
Anton akhirnya benar-benar akan mengikuti Hasan kerumahnya, setelah mampir ke rumah Anya dan menjelaskan semuanya. Setidaknya Anton merasa lega setelah menceritakan semuanya dan berpamitan pada Anya. Bagaimanapun Anya berhak tahu tentang kabar dan keberadaannya.
Hasan selalu memanggilnya dengan nama Husein, yang mana di klaim sebagai nama aslinya. Dengan begitu Anton harus membiasakan diri dengan panggilan itu selama bersama dengan Hasan.
Anton masih saja merasa canggung, meski Hasan selalu menunjukkan sikap hangatnya dengan menceritakan berbagai kisah masa lalu mereka yang di harapkan bisa memancing sedikit ingatannya. Namun nyatanya Anton tetap belum bisa mengingat apapun. Tapi setidaknya Anton merasa aman, sebab Hasan memperlakukannya dengan sangat baik, sangat berbeda dengan perlakuan yang didapatnya dari Tuan Adrian sebelumnya.
Mobil terus melaju hingga sampai di sebuah kawasan perumahan elite. Anton sampai berdecak kagum menyaksikan deretan rumah-rumah nan megah seperti rumah dalam sinetron. Benarkah dirinya berasal dari keluarga yang kaya raya? Terbiasa hidup di tengah-tengah masyarakat kelas menengah membuat Anton sedikit tegang masuk ke lingkungan itu. Mobil akhirnya berhenti di sebuah rumah besar bergaya klasik.
"Ayo masuk, jangan merasa sungkan karena ini adalah rumahmu juga..."
Anton mengikuti langkah Hasan masuk ke dalam rumah besar itu.
__ADS_1
Begitu membuka pintu dan melangkahkan kaki ke dalam, sepasang suami istri yang sudah cukup berumur langsung berdiri dan menghampiri mereka.
"Husein? Kamu benar-benar Husein?", tanya sang lelaki tua sambil menyentuh setiap jengkal tubuh Anton.
"Akhirnya nak...akhirnya kamu pulang juga ke rumah ini...kami sangat bersyukur kamu bisa kembali dalam keadaan selamat..."
Lelaki itu berucap sambil memeluk tubuh Anton erat-erat. Anton pun berusaha membalasnya meski terasa canggung.
"Selamat datang kembali nak, kami sangat senang kamu akhirnya pulang kerumah ini..."
Setelah acara penyambutan yang cukup mengharu biru itu, Hasan memanggil seorang pelayan untuk membawakan barang-barang sekaligus mengantarnya ke kamar.
__ADS_1
"Namanya Ali, dia akan menjadi pelayan pribadimu untuk sementara waktu. Jika ada perlu sesuatu kamu bisa memanggilnya. Dan kamarku juga ada disamping kamarmu, kamu boleh memanggil dan menemuiku kapanpun kamu mau, mengerti?"
"Mengerti Tuan..."
"Panggil aku Hasan, aku adalah saudaramu, orang yang paling dekat denganmu dan paling bisa kamu percaya, ingat itu! Mengerti?"
"Ya, aku mengerti. Terimakasih banyak Hasan..."
"Istirahatlah dulu, pakaian dan semua barang pribadimu masih tersimpan rapi di kamar. Semua itu milikmu dan boleh kamu pakai...nanti jika waktunya makan aku akan memanggilmu..."
Memang Tuhan maha membolak-balikkan nasib manusia. Baru beberapa jam yang lalu Anton bekerja menjadi pelayan pribadi. Sekarang dia sudah menjelma menjadi tuan muda yang punya pelayan pribadi.
__ADS_1
Anton masuk ke dalam kamarnya dan menatap ke seluruh penjuru ruangan. Kamar yang sangat luas dengan perabot bergaya klasik yang terkesan sangat mewah. Bahkan luas kamarnya saja hampir separuh luas rumah Anya. Anton berjalan menuju ranjang besar berukuran king size yang terletak di bagian tengah kamar. Ranjang besar yang ternyata sangat empuk dan nyaman. Anton merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya. Setelah drama panjang yang dilaluinya seharian Anton merasa sangat lelah. Mungkin dengan tidur di ranjang yang nyaman ini bisa meredakan lelah dan penatnya. Semoga saja saat terbangun nanti, ini semua bukan sekedar mimpi.