Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Sah.


__ADS_3

"Mamah ayah, mamah ayah." Edward melompat-lompat melihat Nathan dan Helen sudah berada di atas pelaminan. Beberapa waktu lalu mereka berdua sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Semua nya berjalan dengan sangat lancar. Akhirnya apa yang mereka berdua impikan akhirnya terjadi juga.


Helen dan Nathan melambaikan tangan pada Edward, sudah hampir dua hari mereka berdua tidak bertemu dengan anak itu. Persiapan pernikahan yang padat membuat mereka berdua berpisah untuk sementara waktu dari Edward.


"Nenek ayah dan mamah sedang apa," tanya Edward.


"Mereka sedang bahagia, Edward senang ayah dan mamah bersama?"


"Senang, sekarang Edward sudah punya ayah yang selalu bersama dengan Edward."


"Bagus sayang, kalau kamu menginginkan seorang adik, jangan kemana mana ya tetap bersama dengan nenek ya. Jangan dekat dekat dengan mamah dan ayah."


"Begitu?"


"Iya sayang, kalau ayah dan mamah manggil baru Edward ke sana," ucap Citra.


"Oke."


Edward salah satu anak yang sangat mudah di berikan pengertian. Apalagi Citra benar-benar sangat baik pada Edward, hal itu membuat Edward merasa sangat nyaman. Jika sudah seperti itu, Edward pasti akan menurut saja apa yang Citra katakan.


"Sayang," ucap Nathan.


"Iya, aku sedang memperhatikan Edward," kata Helen.

__ADS_1


"Kamu suka suasana nya, ini benar benar sangat mewah dan luar biasa," ucap Nathan.


"Iya sayang, aku sangat suka. Tapi gaun ku berat sekali," kata Helen.


"Kamu sangat cantik seperti itu." Tangan Nathan memperbaiki gaun di daerah dada Helen yang sedikit terbuka.


"Nathan."


"Hehehe kan sudah sah." Nathan memang mengambil sedikit kesempatan kecil.


"Sabar Nathan," teriak Riga.


"Mas jangan buat malu," ucap Alfi.


"Hahaha rasakan," kata Nathan sambil tertawa melihat Riga di marah oleh istri nya.


"Wah sangat luar biasa." Helen berdiri di balkon kamarnya, pemandangan dari sana benar benar sangat luar biasa indahnya.


Nathan memeluk Helen dari belakang, ia sudah mengganti pakaian nya dengan pakaian tidur Berbeda dengan Helen yang masih memakai memakai gaun pernikahan nya.


"Sayang ayo masuk," ucap Nathan.


"Kenapa buru buru sekali si," tanya Helen.

__ADS_1


"Sayang, ayo masuk aku sudah tidak sabar," jawab Nathan.


"Aku berganti pakaian dulu." Helen melepaskan pelukan Nathan dan berlari masuk terlebih dahulu dari Nathan.


"Oh seperti nya dia takut aku makan," ucap Nathan.


Nathan berbaring di atas kasur. Ia mematikan handphone nya agar tidak ada yang menganggu nya malam ini.


"Sayang," ucap Nathan.


"Iya tunggu sebentar." Helen berjalan keluar dari ruang ganti dengan memakai pakaian tidur seperti Nathan.


"Kamu tidak pakai kaca mata ya, menerawang," ucap Nathan.


"Tidak sehat tau, aku tidak bisa memakainya jika tidur. Itu sebabnya kamar ku dengan kamar Edward aku pisah," kata Helen.


Helen naik ke atas kasur, dan memeluk Nathan suaminya. Ia sudah pasrah dengan apa yang terjadi malam ini pada nya. Nathan pasti tak akan melepaskan nya. Ia tidak bisa mencari alasan apapun lagi.


"Sayang," ucap Nathan sambil membuka baju nya sendiri.


"Gerah," tanya Helen. Helen membantu Nathan melepaskan pakaian nya.


"Sangat gerah."

__ADS_1


Setelah Nathan melepaskan baju nya. Helen kembali memeluk Nathan dengan erat. Dengan Nathan tidak memakai baju rasa nya sangat hangat sekali. Helen sangat suka memeluk Nathan seperti ini.


Helen menurunkan pakaian Helen, ia sudah sangat siap untuk bertempur malam ini.


__ADS_2