
Saat sedang bermain dengan Edward, Handphone Nathan berbunyi, ia menjauh dari Edward untuk mengangkat panggilan itu. Terlihat panggilan itu berasal dari Marvin.
"Iya halo."
"Nat, maaf ya maaf sekali," ucap Marvin.
"Ada apa?" Nathan bingung kenapa tiba-tiba Marvin meminta maaf pada nya.
"Maaf nat, aku harus kembali lebih dulu, anak ku tiba-tiba sakit, aku tidak mungkin di sini sedangkan istri ku pasti ke sulitan mengurus nya," kata Marvin
"Ya sudah pulang lah, aku tidak papa di sini sendiri, urus dulu anak mu," ucap Nathan.
"Aku sudah di perjalanan pulang, kunci Vila ada di satpam. Kau hanya perlu menghadiri beberapa pertemuan lagi, tidak sekarang aku mengatur nya, besok dan lusa, setelah itu kau bebas," kata Marvin.
"Iya terimakasih, jangan memikirkan ku, sekarang fokus ke anak mu."
Setelah mengangkat telepon itu. Nathan kembali mendekati Edward. Yang awal nya Nathan ingin pergi beberapa saat lagi, tidak jadi karena tidak ada yang harus ia kerjakan. Lebih baik bermain dengan Edward dan mencari tau siapa Helen.
"Ayah mau bekerja lagi," tanya Edward.
"Tidak sayang, ayah sudah selesai bekerja, mungkin besok baru bekerja," jawab Nathan.
"Jauh? pergi meninggalkan Edward?"
"Tidak, dekat kok, Edward bisa ikut."
Helen mendengar semua percakapan Edward dan Nathan, rumah mereka kecil dan tidak ada ruangan kedap suara, jadi semuanya masih bisa Helen dengar. Helen yakin telah terjadi sesuatu pada Nathan yang membuat Nathan tidak mengingat diri nya.
Helen mengambil handphone nya dan langsung menghubungi sahabat lama nya.
"Helen," teriak Tiara.
"Ssttt diam, pelan pelan jangan berteriak," kata Helen.
"Kau sudah sangat lama tidak menghubungi ku, bagaimana kabar mu," tanya Tiara.
"Sangat baik, bagaimana dengan mu?"
"Aku sedang hamil lagi," kata Tiara.
"Asik membuat anak saja kau, aku ingin tanya. Apa yang telah terjadi pada keluarga Vins, apa Nathan sudah menikah?"
"Hahaha kenapa kau bertanya tentang mereka, kau ingin kembali dengan Nathan."
"Tidak, aku hanya penasaran saja," kata Helen.
__ADS_1
"Kau apa tidak mempunyai televisi, Nathan kecelakaan hebat beberapa hari setelah kepergian mu, sampai sekarang perjodohan mereka tidak ada kabar dan Nathan juga tidak ada kabar. Tapi kata suami ku, dia sudah kembali si, aku juga tidak tau."
"Oh begitu, terimakasih cantik, setelah anak mu lahir aku akan menjenguk mu. Jaga rumah ku dengan baik, jangan asik kau buat kawin saja."
"Helen, aku tunggu kau, jangan lupa membawa Edward dan juga ayah nya," kata Tiara.
"Edward tidak mempunyai ayah, aku membuat nya otodidak." Helen mematikan sambungan telepon itu.
Setelah mendengar semua perkataan Tiara. Helen dapat menyimpulkan jika Nathan seperti ini karena kecelakaan hebat yang menimpa nya. Ia menghilang karena mungkin sedang menjalin pengobatan sampai mulus seperti sekarang. Pantas saja Nathan terlihat lebih kurus dari sebelumnya, tetapi wajahnya terlihat lebih dewasa.
Helen membawa makanan yang ia masak ke ruang tamu, ia menyiapkan semuanya untuk mereka bertiga makan.
"Masakan sudah siap," ucap Helen.
"Yea makan makan makan," teriak Edward.
"Sayang jangan seperti itu, duduk yang benar dan makan dengan baik," kata Helen.
"Ayah suapi Edward."
"No no no, Edward makan sendiri," ujar Helen.
"Tidak mau..."
"Tidak papa, ayo sayang ayah suapi." Nathan memangku Edward. Ia yang memang sangat suka dengan anak kecil, sifat nya itu tidak menghilang dari dulu sampai sekarang.
"Kenapa memperhatikan ku," tanya Nathan.
"Tidak ada," jawab Helen sambil membuang wajahnya.
"Mamah dengan ayah sedang bertengkar," tanya Edward.
"Tidak sayang," jawab Helen.
"Mamah mu galak," kata Nathan.
"Mamah jangan galak galak pada ayah, nanti ayah pergi lagi meninggalkan Edward."
"Tidak sayang, ayah mu saja yang terlalu baper, sudah makan ya, makan yang banyak," kata Helen.
Mereka telah selesai makan, Edward masih duduk di atas pangkuan Nathan dan mulai tertidur. Memang biasanya setelah makan pasti Edward akan tertidur.
"Kau sangat tampan," ucap Nathan sambil mengusap wajah Edward.
"Bawa dia ke kamar," kata Helen.
__ADS_1
"Iya." Nathan membawa Edward ke kamar nya, ia meletakkan Edward ke atas ranjang secara perlahan. Sebelum pergi meninggalkan nya, Nathan memberikan kecupan manis.
"Sumpah dia seperti ayah sungguhan," batin Nathan.
Helen menarik Nathan keluar dari kamar Edward karena ada yang harus ia bicarakan dengan Nathan.
"Tugas mu sudah selesai," ucap Helen.
"Maksud mu," tanya Nathan.
"Berhenti menjadi ayah bohongan untuk nya. Terimakasih untuk semua nya dan pergi dari sini, aku sudah tidak memerlukan mu lagi."
"Kau tidak tau diri ya, aku sudah membantu mu. Jika aku pergi nanti dia bangun dan akan menangis mencari ku," kata Nathan.
"Aku bisa memberikan penjelasan pada nya. Aku bisa mem...
"Berikan penjelasan jika aku bukan ayahnya, di mana hati mu, kau gila," potong Nathan.
"Terus dengan kau tetap di sini, apa semua nya akan baik baik saja? apa semuanya akan selesai? Tidak Nathan, aku akan terus berbohong pada nya"
"Kau tidak berbohong, aku pasti ayah nya, kau yang sedang membohongi diri ku," kata Nathan.
"Kau bukan ayah nya Nathan," ucap Helen.
"Bohong, aku pasti ayah nya, dia langsung lengket pada ku, itu bukti nya."
"Itu bukan bukti Nathan, kau suka dengan anak kecil kau mudah dekat dengan anak kecil."
"Kau tau dari mana aku suka dengan anak kecil. Kau istri ku. Dan dia anak ku," ucap Nathan.
"Kau semakin ngawur, aku bukan istri ku dan dia bukan anak mu," kata Helen.
"Wajah mu tidak asing untuk ku, kau seperti seseorang yang pernah aku kenal, kau pasti seseorang yang penting di masa lalu ku. Katakan kau pacar ku? tunangan ku atau kau istri ku?"
"Ayah," teriak Edward.
Ia menangis karena mendengar pertengkaran Nathan dan Helen.
"Sayang." Nathan langsung berlari mendekati Edward.
"Edward bukan anak ayah," tanya nya dengan tangisan di wajah kecil nya.
"Edward anak ayah, jangan dengar kan ucapan mamah." Nathan langsung menggendong Edward.
"Kau puas telah menyakiti hati anak ini, aku akan membawa nya jalan jalan. Nanti aku akan kembali dengan nya." Nathan membawa Edward pergi meninggalkan Helen.
__ADS_1
Helen meneteskan air matanya, kenapa Nathan kembali datang setelah kehidupan nya telah membaik. Kedatangan Nathan membuat luka lama nya kembali terbuka lagi, rasa nya benar-benar sangat sakit