
"Mau kemana sayang," tanya Citra.
"Mommy aku ingin melihat Helen," jawab Nathan.
"Tidak boleh kemana mana, kamu sedang tidak sehat," kata Citra.
"Mommy." Nathan memasang wajah melas nya.
Dari ketiga anak nya, memang Nathan yang paling manja, paling nakal, paling menggemaskan inti nya yang paling paling lah. Hal itu terkadang membuat Citra Helen, bagaimana bisa watak Vino hampir turun 100 persen pada Nathan.
"Jangan memasang wajah seperti itu, jika daddy mu tau pasti dia akan marah pada mu."
"Kenapa marah pada ku? aku tida salah," kata Nathan.
"Kata siapa kau tidak salah, kau salah," ucap Citra.
"Mommy aku tidak salah, aku seperti ini karena daddy mengirim ku ke sana."
"Aku denger kau tidur yang membuat Helen pergi sendiri, itu pasti karena kau kelelahan naik mobil kan. Sudah mommy katakan pakai supir sayang, pakai supir kamu nyesel sekali."
"Hehehe kan aku ingin Mandiri mom," ucap Nathan.
Citra duduk di atas kasur, ia menepuk-nepuk pahanya agar Nathan kembali berbaring. Nathan membuang nafas nya dengan perlahan, lalu ia kembali berbaring dan meletakkan kepala nya di atas paha Citra.
"Mommy daddy tidak meminta anak lagi kan," tanya Nathan.
"Kenapa emang nya, daddy mu itu tidak bisa di tebak," jawab Citra.
"Iya daddy pasti sering meminta jatah, jatah dan jatah jika mommy hamil lagi bagaimana, aku tidak ingin punya adik lagi, aku tetap ingin menjadi kesayangan mommy."
"Iya iya sayang, katakan pada daddy jangan sering sering meminta jatah," kata Citra.
"Daddy masih kuat mom," tanya Nathan.
__ADS_1
"Sayang sudah terlalu jauh," jawab Citra.
"Hehehe penasaran saja, daddy berotot seperti itu pasti sangat jago, aku harus berguru pada nya," kata Nathan.
"Berguru lah pada nya, mommy yakin pasangan mu tidak akan kecewa," ucap Citra.
Vino datang sambil menggelengkan kepala nya, ia tau diri nya sedang menjadi bahan cerita mereka berdua. Jika diri nya tidak ada pasti diri nya menjadi bahan cerita mereka berdua.
"Sedang membicarakan daddy," tanya Vino.
"Hmmm tanya saja pada anak mu."
"Nathan," ucap Vino.
"Hehehe sini dad kita bercerita," kata Nathan.
"Cerita apa ha?" Vino berbaring di samping Nathan.
"Oh begitu ya, kalian ingin menyembunyikan sesuatu pada Mommy."
"Daddy bagaimana saat malam pertama mommy," tanya Nathan.
"Bagaimana sayang, aku sudah lupa," jawab Vino.
"Kamu saja lupa bagaimana aku, noh hasil malam pertama nya sudah sebesar ini."
"Hahaha kamu benar, sudah sangat besar. Nathan giliran kau bagaimana rasakan malam pertama."
"Daddy tahan berapa lama, aku dengar Calvin dan Marinir bisa berjam jam," tanya Nathan.
"Sudah pasti lebih dari mereka, daddy sudah sangat berpengalaman," kata Vino.
"Hahaha boleh aku mengintip," tanya Nathan.
__ADS_1
"Boleh jika mau mata mu aku congkel," jawab Vino.
"Hahaha tidak tidak, aku hanya penasaran saja."
"Sabar ya Nat, maafkan daddy yang terlalu mengekang mu, nanti juga ada waktu nya. Daddy janji akan mempersiapkan jodoh terbaik untuk mu," kata Vino.
"Hmmm tidak perlu, aku bisa mencari nya sendiri, aku tampan, kaya raya banyak wanita yang tertarik pada ku," ucap Nathan.
"Burung mu besar tidak," tanya Vino.
"Nah itu dad, aku tak tau standar nya bagaimana, apa dia bisa membuat ku mempunyai anak," jawab Nathan.
"Mana daddy lihat."
"Mommy jangan sampai lihat aku malu."
Nathan menunjukan kebanggaan nya pada Vino untuk memastikan nya, ia takut di bawa standar yang membuat istri tidak puas."
"Daddy geli," ucap Nathan.
"Dua telur nya bagus, eh kenapa dia bangun"
"Ya karena daddy bolak balik."
"Hahaha dia responsif, berarti bagus."
"Bagaimana dad," tanya Nathan.
"Ukuran nya mantap, lebih bagus dari milik Daddy malahan, dua telur nya seimbang kau jarang olahraga lima jari kan, dan dia sangat responsif, sangat bagus. Jangan khawatir lagi oke."
"Oke dad."
Citra hanya bisa menggelengkan apa yang dilakukan Vino dan Nathan, jika sedang kompak mereka sangat kompak, jika sedang bertengkar bisa sampai bertahun-tahun lama nya, Baru-baru ini saja mereka berdua kembali kompak seperti sedia kalah, sebelum nya Nathan benar-benar sangat membenci daddy nya.
__ADS_1