
"Kenapa tidak mau, kau dan dia bukan nya sejak dulu dekat," tanya Nathan.
"Aku menganggap dia adik ku yah, tidak lebih aku tidak mungkin menikah dengan nya," ucap Edward.
"Kenapa tida mungkin, kau tidak suka dengan nya?"
"Aku tida suka dengan nya, perasaan sayang ku pada nya hanya sebatas kakak pada adik nya. Aku juga yakin dia juga seperti itu pada ku, dia tidak mungkin suka dengan ku."
"Kata siapa tidak mungkin? cinta bisa datang kapan saja, Edward kau ingin membatah keinginan ayah mu ini, ayah tidak pernah meminta hal apapun dari mu, mungkin hanya ini saja Edward," kata Nathan.
"Aku sudah mencintai wanita lain ayah."
"Siapa dia? dia tidak mungkin sebaik Salsa."
"Hahaha dia jauh lebih baik dari Salsa," ucap Edward.
"Jangan bilang kau suka dengan adik mu sendiri," tanya Nathan.
"Kalau iya, apa salah?"
"Edward kau serius? tidak kau jangan gila, dia adik mu, kau tidak boleh menikah dengan nya."
"Hahaha aku bercanda yah, tetapi kan aku tidak mempunyai hubungan darah pada nya, jika kami menikah ya jelas tidak papa lah, tidak ada larangan," kata Edward.
"Tidak boleh, meskipun memang tak ada larangan dari mana pun, tetap saja ayah tidak akan merestui hubungan kalian. Kau sudah masuk dalam kartu keluarga kami," ucap Nathan.
"Ayah kok begitu si, kan sudah aku katakan kalau, bukan berarti iya."
"Ya mana tau kau benar-benar suka dengan adik mu sendiri. Dia akan aku jodoh kan dengan Jack saja," kata Nathan.
"Jangan, aku tida mengizinkan nya, Jack buaya yah, dia juga kasar," ucap Edward.
"Kau tau mana dia kasar," tanya Nathan.
"Aku satu pertemanan dengan nya, memang aku juga buaya tetapi dia lebih buaya dari buaya. Jangan jodohkan Nabila dengan Jack, dia sangat kuat muda dengan tangan."
"Halah jangan menjelek jelek kan nya di depan ku, kau hanya takut Jack mengambil Nabila dari mu."
"Edward kau masih perjaka kan," tanya Nathan.
"Tidak, aku sudah tidur dengan banyak wanita," jawab Edward berbohong.
"Ha? kau gila."
"Ayah buaya seperti ku tidak mungkin masih perjaka, aku sering berganti ganti pasangan."
"Kau rusak Edward, aku tidak pernah mengajari seperti itu pada mu." Nathan benar benar marah pada Edward, ia tidak suka gaya hidup Edward yang memang terlalu bebas.
"Sudah terjadi mau bagaimana lagi. Marcel lebih parah dari ku."
"Jangan ikut ikut dengan nya, kau ya kau, bukan dia," ucap Nathan.
"Maaf.."
__ADS_1
"Maaf maaf, sekarang jangan sampai kau mengulangi hal yang sama lagi, aku tidak ingin kau terinfeksi virus berbahaya."
"Aku pakai pengaman, murah kok yah."
"Edward!!!"
Edward hampir tertawa melihat kemarahan ayah nya, Nathan hampir tidak pernah marah pada nya. Ia hanya ingin mengetes bagaimana jika Nathan marah pada nya, ternyata memang sangat menyeramkan.
"Maaf," ucap Edward.
"Tidak ada yang sampai hamil kan," tanya Nathan.
"Tidak ada, kan aku sudah bilang aku pakai pengaman."
"Bodoh, bisa bisa nya seperti itu. Jangan sampai adik adik mu mengikuti semua jejak mu, awas saja Edward, aku akan menghukum mu."
"Sekarang tidak kan," tanya Edward.
"Kata siapa, fasilitas mu ayah sita." Nathan pergi meninggalkan Edward sebelum Edward menjelaskan semuanya.
"Ayah, aku...
"Diam atau kau aku usir," ucap Nathan.
"Aku menyesal berbohong, tidur dengan wanita saja tidak pernah. Aku hanya ingin tidur dengan Nabila," batin Edward.
"Abang ayah marah," tanya Nabila sambil mendekati Edward.
"Ya begitu lah, nama nya juga manusia kalau tidak marah ya tidak lengkap rasa nya," jawab Edward.
"Jangan pergi, ayah sedang tidak bagus mood nya, kamu bisa di makan nanti," kata Edward.
"Ya elah. Aku ingin bertemu dengan bang Marcel," ucap Nabila.
"Marcel, no no, jangan dekat dekat dengan nya."
"Kenapa dia sangat tampan sekali, aku rasa dia tertarik dengan ku," kata Edward.
"Hey kalian sepupu, jangan macam macam. Lebih baik sama abang saja.".
"Oh iya ya, dia sepupu kita Tapi kau abang ku, mana mungkin adik dengan abang."
"Nabila, tidur dengan abang yuk," ucap Edward.
"Tidak mau, tidak boleh," kata Nabila.
"Ayo sayang, abang akan bercerita tentang....
Edward menarik Nabila dan membawa nya paksa ke dalam kamar. Terkadang ini juga yang membuat Nabila tidak nyaman pada Edward. Tetapi memang Edward tidak melakukan apa apa pada nya, hanya bersantai sambil bercerita hal seru.
"Abang," teriak Nabila.
"Nabila abang akan menikah," ucap Edward sambil memeluk Nabila dengan erat.
__ADS_1
"Apa!! Dengan siapa? kalau abang menikah aku dengan siapa," tanya Nabila.
"Hahaha dengan pacar mu lah, makan nya sebelum abang menikah kau harus dekat dekat dengan abang, nanti kalau abang menikah abang tidak bisa seperti ini lagi pada mu, ya istri abang lah yang abang peluk peluk," jawab Edward.
"Abang menikah dengan siapa," tanya Nabila.
"Dengan Salsa, abang di jodoh kan dengan nya," jawab Edward.
"Oh dengan nya, dia seperti nya tertarik pada mu, nanti kalau kau menikah dengan nya, akan mempunyai baby yang sangat lucu."
"Hahaha abang tidak suka dengan nya, abang tidak mau dengan nya," ucap Edward.
"Abang suka dengan siapa si??"
"Dengan mu lah," kata Edward.
"Hahaha jangan berbohong, aku adik abang."
"Ya kalau dengan adik emang tidak boleh saling suka, kan abang ini bukan abang kandung mu," kata Edward.
"Kalian." Narendra langsung melompat ke atas ranjang bergabung dengan mereka berdua.
Narendra tidak pernah curiga jika Edward suka dengan Nabila, memang kedekatan mereka berdua seperti pada adik abang pada umumnya.
"Abang, hmmm aku mendapatkan pesan dari Salsa, kata nya dia ingin bertemu dengan ku nanti malam," ucap Narendra.
"Bagus lah," kata Edward.
"Sayang nya aku tidak bisa bang, kau saja lah yang mewakili ku," ucap Narendra.
"Lah kenapa aku? kau yang suka dengan nya, kenapa aku pulak yang bertemu dengan nya."
"Aku pergi dengan ayah bang, aku tidak mungkin menolak aja kan ayah, bisa di bantai aku," kata Narendra.
"Jadi aku datang mewakili mu, apa yang harus aku katakan, biasa nya ada hal hal yang harus aku katakan."
"Nah kau tau lah bang, mana mungkin aku mengatakan nya."
"Kalian ini ya, pasti ada rahasia kan," ucap Nabila yang merasa terabaikan.
"Tidak ada sayang." Edward mencium wajah Nabila.
Agar tidak simbul kesalahpahaman. Edward pasti juga mencium wajah Narendra, ia tidak jijik mungkin karena sudah terbiasa sejak kecil. Hanya Narendra saja yang risih.
"Kau ya aku tidak suka kau cium," ucap Narendra
"Hahaha Nabila saja tidak marah," kata Edward.
"Nabila pergi para pria ingin bicara berdua," ucap Narendra.
"Baik lah."
"Cium," ucap Edward.
__ADS_1
Cup... cup... Nabila mencium wajah Edward dan Narendra.