Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 129


__ADS_3

Keesokan harinya, Husein berangkat kerja seperti biasa. Husein tahu Anya masih menghindarinya, entah mengapa. Padahal dulu saat dirinya masih sebagai Anton, Anya justru selalu bersikap ramah dan terbuka seolah mereka tak ada jarak. Apa mungkin karena statusnya sebagai atasan sekaligus anak pemilik perusahaan membuat Anya menjadi tidak percaya diri? Husein bisa mengerti perasaan semacam itu, sebab ketika menjadi Anton, Husein benar-benar merasakannya sendiri. Merasa dirinya tidak berdaya, tak berarti, dan tak pantas untuk orang yang dicintainya. Begitulah perasaan Husein pada Anya dulu. Dirinya benar-benar merasa menjadi beban bagi Anya dan tak punya harga diri untuk bersikap sebagai lelaki di depan Anya. Dan kini sepertinya keadaan justru terbalik.


Tapi apakah Anya juga memiliki perasaan yang sama dengannya atau hanya menganggapnya sekedar orang asing? Entahlah. Husein tidak ingin menebak-nebak. Tapi Husein juga tidak ingin terlalu lama terombang-ambing. Dia harus segera memastikannya. Sebagai lelaki, kali ini Husein benar-benar ingin memperjuangkan cintanya. Dan hanya Anya lah wanita yang pantas untuk diperjuangkan. Wanita yang menerima dan membantunya di saat tak berdaya, wanita yang tulus tanpa memandang statusnya.


Husein keluar dari ruangannya dan menghampiri Anya yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Anya, akan nanti malam akan ada dinner meeting dengan perusahaan A, aku ingin kau siapkan berkas dan presentasi, dan ikut bersamaku nanti, kamu tidak keberatan kan jika harus lembur?"


Anya terlihat bingung dan meneliti berkas-berkas yang ada di meja kerjanya. Tampaknya Anya benar-benar serius dalam pekerjaannya.


"Anya, biar aku yang mengerjakan presentasi dan menyiapkan berkas-berkasnya, kamu lihat saja sambil dipelajari, tapi nanti kamu yang temani Pak Husein meeting, ok?"


"Ya...ya...begitu lebih baik, Rayhan tolong bantu dan ajari Anya sebaik mungkin..."


"Siap Pak..."

__ADS_1


Anya kemudian hanya mengangangguk dan tersenyum dengan kikuk. Tapi sedikit senyuman itu berhasil membuat Husein bersemangat sepanjang hari. Terutama bersemangat menunggu waktu meeting pertama kali dengan ditemani Anya.


Sebenarnya tidak ada yang serius dengan meeting itu. Semua deal sudah disepakati saat Hasan mengajaknya bertemu dengan rekan-rekan sejawat mereka dalam suasana non formal di sebuah club malam. Jadi bisa di bilang meeting itu hanya formalitas saja yang sebenarnya bisa diwakilkan kepada bawahannya. Tapi kali ini Husein ingin datang sendiri agar punya alasan untuk mengajak Anya keluar.


Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Husein mengajak Anya turun bersama dan pergi ke restoran yang dijanjikan dalam satu mobil. Anya menurut tanpa banyak bertanya. Sepanjang perjalanan hanya hening. Husein sungguh kehilangan kata-kata di samping Anya.


Sampai di lokasi, peserta meeting yang lain sudah menunggunya. Husein hanya memberi sedikit kata sambutan, lalu menyuruh Abi, sebagai manager pemasaran untuk melakukan presentasi dan mewakilkan dirinya untuk mengikuti meeting. Sementara itu, Husein mengajak Anya ke sebuah ruang private yang telah dipesannya khusus. Inilah tujuannya yang sebenarnya.


"Mau kemana kita? Bukankah meeting belum selesai?"


"Tenang saja, Abi bisa menghandle semuanya, ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan..."


"Apa ini masih ada hubungannya dengan pekerjaan?"


"Ya, tentu saja, dan kau harus menemaniku....",

__ADS_1


Husein terpaksa berdusta agar Anya tetap mengikuti skenarionya.


Meski ragu-ragu Anya tetap berjalan di belakang Husein. Husein menyewa ruangan eksklusif di resto itu, sebuah ruangan private di lantai 47 berdinding kaca dengan pemandangan kota yang menawan. Interior ruangan itu terlihat snagat mewah dan elegan, dilengkapi perpaduan cahaya yang membuat suasana terasa romantis. Di dalamnya sebuah meja putih dengan hiasan bunga dan lilin yang estetik dan kursi untuk dua orang.


Husein menarik salah satu kursi.


"Silahkan duduk Anya..."


Anya membeku sambil menatap Husein.


"Ada acara apa sebenarnya? kenapa tidak ada orang lain disini?"


"Tentu saja tidak ada, aku hanya ingin makan malam berdua denganmu..."


Anya menatap tajam kepada Husein dan mundur beberapa langkah.

__ADS_1


__ADS_2