Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 128


__ADS_3

Husein memeluk Anya dengan segenap perasaan. Tidak pernah sebelumnya Husein merasakan seperti ini kepada perempuan, bahkan kepada istrinya Fara. Husein baru menyadari bahwa dia begitu merindukan gadis ini hingga meneteskan air mata. Beberapa saat mereka berpelukan, hingga akhirnya Anya mendorong tubuhnya. Pelan, tapi Husein segera sadar dan melepaskan pelukannya.


"Maaf...", Husein salah tingkah sambil mengusap air matanya yang sempat terjatuh.


Ah, bagaimana mungkin dia jadi menangis di depan perempuan? Benar-benar memalukan.


Anya hanya menunduk dan memalingkan wajahnya. Terasa benar suasana canggung diantara mereka. Padahal dulu mereka selalu berbincang dengan akrabnya.


"Anya, maaf kalau aku telah lancang...aku hanya terlalu senang melihatmu ada disini..."


Anya terlihat salah tingkah, sebelum kemudian menegakkan kepalanya dan menatap Husein.


"Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan barusan, tapi itu bukanlah hal yang pantas!"


Bentak Anya kemudian.


"Anya maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi..."


"Hasan yang menyuruhku datang dan bekerja disini, tapi jika kupikirkan lagi sebaiknya aku tidak seharusnya disini...apakah aku bisa bertemu Hasan sekarang?"


"Hmm, Hasan tidak bekerja di gedung ini jadi aku rasa sekarang dia tidak disini. Anya, tetaplah lakukan pekerjaanmu, jangan sungkan, aku tidak akan menganggumu! Baiklah, aku pamit dulu..."


Husein segera pergi dari hadapan Anya dan memasuki ruangannya. Sungguh Husein sangat bingung bagaimana harus menghadapi Anya. Kenapa tiba-tiba dia jadi merasa bodoh?

__ADS_1


Husein ingin mendekat dan berbicara banyak pada Anya, tapi disisi lain Husein takut kalau dia akan salah bicara, lalu Anya pergi darinya.


Sepanjang sisa hari itu Husein mencoba melakukan pekerjaannya seperti biasa. Dia pikir banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikannya di hari pertama masuk kerja bisa mengalihkan perhatiannya. Tapi ternyata dia malah tak bisa fokus dan terus memikirkan Anya.


Jika menilai secara profesional, pekerjaan Anya cukup baik di hari pertamanya masuk kerja. Husein tidak menyangka Anya punya kemampuan seperti ini dan sangat menyayangkan Anya bisa terjebak dalam dunia malam cukup lama.


Husein mencoba untuk bersikap profesional, melakukan pekerjaannya dan berkomunikasi dengan Anya sebagai selayaknya atasan dan bawahan. Hingga sampai waktunya jam kantor berakhir, Husein tidak bisa menahannya lagi. Dia ingin bicara berdua dengan Anya.


"Anya, aku akan mengantarmu pulang..."


"Aku akan pulang dengan diantar sopir yang diberikan Hasan, lagi pula sebenarnya aku bisa pulang sendiri..."


"Tapi aku ingin mengantarmu, aku perlu membicarakan sesuatu denganmu...bukankah kau sekarang bekerja sebagai asistenku?"


Anya lalu pergi tanpa menghiraukan Husein.


Husein lalu menghubungi Hasan, memintanya menunggu karena Husein ingin mereka pulang bersama.


Hasan dan Husein akhirnya pulang bersama dalam satu mobil, tapi sebelum pulang, Husein ingin mengajaknya mampir sebentar.


Husein memilih cafe bernuansa timur tengah sebagai tempat mereka singgah.


"Jadi apa maksudmu membawa Anya bekerja di kantor?"

__ADS_1


"Tentu saja agar dia tidak perlu bingung mencari pekerjaan sekaligus agar kau mudah mendekatinya...bukankah aku sangat pengertian?"


Husein memukul lengan Hasan dengan jengkel.


"Harusnya aku yang melakukannya, harusnya aku yang menebusnya..."


"Kau terlalu lama dan terlalu sibuk dengan mantan istrimu, aku hanya takut kamu lengah dengan tipudaya nya..."


"Aku hanya ingin menyelesaikan urusanku satu persatu sebelum memulai lembaran yang baru.."


"Semua urusan sudah selesai, jangan bebani dirimu lagi, serahkan semua pada pengacara dan kau fokuslah untuk mengejar cinta yang baru....dia tak pantas mendapatkan perhatianmu walau sedikit...percayalah aku hanya ingin melihatmu bahagia..."


"Terimakasih, tapi kali ini biarkan aku melakukannya sendiri, aku tidak ingin dia melihatku sebagai laki-laki pengecut..."


"Tentu saja, kau harus berjuang sendiri mulai dari sekarang, aku akan mendukungmu dari kejauhan saja..."


"Terimakasih, tapi bisakah kau tidak perlu memberinya sopir? Aku ingin mengantarnya pulang sendiri besok..."


"Tidak, aku melakukannya demi keselamatan kalian...Fara sudah bebas dan kalian belum resmi bercerai, aku khawatir dia masih bisa melakukan tindakan yang bisa mencelakaimu ataupun Anya, aku hanya memastikan untuk menjaga kalian berdua..."


"Baiklah, terserah kau saja..."


Husein menyerah dengan keputusan kakaknya. Mungkin itu memang demi kebaikannya. Dan sekarang dia hanya akan memikirkan cara untuk mendekati Anya.

__ADS_1


__ADS_2