Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 76


__ADS_3

"Aku tidak bercanda, kau boleh datang kerumah dan bertemu dengan keluargaku kalau tidak percaya!"


"Baiklah, aku akan pergi sekarang, tapi jangan harap aku akan menyerah! Kau tidak bisa menghalangiku dengan uang dan kekuasaanmu! Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangiku! Tidak kau dan tidak juga istriku! Kalian hanya orang-orang serakah yang menggunakan uang dan kekuasaan untuk memanipulasi segala sesuatu! Tapi Anya akan tetap jadi milikku!"


Heru menyadari dia tidak akan bisa membawa Anya hari ini, tapi dia tidak akan menyerah. Dia benci Alina. Dia benci Husein Al Rasyid. Dia benci orang-orang yang selalu menggunakan uang dan kekuasaan untuk mencapai tujuannya. Meski tanpa sadar Heru pun telah melakukan hal serupa.


Heru akhirnya pergi dengan pikiran yang kalut dan kacau. Sungguh suasana hatinya sangat buruk. Rencananya untuk membawa Anya lagi-lagi gagal. Dengan emosi yang memuncak Heru keluar dari rumah Anya dan kembali melajukan mobilnya.


Alina, dengan menahan segenap rasa malu dan sesak di dadanya mengikuti berjalan keluar. Alina memilih membiarkan saja suaminya pergi, sebab dia tahu tidak ada gunanya membujuk dan mengajaknya bicara dalam situasi seperti ini.


Di rumah kontrakan Anya, tinggalah Husein dan Anya yang saling pandang dengan perasaan rikuh.

__ADS_1


"Hey Anya senang berjumpa denganmu lagi, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, harusnya kamu tidak perlu melakukan itu! Kamu tidak berhutang apapun padanya dan lelaki brengs*k itu tidak berhak menerimanya..."


"Sudahlah Anya, jangan dipikirkan terlalu dalam. Aku melakukannya bukan sekedar untuk membayar hutang. Aku melakukannya demi harga diriku.."


"Bagaimana dengan keluargamu? Kamu senang bersama mereka?"


"Aku tahu, kamu adalah Husein....Husein Al Rasyid, kamu adalah seseorang yang sangat terhormat dan punya segalanya...sangat berbeda dengan diriku yang hina ini. Jadi sebaiknya kamu tidak perlu datang lagi kesini dan lupakan saja apapun yang terjadi kemarin. Kamu tidak pantas berada di tempat ini..."


Anya hanya tidak ingin terlalu banyak berharap. Mengenal orang seperti Husein, tentu adalah sebuah keberuntungan. Tapi berteman dengannya, Anya merasa tidak pantas.

__ADS_1


"Anya bukan begitu maksudku, kenapa bicara seperti itu? Maaf baru sekarang aku sempat kemari menemuimu...ada banyak urusan yang harus aku selesaikan.."


"Urusan kita sudah selesai, sekarang kamu sudah pulang ke rumah dan kembali pada keluargamu, jadi tidak perlu datang lagi kemari..."


"Anya....tolonglah...kamu adalah temanku, orang yang sangat berarti bagiku, kamu yang ada dan menolongku di saat aku tidak berdaya...jadi sekarang sudah sepantasnya jika aku datang...dan tolong izinkan aku untuk sedikit membantumu..."


"Tenanglah, aku bisa mengurus dan menjaga diriku sendiri, seperti yang selama ini aku lakukan, lihatlah, aku baik-baik saja bukan? Apa yang aku lakukan padamu adalah bentuk rasa tanggung jawabku, jadi kamu tidak perlu merasa berhutang budi. Lagi pula keluargamu pasti tidak senang jika kau bergaul dengan wanita sepertiku..."


"Anya, keluargaku sudah menyelidiki semuanya...kecelakaan itu bukanlah kesalahanmu, kamu hanya sedang berada di tempat dan waktu yang salah. Jadi jelas aku sangat berhutang budi padamu. Izinkanlah aku membayarnya sekarang. Bersiaplah dan kemasi barang-barangmu sekarang juga. Aku akan mencarikan tempat tinggal baru untukmu, dan besok pagi aku akan datang lagi menjemputmu! Aku tidak ingin Heru datang menganggumu lagi"


Setelah mengatakan itu Husein langsung beranjak pergi, karena tidak ingin Anya yang keras kepala membantah perkataannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2