
Perlahan Edward membuka mata nya, ia terkejut ketika sadar diri nya tidak memakai apa apa. Saat melihat Salsa yang sama dengan diri nya, baru lah sadar dengan apa yang sudah terjadi kemarin. Menyesal? tentu tidak, ia sangat menikmati nya. Edward hanya bingung bagaimana cara menjelaskan semua nya pada Narendra, jika sudah seperti ini ia sepertinya tidak akan bisa lepas dari Salsa.
"Bangun," ucap Edward.
"Aku sudah bangun," kata Salsa yang masih memeluk tubuh Edward dengan erat. Ia sangat betah berada di posisi itu, tubuh Edward memang sangat cocok untuk di peluk apalagi pagi pagi begini.
"Betah sekali ya, sakit tidak," tanya Edward.
"Sakit tapi enak, kan sudah aku katakan rasa kemarin," jawab Salsa.
"Begitu ya?? Memang kau bar bar sekali, sudah aku ingin mandi."
"Lagi yuk," ucap Salsa.
"Lagi lagi, nanti malam," kata Edward.
"Laki laki macam apa kamu, kata nya kalau laki-laki kalau sudah merasakan nya akan lengket, tapi kamu tidak sama sekali."
"Laki laki macam ini jarang ada." Edward mendekati dada Salsa yang terlihat menggemaskan di mata nya. Hidung nya menelusuri dada itu ia terpikat dengan aroma nya. Hembusan nafas Edward menimbulkan rasa yang aneh bagi Salsa. Ia memejamkan mata nya, karena tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan.
"Katakan siapa yang pernah menjamah nya," ucap Edward.
__ADS_1
"Kamu," jawab Salsa.
Mulut nya terbuka saat merasakan Edward melahap ke dua dada nya secara bergantian.
Sementara itu di kantor. Jack tidur di atas paha Nabila, ia ketiduran karena terlalu lama menunggu Nabila menyelesaikan tugas nya. Jika ada butuh nya memang Jack akan berbuat sangat manis pada Salsa. Siapa yang tidak ingin mendapatkan pacar baik seperti Nabila. Jack saja yang terlalu menutup mata nya.
"Nabila kamu dengan Jack pacaran?" tanya Vino, ia heran dengan kedekatan mereka berdua.
"Tidak kek, biar saja, dari atas sini dia sangat tampan."
"Jangan sampai kelewatan batas ya. Kakek tinggal dulu, semua nya sudah bisa kan?"
"Iya kek, aku tak akan berlebihan, aku juga sudah bisa mengerjakan semuanya. Hati-hati kek."
Vino tidak heran Nathan menghasilkan anak yang pintar seperti Nabila. Helen dan Nathan sama sama pintar, perpaduan mereka berdua menghasilkan Nabila yang mendapatkan kepintaran ke dua orang tua nya.
"Bangun," ucap Nabila.
"Hmmm sudah selesai," tanya Jack.
"Sudah lah, cepat bangun. Sudah mulai sore," jawab Nabila.
__ADS_1
"Makasih, aku sangat tenang tugas ku telah selesai."
"Sama sama, hanya terimakasih, tidak memberikan ku hadiah."
"Kau mau apa? aku bisa memberikan apapun yang kau mau, asalkan jangan aneh aneh."
"Tidak ada ah, aku membantu mu dengan ikhlas," ucap Nabila.
"Kau sudah pernah di cium," tanya Jack.
"Belum," jawab Nabila.
"Kau suka dengan ku kan? mencintai ku.."
"Iya, kamu tau sendiri."
"Sini aku cium, rasa nya sangat bahagia jika di cium orang yang di sukai," kata Jack.
"Ha... Di.. Cium..." Nabila tampak kebingungan.
"Mau tidak? aku tidak memberikan mu tawaran lagi, ini satu satu nya tawaran yang kau dapatkan."
__ADS_1
"Ma.. mau..."
Jack memegang wajah Nabila dan langsung mencium nya, mencium wanita bukan hal yang aneh untuk nya. Berbeda dengan Nabila yang memberikan ciuman pertama nya untuk Jack.