Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 160


__ADS_3

Zaki membawa Anya ke sebuah cafe yang tidak terlalu ramai.


"Pesan yang banyak, kamu pasti lapar kan habis pulang kerja?", Zaki mencoba mencairkan suasana yang agak canggung diantara mereka.


"Ya Kak..."


Anya meraih buku menu, lalu memutuskan memesan nasi goreng dan jus alpukat. Zaki memesan menu yang sama kepada pelayan.


"Bagaimana kabarmu Anya? Sepertinya kamu mempunyai kehidupan dan pekerjaan yang cukup baik..."


"Ya alhamdulillah Kak, aku beruntung bisa bertemu orang-orang baik yang menolongku selama ini..."


Anya tersenyum menjawab pertanyaan kakaknya. Ya, Anya sudah memutuskan hanya akan menceritakan yang baik-baik saja pada keluarganya. Biarlah yang pahit dia simpan sendiri dan menjadi pelajaran di dalam hidupnya.


"Syukurlah kalau begitu, kami semua sangat mengkhawatirkanmu sejak kamu pergi dari rumah waktu itu. Ayah dan Ibu tidak berhenti mendoakan keselamatan dan kebaikan untukmu Anya..."


"Ya Kak, terimakasih banyak, pasti berkat doa kalian juga aku akhirnya bisa seperti ini..."

__ADS_1


Namun kemudian, tiba-tiba Zaki berlutut di depan Anya.


"Maafkan aku Anya..maafkan aku, aku kakak yang tidak berguna, tidak mampu melindungimu hingga kamu harus mengalami ini semua..."


Zaki tahu benar, meski kini Anya dalam keadaan baik-baik saja, tapi pasti dalam perjalanannya Anya mengalami banyak kesulitan. Apalagi saat mendengar cerita dari Ibu bahwa Anya telah kehilangan bayinya waktu itu.


"Sudahlah Kak, jangan begini...yang sudah terjadi biarlah menjadi pelajaran untuk kita semua. Kesulitan yang kualami adalah hukuman yang pantas kuterima untuk dosa yang kulakukan. Yang terpenting sekarang kita sudah melewati semuanya dan bisa berkumpul kembali menjadi keluarga yang utuh meskipun sekarang kita harus tinggal terpisah...."


"Ya Anya aku senang sekali akhirnya kita masih bisa berjumpa dalam keadaan lengkap, meskipun sekarang ayah sedang sakit, beliau pasti sangat senang sekali kamu akhirnya mau pulang...semoga dengan begitu beliau bisa kembali bersemangat untuk lekas sembuh..."


Satu persatu pesanan mereka kemudian datang diantar pelayan.


Sejenak mereka menikmati makanan di sore yang syahdu itu. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak menikmati momen seperti ini. Dulu, jika Anya sedang suntuk atau merajuk, jika Kak Zaki sedang punya uang lebih dia akan mengajak Anya makan di luar untuk menghiburnya. Tinggal di lingkungan pondok membuat kehidupan mereka sedikit terkekang oleh aturan yang ada. Seperti remaja normal pada umumnya, terkadang baik Zaki maupun Anya merasa bosan dan ingin memberontak.


Selesai menghabiskan makanannya, Kak Zaki dan Anya masih betah disana sambil mengobrol tentang hal-hal ringan, juga tentang kenangan-kenangan mereka di masa kecil dulu. Saat sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba ponsel Zaki berdering.


Panggilan dari Ibu. Tanpa pikir panjang Zaki langsung mengangkatnya di depan Anya.

__ADS_1


"Assalamualaikum Bu..."


Sapa Zaki lebih dulu kepada Ibunya. Mendengar kakaknya menyapa Ibunya, membuat Anya penasaran.


"Walaikumsalam, zaki apa bisa kamu pulang secepatnya nak? Bapakmu drop dan masuk icu...", ucap sang Ibu di ujung telepon dengan nada panik.


Zaki sejenak berfikir, sebelum akhirnya menjawab.


"Baik Bu, aku usahakan untuk pulang secepatnya Bu, nanti ku kabari lagi kalau sudah dapat tiketnya..."


Anya sudah menduga, sesuatu yang buruk temgah terjadi saat mendengar Zaki berbicara dan raut wajahnya berubah panik.


"Ada apa Kak, apa terjadi sesuatu?"


"Bapak drop dan dirawat di icu, aku cari tiket untuk pulang hari ini juga..."


"Aku ikut Kak..."

__ADS_1


Kedua kakak beradik itu akhirnya meninggalkan cafe dengan terburu-buru.


__ADS_2