Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 121


__ADS_3

Anya sedang memikirkan tawaran yang diberikan Hasan dengan sangat serius. Senenarnya tawaran itu sangat bagus, dirinya bisa dengan mudahnya lepas dari jerat Tante Bella beserta para jaringannya dengan sangat mudah. Tapi bukankah sesuatu yang terlalu mudah itu mencurigakan? Anya tak ingin terjebak dalam harapan semu yang akan membuatnya kecewa. Jadi, untuk menenangkan diri Anya mencoba mencari jawaban dalam doa-doanya. Anya yakin jawaban dari Tuhan tak mungkin salah.


Hanya saja, Anya semakin bingung, saat doa demi doa telah dilantunkan, tapi ternyata petunjuk tak kujung datang. Apakah ini berarti dia harus menerima tawaran itu? Anya semakin bingung, sementara waktunya semakin dekat. Jika sesuai janji, seharusnya hari ini juga Hasan akan datang menagih jawabannya.


Dan kemudian sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan dari Tante Bella.


Anya, semua bokingan kamu saya cancel sepihak! Kamu dipecat!


Btw, darimana kamu bisa gaet cowok konglomerat, masih muda, tajir lagi? Huh, saya jadi iri!


Anya membaca pesan itu dengan kening berkerut, mencoba mencerna maksud di balik kalimat itu. Lalu Anya bisa mengambil sebuah kesimpulan, pastilah orang-orang itu sebenarnya tidak memerlukan persetujuannya dalam bertindak. Kedatangan Hasan tempo hari pastilah hanya formalitas semata, sebagai sopan santun untuk memberi tahu dirinya. Tapi sudahlah, Anya juga tak ingin menghabiskan waktu untuk memikirkannya. Mungkin inilah jawaban dari doa-doanya, bahwa mau tidak mau dia sudah ditakdirkan untuk mengakhiri pekerjaan kotornya. Anya memutuskan untuk menerimanya dengan pasrah dan penuh rasa syukur.


Seperti yang dijanjikan, siang itu Hasan datang untuk menagih jawabannya.


"Jadi bagaimana Nona Anya, anda pasti sudah membuat keputusan?"

__ADS_1


Tanya Hasan saat sudah masuk dan duduk di ruang tamu rumah Anya.


"Jangan pura-pura, kamu tidak membutuhkan jawaban dari siapapun untuk melakukan apapun, jadi untuk apa minta pendapatku?"


"Hahaha, kau pintar juga, tapi ini bukan sesuatu yang buruk untukmu. Jadi kapan kamu bisa mulai bekerja untukku?"


"Pertanyaannya terbalik, kapan kau ingin aku mulai bekerja?"


"Bagaimana kalau besok? Belum mulai pekerjaan yang sesungguhnya, tapi aku rasa kau perlu waktu untuk mempelajari seluk beluk perusahaan dan pekerjaanmu terlebih dahulul, sebelum nanti kau benar-benar mulai bekerja..."


"Baiklah, lusa, deal?"


"Deal!"


Merekapun berjabat tangan.

__ADS_1


"Dalam seminggu pertama jam kerjamu masih flexibel, kau hanya akan mempelajari beberapa hal...dan lusa akan ada orangku yang menjemputmu disini..."


"Kenapa harus dijemput? Aku bisa datang sendiri!"


"Tidak, kau tidak boleh datang sendiri, maksudku...ini fasilitas dari kantor untuk asisten direktur agar bisa melaksanakan tugasnya dengan optimal..."


Tentu saja itu adalah kebohongan. Hasan hanya ingin memastikan keamanan Anya. Hasan takut ada orang-orang yang iri dan menganggunya saat tahu Anya adalah orang yang spesial untuk Husein.


"Baiklah, terimakasih banyak..."


Sebenarnya Anya sedikit keberatan. Anya lebih suka pergi kemana-mana sendiri dengan sepeda motornya. Tapi sepertinya percuma membantah perkataan Hasan. Pria di depannya ini pastilah punya seribu satu cara untuk membuat orang-orang melakukan keinginannya. Tapi Anya bisa melihat niat baik dan ketulusan dari mata Hasan. Dan Anya memutuskan untuk mempercayainya.


"Baiklah, aku rasa kunjunganku kali ini cukup...aku sangat senang kamu bisa menerima tawaranku, terimakasih banyak! aku pamit dulu dan sampai jumpa lagi..."


"Ya sama-sama, hati-hati di jalan..."

__ADS_1


__ADS_2