. Dan matanya pun masih terasa lengket saat Husein membangunkannya untuk shalat subuh. Anya memberanikan diri memeluk tubuh kekar Husein hingga akhirnya dirinya ikut terlelap.


__ADS_2