Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Bab 28


__ADS_3

Cup...


"Jangan cerewet," ucap Jack.


Nabila memegang bibir nya, ia kesal dengan Jack yang sangat mudah mencium nya.


"Jack..."


"Hahaha makan nya jangan cerewet, sekarang kita pacaran kan," tanya Jack.


"Tak lah, kamu ada ada saja, dia saja belum kamu ceria kan," jawab Nabila.


"Dia urusan, mencari bukti tak mudah sayang, selagi seseorang yang yang aku suruh mencari bukti tentang anak itu, kita pacaran dulu ya," kata Jack.


"Jack aku tak mau jadi yang kedua."


"Tapi cinta ku hanya untuk mu, aku bersumpah sama sekali tak mencintai nya lagi, dan aku bersumpah aku tak akan menyentuh nya lagi. Mengingat nya dengan pria lain sangat membuat ku jijik" ucap Jack.


"Jangan begitu, bukan nya dia pilihan mu. Ayo kah untuk apa menyesal dengan pilihan sendiri," kata Nabila.


"Sayang aku tak mau tau, kamu pacar ku.."


Jack melepaskan kalung nya, di kalung itu ada cincin yang sangat ia jaga, tak seorang pun boleh menyentuh nya.


"Pakai ini," ucap Jack.


"Jack itu kan sangat berarti untuk mu."


"Ini memang sangat berarti untuk ku, tapi kalau kamu yang memakainya akan lebih berarti lagi. Aku bisa sekaligus menjaga mu dan cincin ini. Kamu tau kan bagaimana aku mendapatkan nya dan menyayangi nya."


Jack meraih tangan Nabila dan memasang kan cincin itu. Hal itu benar-benar membuat Nabila sangat bahagia.


"Istri ku saja tak boleh memegang ini, dan kamu aku berikan secara langsung," ucap Jack.


"Terimakasih.."


"Kamu pacar ku." Jack memeluk Nabila dengan erat.


Waktu terus berlalu hari ini mereka menghabiskan waktu berdua dengan bersenang-senang. Tak ada yang menganggu hubungan hangat ini.


Pukul 7 malam mereka kembali ke hotel, perjalanan dari tempat mereka ke hotel sekitar 1 jam. Mereka berdua tak ingin Edward dan Salsa terlalu lama menunggu, sebenarnya juga Jack malah sangat ingin menginap di hotel berdua dengan Nabila, ia merasa tubuh nya tak enak tiba tiba, ia rasa karena ia terlalu lama bermain air dengan Nabila.


"Nabila kamu bisa nyetir kan, tubuh terasa tak enak, kepala ku terasa cukup pusing, aku tak mau terjadi apa apa pada kamu kalau aku maksa menyetir," kata Jack.

__ADS_1


"Kamu kenapa? jangan membuat ku khawatir, ya sudah aku saja yang menyetir."


Jack mengentikan mobil nya di tepi jalan, Nabila pun mengambil alih mobil itu, dari wajah Jack yang terlihat sedikit pucat, Nabila yakin Jack sedang demam."


Perjalanan tak lama lagi, hanya sekitar sepuluh menit lagi, Nabila tampak khawatir dengan keadaan Jack. Sesampai nya di hotel, Nabila langsung membantu Jack ke lantai atas.


''Kamu demam sayang, kamu membuat ku khawatir saja," ucap Nabila.


Jack sangat senang Nabila memanggil nya sayang, kalau seperti ini ia mau demam terus menerus agar mendapatkan perhatian lebih dari Nabila.


''Iya sayang, aku demam, aku sangat membutuhkan kasih sayang mu."


Di dalam kamar hotel Nabila langsung membantu Jack mengganti pakaian nya, pakaian Jack sudah basah karena keringat.


"Dalaman mu, aku malas membuka celana pendek mu," kata Nabila.


''Agghhkk." Jack menjatuhkan diri nya ke atas ranjang, memang kepala nya sangat pusing tetapi ini hanya akting nya agar Nabila membatu nya melepaskan semua nya, ia tak peduli Nabila melihat milik nya.


"Sayang seperti nya aku akan mati, maafkan aku belum memberikan mu kebahagian," kata Jack.


"Sayang." Nabila langsung memeluk Jack, ia baru sembuh dari rasa sakit yang Jack berikan, Jack baru saja memberikan kebahagian pada nya, masak Jack mau pergi meninggalkan nya begitu saja.


"Hiks hiks hiks jangan membuat ku takut sayang, jangan seperti ini." Nabila menangis sambil memeluk Jack dengan erat.


Jack terkejut melihat Nabila menangis seperti itu, ia tak pernah menyangka Nabila begitu mencintai nya, ia tak tau bagaimana rasa sakit nya Nabila saat ia menikah dengan Jesika, ia yakin perlu waktu lama agar Nabila kembali sembuh dari rasa sakit itu.


"Jangan begini, aku tak mau kehilangan mu lagi," rengek Nabila.


"Hahaha.." Sambil memegang kepala nya Jack tertawa. Melihat Nabila merengek pada nya membuat perut Jack terasa geli.


"Sayang dari pada kamu merengek tolong pakaikan aku baju, aku tak tahan dingin sekali."


"Iya maaf." Dengan cepat Nabila memakaikan Jack baju yang baru. Permasalahan di celana belum selesai.


Jack yang tak tahan berdiri memutuskan untuk melepaskan celana pendek dan d*laman nya langsung. Mata Nabila terbelalak melihat hal itu.


"Sini." Jack mengambil pengganti nya di tangan Nabila.


"Jack kamu tak tau malu," ucap Nabila.


"Bodoh amat Nabila, aku tak tahan, kepala ku sangat sakit sekali," kata Jack.


Nabila tercengang dengan ukuran joni nya Jack. Tak sengaja ia pernah melihat milik Edward saat sedang berenang, tetapi tak sampai seperti itu.

__ADS_1


"Aku butuh obat sayang," ucap Jack.


"Oh iya tunggu." Nabila mencari obat untuk Jack di kota P3K. Ia menemukan obat yang Jack perlukan, karena mereka baru saja makan Jack langsung bisa meminum nya.


"Makasih." Jack memeluk Nabila dengan erat.


"Aku kembali ke kamar dulu, nanti abang pasti mencari ku," ucap Nabila.


"Malam ini aku membutuhkan mu," kata Jack.


"Tapi.."


"Malam ini saja.."


"Ya sudah aku mandi dan berganti pakaian dulu Aku juga harus berbicara dengan abang."


"Aku tunggu."


Nabila keluar dari kamar Jack. Kebetulan Edward dan Salsa juga keluar dari dalam kamarnya.


"Dari mana Nabila," tanya Salsa.


"Dari kamar Jack, dia sakit. Aku baru mau bertemu dengan kalian."


"Dia sakit?? sayang kita tak jadi menginap di luar ya, adik ku sakit."


"Ya.. Padahal aku sudah mem boking..." Edward menghentikan ucapan nya.


"Ya sudah pergi saja, aku yang akan menjaga nya. Ini kunci mobil nya." Nabila memberikan kunci mobil pada Edward.


"Kamu yakin," tanya Edward.


"Yakin jangan memikirkan hal yang tidak tidak bang, dia sedang sakit," kata Nabila.


"Aku titip dia ya Nabila, jika sakit dia sangat manja."


"Iya aku mau mandi dulu, bye bye bersenang senang lah."


Edward dan Salsa pun pergi meninggalkan tempat itu.


"Sayang aku sedang tak enak badan, kenapa kamu mengubungi ku," kata Jack.


"Salah menghubungi suami ku??"

__ADS_1


"Tak salah, tapi aku ingin istirahat. Sudah ya." Jack melemparkan handphone nya ke samping tempat tidur nya.


"Aku jijik melihat wajah mu," ucap Jack dengan pelan, ia takut sambungan telepon itu belum mati.


__ADS_2