Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 145


__ADS_3

Anya kembali menjalani pekerjaannya di kantor Husein seperti biasanya. Bekerja di kantor Husein membuat hidup Anya jadi lebih terjamin. Gajinya disana lebih dari cukup untuk bertahan hidup sehari-hari, meski sudah dipotong cicilan untuk membayar biaya berobat Husein. Di bulan kedua Anya juga sudah bisa melunasi hutangnya pada Fitri. Anya mudah belajar dan menyesaikan diri hingga merasa nyaman bekerja disana. Terlebih Husein memperlakukannya


dengan amat sangat baik. Diluar urusan pekerjaan, saat jam istirahat atau setelah jam kerja berakhir, Husein selalu ingin Anya tetap berada disisinya. Husein bilang dia membutuhkan teman untuk mengobrol dan berbagi tentang apa saja. Tapi benarkah perlakuan manis Husein hanya sebatas teman? Sebab Anya merasa perlakuan Husein padanya begitu manis dan sedikit terasa istimewa. Ah, apakah dirinya saja yang terlalu besar kepala? Anya mencoba menepis pikiran konyolnya dan mencoba fokus pada pekerjaannya saja.


Tapi kemudian Anya tidak sengaja mendengar selentingan di kantor. Tepatnya saat dirinya berada di dalam toilet. Mereka menggosipkan kehadirannya di kantor akibat kedekatannya dengan Husein.


"Sttt, dia kan mantan wanita malam, apa mungkin seorang wanita dengan pekerjaan seperti itu mampu mengerjakan pekerjaan kantoran? Itu mustahil jika bukan karena si bos tertarik padanya..."


"Ya, pasti dia menggunakan cara licik untuk mengambil hati Pak Husein, bagaimana mungkin orang selevel Pak Husein tertarik pada wanita hina itu?"


"Apa mungkin orang seperti Pak Husein pernah menggunakan jasa semacam iti sampai bisa terjebak bersama wanita seperti itu?"

__ADS_1


"Menurutku tidak, bukankah Pak Husein setahuku adalah orang yang cukup religius dan selalu menjaga jarak dari perempuan?"


"Ya kau benar, pasti wanita jal*ng itulah yang dengan tidak tahu diri menfgoda bos kita..."


Anya yang sedang berada di dalam toilet susah payah menahan sesak di dadanya setelah mendengar percakapan dua wanita yang entah siapa. Seperti deja vu. Kini hal itu terulang lagi. Meski semua orang bersikap manis di depannya, tapi di belakangnya mereka tetap sama. Memandangnya dengan hina hanya karena masa lalunya.


Cukup lama Anya berdiam diri di dalam kamar mandi dan gerombolan wanita itupun tak kunjung pergi.


Panggilan itu adalah dari Husein. Dan Anya sengaja menyalakan loud speaker sebelum berbicara. Anya membuka pintu toilet dan keluar dari sana dengan kepala tegak, menatap nyalang pada para wanita yang terkejut melihatnya ada disana.


"Hallo..", sapa Anya dengan santai.

__ADS_1


"Hai Anya, dimana kamu sekarang? Ayo kita makan bersama, aku sudah pesankan makanan untukmu juga!", perintah Husein dari seberang telepon


"Hmm, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan...dan aku juga belum begitu lapar..."


"Jangan beralasan, lupakan urusan pekerjaan dan datang ke ruanganku sekarang juga! Aku tidak mau sakit karena kelaparan atau kelelahan bekerja..."


"Baiklah, aku akan ke ruanganmu..."


Anya tersenyum penuh kemenangan kepada para pegawai wanita yang hanya berani membicarakannya di belakang.


"Iri bilang bos! Apapun yang kalian gunjingkan tidak akan berpengaruh apapun pada hubunganku dan bos kalian...coba saja kalau kalian bisa merebut posisiku!"

__ADS_1


Anya lalu melangkah keluar dari toilet dengan perasaan lega dan puas. Akhirnya dia bisa membungkam mulut-mulut pedas yang pengecut itu.


__ADS_2