
Keesokan harinya...
"Sudah siap untuk pergi," tanya Marvin.
"Sudah dong, kau tidak papa pergi meninggalkan anak dan istri mu," tanya Nathan.
"Tidak papa lah, lagi pula hanya satu minggu," jawab Marvin.
"Hanya satu minggu pun, kasihan anak mu," kata Nathan.
"Oh jadi kau ingin pergi sendiri," tanya Marvin.
"Tidak juga si, hahaha ayo. Jika aku pergi sendiri tidak ada yang menahan ku jika aku emosi pada seseorang," ucap Nathan.
Nathan memang sangat penurut pada orang di sekitar nya, hanya saja ia tetap tidak bisa mengontrol emosi nya jika dengan orang asing. Nathan seperti bom atom yang dapat meledak kapan saja.
Di tempat lain yang cukup jauh dari hirup pikup kota besar. Helen sudah hidup bahagia dengan kehidupan baru nya, saat ini Helen bekerja sebagai pelayan restoran di sebuah restoran dekat dengan pantai. Dari seseorang pemimpin turun tahta menjadi pelayan memang hal yang gila. Semua itu terjadi karena cinta, cinta yang membuat Helen sampai seperti ini. Tetapi kehidupan nya jauh lebih bahagia ketika ia seperti ini, itu lah yang membuat Helen benar-benar yakin dengan semua keputusan yang ia ambil.
"Sudah satu tahun," ucap Zahra.
"Iya sudah satu tahun aku bekerja di sini, semuanya sangat luar biasa, pengalaman yang sangat luar biasa," kata Helen.
"Aku juga sangat senang kau tetap di sini, mendengar semua cerita mu dulu membuat ku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Dan melihat mu yang sekarang yang jauh lebih bahagia, aku sangat senang Helen. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan seperti ini," ucap Zahra.
Helen tersenyum manis pada Zahra, tidak semua apa yang ia rasakan dulu ia cerita kan pada Zahra, bahkan beberapa hal ia karang untuk menutupi semuanya. Ia tidak semudah itu menceritakan kehidupan sesungguhnya pada orang lain.
"Menikah lah," kata Zahra.
"Tidak, aku tidak akan menikah," ucap Helen.
"Hadeh itu si bule mengejar ngejar mu, lebih baik kau dengan nya," kata Zahra.
"Tidak mau, aku tidak percaya dengan pria, pria hanya memberikan rasa sakit," ucap Helen.
"Ayo moveon Helen, wanita cantik seperti mu itu banyak yang mengincar, dari pada kau menjomblo," kata Zahra.
__ADS_1
"Menjomblo itu pilihan ku, bukan takdir ku." Helen benar-benar yakin dengan keputusan nya. Ia memang sangat trauma dengan apa yang telah terjadi pada percintaan nya.
Saat sedang asik mengobrol bos mereka berdua datang mendekat.
"Kalian ya, asik mengobrol saja."
"Hehehe kan sudah tidak ada pekerjaan lagi buk," kata Zahra.
"Besok kalian datang pagi, akan ada pertemuan penting di restoran ini. Kalian harus mempersiapkan nya dengan sangat baik."
"Siap buk," ucap mereka berdua.
Pukul 9 malam Nathan dan Marvin sampai di pulau itu. Mereka berdua sampai malam karena berangkat sore hari. Belum lagi perjalanan laut yang memerlukan waktu yang cukup lama.
"Di Vila kan," tanya Nathan.
"Iya, tak jauh lagi," jawab Marvin.
"Setelah ini aku ingin jalan jalan," kata Nathan.
"Aku lelah Nathan, istirahat saja lah," ucap Marvin.
"Kau yakin? nanti kau nyasar lagi."
"Tidak akan, ayo dimana Vila kita." Nathan sudah tidak sabar jalan jalan ke pinggir pantai.
Setelah meletakan semua barang barang nya. Nathan langsung pergi ke pantai yang memang tidak jauh dari Vila nya.
"Sejuk sekali," ucap Nathan.
Saat sedang jalan santai tiba tiba anak kecil menabrak nya sampai anak itu terjatuh.
"Aduh," ucap anak itu.
"Hey kau tidak papa," tanya Nathan dengan membantu anak itu berdiri.
__ADS_1
"Tidak papa paman," jawab anak itu.
"Siapa nama mu," tanya Nathan.
"Edward."
"Nama yang bagus. Diman orang tua mu kamu kehilangan orang tua mu?"
"Mamah di sana," ucap nya dengan suara khas anak kecil.
Nathan yang memang sangat suka dengan anak kecil, memutuskan untuk mengantarkan anak itu pada mamah nya.
"Mau paman antar," tanya Nathan.
"Paman siapa? kenapa baik pada Edward?"
"Tidak boleh baik dengan anak kecil yang menggemaskan seperti mu?"
"Kata mamah jangan percaya dengan orang lain."
"Hahaha itu agar kamu tidak di culik, paman tampan seperti ini tidak mungkin menculik mu," kata Nathan.
"Sangat tampan, seperti Edward."
Nathan merasa anak ini begitu mengasyikkan. Ia jadi ingin berlama-lama dengan nya, Edward seperti Marvel di rumah, sangat aktif dan tidak takut dengan diri nya.
"Ayo paman antar," kata Nathan sambil menggendong Edward.
"Mamah di sana."
"Iya ayo ke sana," ucap Nathan.
Nathan membawa anak itu ke tempat mamah nya, ia bingung kenapa mamah nya membiarkan anak seperti Edward berpergian sendiri, itu sangat berbahaya.
"Permisi," ucap Nathan.
__ADS_1
"Mamah," teriak Edward.
"Iya sayang." Wanita itu membalik bandan nya.