Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 29


__ADS_3

Keesokan harinya, Anya dan Anton bangun pagi-pagi sekali, karena hari ini juga mereka akan pindah rumah. Anya telah memesan jasa pindahan dan angkutan lengkap dengan tenaga kerja yang akan membantu mengangkat dan menatanya barang-barang di rumah baru nantinya. Karena Anya tidak mungkin melakukannya seorang diri dan Anton juga belum bisa banyak membantu. Semua berjalan lancar bahkan lebih cepat dari waktu yang diperkirakan Anya. Rumah itupun cukup bagus dan bahkan lebih luas dari rumah yang ditempati Anya sebelumnya. Anya sangat bersyukur bisa mendapatkan rumah sebagus itu sebagai pengganti tempat tinggalnya yang lama. Dan satu hal yang membuat Anya bertanya-tanya, bagaimana mungkin Alina bisa begitu baik padanya, padahal dirinya adalah wanita yang telah hampir merebut suaminya, andai saja dia mau melakukannya. Tapi untuk sementara waktu, Anya tak ingin terlalu memikirkan hal itu.


Fokusnya sekarang adalah untuk berbenah dan menata tempat tinggal barunya agar nyaman untuk ditempati. Apalagi waktunya tidaklah banyak. Hanya sampai sore nanti, karena Anya pun sebenarnya merasa lelah. Anya ingin punya waktu untuk beristirahat sejenak, sebelum nanti malam Anya harus kembali 'bekerja'.


Anya membereskan dan menata barang-barang dengam dibantu oleh orang-orang dari jasa angkut. Ternyata mereka sangat profesional dan cukup gesit dalam bekerja. Pukul sepuluh pagi semua pekerjaan sudah selesai. Anya tinggal menata barang-barang pribadi yang akan diletakkan di kamar saja, tapi sebelum itu Anya memilih untuk memesan makan siang dan menikmatinya bersama Anton, juga semua pekerja yang telah membantunya.


Setelah makan siang selesai para pekerja dari jasa angkut pergi karema semua pekerjaan sudah selesai dan upah pun sudah dibayarkan.


"Bagaimana menurutmu?", tanya Anya pada Anton tentang rumah baru mereka.


"Bagus...cukup bagus...semoga kamu bisa memulai lembaran baru disini dengan lebih bahagia Anya..." Ucap Anton dengan tulus.

__ADS_1


Anya lalu pamit masuk ke kamarnya untuk menata beberapa barang-barang pribadinya. Kurang dari satu jam pekerjaannya telah selesai. Dan setelah itu Anya memutuskan untuk tidur siang.


Karena kelelahan Anya tidur cukup lama dan bangun saat hari telah sore. Anya mandi dan menunaikan shalat ashar yang terlambat. Setelah itu Anya bergabung bersama Anton yang tengah duduk di depan televisi.


Tanpa sadar Anton tertegun memandang wajah Anya yang terlihat segar seusai mandi. Cantik. Gumamnya dalam hati. Anton memang hilang ingatan, tapi dia masih laki-laki normal yang pandai menilai wanita. Entah mengapa terbersit rasa tak rela kala mebayangkan Anya-nya disentuh oleh laki-laki lain.


"Ada apa?", tanya Anya saat menyadari Anton menatapnya.


Beberapa saat mereka menikmati acara televisi sambil tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Anya, seandainya kamu punya kesempatan untuk berhenti dari pekerjaanmu sekarang apakah kamu akan berhenti?", tanya Anton begitu saja.

__ADS_1


Sebenarnya Anton takut Anya tersinggung atau marah, tapi entah mengapa Anton tetap nekat menanyakannya.


"Tentu saja, siapa yang mau menjalani pekerjaan hina seumur hidup? Tapi tidak mudah bagiku untuk lepas dari 'mereka'. Sepertinya mereka hanya akan melepaskanku saat aku tua dan tidak laku lagi..."


Anya menjawabnya dengan santai tanpa beban. Karena memang itulah kenyataannya. Dan Anya merasa tak perlu menutupi apapun dari Anton yang telah tahu semua dari dirinya.


"Suatu hari aku akan membuatmu berhenti...", ucap Anton dalam hati.


Malam harinya Anya berangkat untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa. Seperti biasa pula Anton mengantarkannya sampai ke pintu gerbang dan berpesan agar Anya berhati-hati.


Tapi entah mengapa malam itu Anton merasa amat tak rela melepas Anya pergi. Mungkin karena Anton tahu kemana dan apa yang akan dilakukan Anya. Hatinya terasa sakit. Tapi raganya tidak berdaya. Anton hanya bisa menyimpan harap dalam doanya. Semoga hari-hari kelam lekas terlalui.

__ADS_1


__ADS_2