Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Bab 17


__ADS_3

"Sayang kita sudah menikah loh, kenapa harus gabung dengan keluarga mu," ucap Jesika.


"Jesika, aku belum bekerja, aku masih kuliah. Kamu tak memikirkan biaya hidup kita kalau tinggal sendiri, bagus kita tinggal di sini. Aku masih mengandalkan jatah bulanan dari ayah ku," kata Jack.


"Terus uang bulanan ku bagaimana," tanya Jesika.


"Ya nanti kalau aku sudah mendapatkan uang dari ayah ku. Sudah kita baru menikah beberapa menit yang lalu, jangan membuat ku pusing. Ini malam pertama kita, persiapkan diri mu dengan baik sayang. Aku di minta untuk menemui ayah ku," jawab Jack.


"Tapi aku sedang hamil sayang, kamu mau melakukan nya dengan ku," tanya Jesika.


"Oh ya tentu, kenapa tidak... Kemarin saja aku melakukan nya ntah sadar ntah tidak," jawab Jack.


Jack pergi meninggalkan Jesika sebelum banyak bicara. Ia menemui Bryan ayah nya, Jack berharap ayah nya memberikan uang bulanan lebih.


"Ayah..."


"Iya kau sudah datang," ucap Bryan.


"Jujur aku kecewa dengan mu, ini hal yang gila Jack, kau membuat wanita yang tak aku kenal sama sekali hamil. Itu hal yang gila, sekarang aku mau meminta mu untuk bekerja," kata Bryan.


"Bekerja, tapi aku masih kuliah."


"Apa guna nya kau menikah kalau tak mau bekerja," ucap Bryan.


"Terus kuliah ku bagaimana," tanya Jack.


"Nah itu bukan urusan ayah. Datangi paman mu Nathan, minta kerjaan yang tak menganggu kuliah mu," jawab Bryan.


"Ayah saja yang meminta nya, aku anak mu bukan si, kata nya ayah sangat menantikan ku dulu, tapi sekarang malah seperti ini."


"Jack, aku tak tau gaya apa yang aku lakukan dulu saat membuat mu, kau sangat berbeda dengan harapan ku. Ya sudah lah, aku akan mengatakan nya pada Nathan. Coba saja kau mau menjadi suaminya Nabila, pasti hidup mu sangat bahagia," kata Bryan.


"Ya sudah aku menikah lagi dengan Nabila, dia mau jadi istri ke dua ku."


"Jangan macam macam dengan nya. Kau jangan menyentuh nya lagi," ucap Bryan.


"Iya iya, uang bulanan ku tambah ya," kata Jack.

__ADS_1


"Iya kau harus berhemat juga, jika ada kerjaan untuk mu akan aku beritahu," ucap Bryan.


Jack kembali ke kamar nya, saat ingin di depan kamar ia berpapasan Nabila. Nabila berhenti sejenak untuk sekedar menyapa nya.


"Jack dari mana," tanya Nabila.


"Dari bertemu dengan orang tua ku. Nabila kau ada tabungan tidak," tanya Jack.


"Hmmmm ada si, untuk apa?"


"Boleh pinjam dulu, bulan depan aku kembalikan. Aku ada kebutuhan," kata Jack.


"Kirim saja rekening mu ke wa ku, nanti aku kirim???"


"Jangan banyak banyak, secukupnya aja. Aku tau kau banyak uang."


"Hahaha iya. Tunggu ya..."


Setelah mendapatkan uang dari Nabila, Jack langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia mendapatkan pegangan untuk beberapa minggu ini sebelum mendapatkan jatah bulanan dari ayah nya.


"Sayang," ucap Jack.


"Dari mana si," tanya Jack.


"Balkon, apa yang ayah mu katakan"


"Tak ada si." Jack mendekati Jesika dan mulai menciumnya. Jesika sudah sah sebagai istri nya dan ia bebas melakukan apa saja.


Di tempat lain, Edward sedang memikirkan nasib Nabila. Ia tau pasti Nabila sedang sakit hati, kenapa adik adik nya mengalami sakit hati yang sama, di tinggal menikah orang yang di sayangi.


"Sayang aku mual," ucap Salsa sambil memeluk Edward.


"Kamu hamil," tanya Edward.


"Tak sayang, baru dua hari kita melakukan nya, mana mungkin aku hamil," jawab Salsa.


"Mana yang sakit, jangan membuat ku khawatir," ucap Edward.

__ADS_1


"Perut ku, mungkin harus kamu tusuk," kata Salsa.


Edward menggelengkan kepala nya. Baru dua hari tak di sentuh wanita ini sudah mulai gatal pada nya. Walaupun memang tusukan nya sangat menagih kan.


"Aku sedang tidak mood, jangan dulu oke," ucap Edward.


"Sedang tak mood ya. Sayang mandi bersama yuk," rengek Salsa.


"Ini sudah malam Salsa, jangan macam macam ya. Tidur saja sana," ucap Edward.


"Tak mau, aku ingin kamu sayang," kata Salsa.


Edward memegang wajah istri nya dan menciumnya dengan lembut, hati nya memang sudah luluh pada Salsa. Ia memang belum mencintai Salsa, tapi ia sudah benar benar menganggap Salsa sebagai '


istri nya. Tak ada lagi yang bisa Edward lakukan selain menerima Salsa sebagai istri nya. Memang mereka berdua sudah di takdir kan menjadi pasangan suami istri.


"Dia bangun tu, kamu benar-benar tak mau," tanya Salsa.


"Mau main dimana sayang,'' tanya Edward.


''Di ranjang lah, dimana lagi??"


"Aku tak ingin kalau gitu, aku memerlukan sesuatu yang menantang," ucap Edward.


"Ya dimana lah, aku tak tau, aku suka saja dimana pun," kata Salsa.


"Di ruang gym ku." Edward membawa istri nya ke ruangan gym nya.


Memang rungan Gym itu berbeda lantai dengan kamar nya. Kamar nya ada di lantai tiga sedangkan ruang gym ada di lantai dua.


Saat masuk ke dalam sana, Edward dan salsa kikuk melihat Bryan dan Nathan sedang berolahraga. Bryan dan Nathan sampai saling menatap melihat kedatangan mereka.


"Kalian mau apa," tanya Nathan.


"Nathan kau seperti tidak pernah saja, ayo jangan ganggu mereka," ujar Bryan.


"Oh iya aku tau Edward itu suka tantangan, maaf ya kalau kami menganggu mu," ucap Nathan.

__ADS_1


"Nah itu, hati hati saja ya Edward." Bryan dan Nathan pergi meninggalkan tempat itu.


Meninggalkan Edward dan Salsa yang diam kikuk. Mau tak jadi tetapi sudah tanggung, Edward menarik tangan Salsa menuju ke salah satu alat yang sangat strategis. Ia sudah membayangkan nya sejak kemarin bermain di sini.


__ADS_2