
"Tidak bisa begitu, kau harus membicarakan masalah ini dengan istri mu dulu.."
"Ayah aku sudah membicarakan hal ini dengan nya, dia sih setuju saja. Aku hanya ingin berkarir dengan baik ayah, aku sudah mengatur penerbangan dan urusan di sana, mungkin minggu depan aku akan berangkat," kata Narendra.
"Kenapa kau tidak membawa Mawar?"
"Tidak ah, dia akan merepotkan ku, sudah jangan khawatir yah, aku bisa menjaga diri ku dengan baik Kalau dia masih setia dengan ku dia akan menunggu ku, tetapi kalau dia tidak ingin dengan ku lagi ya sudah," kata Narendra.
"Kok jadi begini si, kan kalian berdua yang memutuskan pernikahan ini, kenapa kau seperti tidak suka dengan nya."
"Aku suka dengan nya, aku mencintai nya, sebelum aku menikah dengan nya aku sudah memutuskan hal ini, tidak mungkin semua rencana dan konsep yang telah aku buat sejak lama tidak aku realisasi kan, aku benar-benar berjuang untuk ini," jelas Narendra.
Nathan tidak tau harus berbuat apa lagi, memang Narendra sudah berencana sejak lama untuk melakukan hal ini, mungkin memang mereka berdua harus berpisah sejenak.
"Sayang.." Mawar berjalan mendekati Narendra dan duduk di samping nya.
"Mas aku ingin keluar boleh kan," tanya Mawar.
"Mau kemana," tanya Narendra.
"Aku mau ke Singapura mas," jawab Mawar.
"Serius..."
"Membeli buah buahan, aku ingin ngerujak dengan Nabila," kata Mawar.
"Kau hamil," tanya Narendra.
"Tidak ah, mana mungkin aku hamil, tetapi kalau aku hamil ya tidak masalah juga kan, kamu kan suami ku," jawab Mawar.
"Ya aku belum ingin punya anak Mawar," kata Narendra.
"Minggu depan aku akan pergi, mungkin 10 bulan lah," ucap Narendra.
"Apa!!!"
"Jangan sok kaget bukan nya aku sudah memberitahu mu, aku kan ingin belajar."
"Lama sekali 10 bulan," ucap Mawar.
__ADS_1
"Ya memang waktu nya segitu, makan nya kau jangan sampai hamil, nanti kau sendiri yang ribet kalau kau hamil tanpa aku," kata Narendra.
"Aku ikut ya, nanti yang memberikan mu jatah siapa?"
"Kayak di sana tak ada wanita saja," ucap Narendra.
Mawar langsung menaikan alis nya.
"Aku bercanda, aku akan sibuk di sana, tidak sempat memikirkan hal itu," kata Narendra.
"Tapi..."
"Percaya pada ku, aku akan setia dengan mu, ya walaupun awal nya pernikahan kita ini jebakan dari ku, tetapi aku malas menikah untuk ke dua kali nya. Sudah lah lebih baik kita selama nya, tetapi memang aku harus pergi."
Mawar memeluk Narendra, meskipun Narendra galak dan suka marah marah pada nya tetapi kalau tidak ada suami nya ini hidup nya pasti akan terasa sangat hampa, jujur perasaan nya pada Narendra sudah lebih dari biasa nya.
"Kau suka dengan ku ya.."
"Hmmmm." Mawar enggan menjawab nya, ia hanya memeluk Narendra dengan erat.
Malam hari nya, para wanita sudang membuat rujak di lantai tiga, para pria juga sedang nonton pertandingan bola tidak jauh dari mereka semua.
"Hahaha iya ya, lihat Edward dan Narendra mereka berbagai makanan bersama, biasanya sudah dekat sedikit saja sudah tidak akur."
"Kau akan pergi," tanya Edward.
"Iya minggu depan," jawab Narendra.
"Terus istri mu bagaimana," tanya Edward.
"Ya di rumah lah, tidak mungkin dia ikut," jawab Narendra.
Narendra masih tidak sadar siapa yang bertanya pada nya, saat ia sadar mulut nya yang sedang mengunyah makanan langsung berhenti seketika.
"Sejak kapan kita dekat, jangan sok akrab pada ku," ucap Narendra.
"Hey sampai kapan kau mempermasalahkan hal itu lagi si, sudah lah jangan begini," kata Edward.
Sebenarnya Narendra juga sudah tidak masalah dengan Edward, ia sudah mengikhlaskan Salsa, mau bagaimana pun ia membenci Edward, Salsa tidak akan bisa menjadi milik nya. Toh ia juga sudah mempunyai Mawar yang sebenarnya tidak kalah dari Salsa.
__ADS_1
"Hmmmm," gumam Narendra.
"Kau memaafkan ku," tanya Edward.
"Hmmmmm," jawab Narendra.
Akhirnya dua orang ini berbaikan juga. Dengan penuh semangat Edward langsung memeluk Narendra, ia sudah sangat merindukan adik nya yang seperti ini.
"Ahh jangan asal memeluk," ucap Narendra.
"Halah banyak sekali gaya mu," kata Edward.
"Nah begini kan juga baik, dari pada kalian berdua bertengkar terus menerus lebih baik berbaikan seperti ini," ujar Nathan.
Setelah selesai menonton satu persatu dari mereka masuk ke dalam kamar, termasuk para wanita yang sudah masuk kamar sejak tadi.
"Aku ikut dengan mu lah," ucap Edward.
"Ikut? aku lama loh sekitar 10 bulan," kata Narendra.
"Tidak lama, mungkin seminggu saja," ucap Edward.
"Lalu adik ku bagaimana?"
"Aku sudah berkata dengan nya, dia akan menunggu ku, itu sebabnya aku bisa ingin dia hamil dulu. Kalau dia hamil akan repot," kata Narendra.
"Aku sudah tau kau sudah merencanakan semua ini sejak lama, aku tidak Bisa melarang mu, aku hanya berharap kau bisa setia dengan nya, aku rasa Mawar sudah jatuh cinta dengan mu," ucap Edward.
"Ya aku akan setia dengan nya, kau jangan khawatir.." Narendra menepuk pundak Narendra.
Kalau seperti ini memang terasa sangat hangat, mereka tinggal satu rumah memang tidak baik jika selalu bertengkar. Apalagi ke dua nya sudah sangat dekat sejak kecil, mau bagaimana pun rasa sayang di antara ke dua nya lebih besar dari rasa benci di antara mereka berdua.
"Sudah waktunya jatah," ucap Narendra.
"Hadeh dasar, aku pikir kau tidak akan langsung melakukan dengan nya. "
"Ha?? tidak akan langsung kau salah, aku ingin langsung lah, walaupun aku tidak ingin dia hamil jatah is jatah," ucap Narendra sambil pergi meninggalkan Edward.
Edward hanya menggelengkan kepala nya, ia sudah tidak heran dengan sifat Narendra yang seperti itu.
__ADS_1