Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 72


__ADS_3

Seminggu kemudian, Fitri benar-benar mengajak Anya pergi ke acara kajian rutin komunitas Berani Hijrah. Acara itu diadakan di sebuah ruangan di rumah yang cukup besar dan mewah. Kata Fitri, rumah itu adalah rumah dokter perempuan yang menggagas komunitas itu. Fitri menyuruh Anya mengisi absensi sekaligus mengisi sebuah formulir untuk mendaftar di komunitas tersebut. Anya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan mengamati teman-teman barunya satu persatu. Beberapa wajah terlihat berbeda dan menonjol. Mereka pasti yang dimaksud Fitri dengan kaum transgender. Meski penasaran, Anya segera mengalihkan pandangannya karena takut mereka akan tersinggung. Sebagian besar peserta mengenakan pakaian panjang dan hijab, meski tidak sepenuhnya tertutup. Anya dan Fitri sendiri memilih menggenakan celana panjang dan tunik panjang, dilengkapai dengan hijab instan. Pakaian mereka sangat tertutup, seperti kebanyakan gadis muslimah kekinian. Bukan bermaksud untuk bersikap munafik, mereka hanya ingin menghormati acara yang mereka hadiri.


Beberapa orang menghampiri Anya dan menyapa dengan ramah. Mengajak untuk berkenalan. Anya sangat senang dengan sambutan yang didapatnya. Seperti menemukan oase ditengah gurun pasir. Inilah yang selama ini dicarinya. Lingkungan yang memberinya energi positif dan mau menerimanya dengan tangan terbuka tanpa menghakimi.


Anya duduk melingkar bersama Fitri dan teman-teman barunya. Sebentar lagi acara kajian itu akan segera dimulai. Seorang ustadzah muda berwajah lembut masuk ke dalam ruangan dan mengucapkan salam. Semua yang berada di dalam ruangan menjawab dengan sangat antusias. Dan acara ceramah pagi yang menyejukkan pun di mulai. Tema hari itu adalah amalan-amalan penghapus dosa. Ceramah disampaikan secara ringan, diselingi cerita dan contoh, juga sesekali melontarkan candaan yang mencairkan suasana.


Dua jam berlalu tanpa terasa.

__ADS_1


Acara ceramah sudah selesai. Sekarang acara telah berganti dengan ramah tamah dan makan siang bersama. Suasana berubah menjadi riuh. Peserta membentuk beberapa kelompok kecil, saling mengobrol diselingi canda tawa. Anya bergabung dengan Fitri dan beberapa teman lainnya. Mereka mengambil makan siang secara prasmanan. Menu kali ini nasi pecel dengan lauk telur, tahu, dan tempe, juga dilengkapi es teh. Makanan sederhana itu terasa sangat nikmat di santap di siang yang terik itu. Kemudian seorang wanita cantik datang, masuk ke dalam ruangan dan langsung merebut perhatian semua orang.


"Assalamualaikum, maaf saya tidak bisa ikut serta di kajian kali ini karena ada jadwal praktek, selamat dinikmati makan siangnya meski hanya sederhana..."


Suara orang-orang bersahut-sahutan menjawab salam dari wanita itu. Sementara Anya masih tertegun menatap wanita cantik yang ternyata adalah seseorang yang pernah dikenalnya.


Tubuh Anya yang membeku, mengikuti saja saat tangan Fitri menariknya, membawanya mendekat kepada dokter cantik yang dimaksud.

__ADS_1


"Assalamualaikum Bu Dokter, perkenalkan saya membawa teman baru saya untuk bergabung di sini, namanya Anya..."


Dokter muda itu menoleh dan menatap Anya. Sesaat pandangannya berhenti dan nampak terkejut, namun kemudian wanita cantik itu tersenyum.


"Salam kenal Anya, nama saya Alina, selamat datang dan selamat bergabung di komunitas kami. Disini kita akan sama-sama belajar dan memperbaiki diri, semoga kamu tidak kapok untuk datang lagi"


Dengan ragu-ragu Anya menjabat tangan Alina dan menegakkan kepalanya.

__ADS_1


"Salam kenal Dokter Alina, nama saya Anya..."


__ADS_2