
"Sudah," ucap Helen.
"Terimakasih ay, sudah bersih aku suka kebersihan," kata Nathan.
"Sudah ayo makan, nanti makanannya jadi dingin kalau tidak cepat di makan," ucap Helen.
Helen keluar lebih dulu dari Nathan karena Nathan harus memakai pakaian nya lebih dahulu.
"Dia sangat tampan jika bersih seperti itu, wajah nya benar benar menunjukan jika Nathan memiliki darah bule."
Tak lama Nathan keluar hanya bertelanjang dada, ini tujuan membersihkan diri nya dari bulu bulu yang menganggu agar ia terlihat sempurna jika keluar dari dalam kamar tanpa memakai baju.
"Nathan tidak pakai baju," tanya Helen.
"Untuk apa Helen, ini sudah malam, aku malas mengotori baju." Nathan berjalan mendekati Helen.
"Nathan kau tidak tau jika aku tidak bisa melihat mu seperti ini, aku jadi gerah nat," batin Helen.
"Kenapa, ayo makan ay," ucap Nathan.
Mereka berdua pun duduk bersama dan mulai memakan makanan yang Helen masak. Nathan benar benar makan dengan sangat lahap, ia sangat senang memakan masakan dari Helen, ia seperti memakan masakan istri nya sendiri.
"Enak tidak," tanya Helen.
"Sangat enak ay," jawab Nathan.
"Oh iya ay, besok malam kita akan bertemu dengan teman teman ku, jangan heran ya jika melihat mereka," kata Nathan.
"Kenapa heran? apa mereka aneh," tanya Helen.
"Tidak aneh, sifat mereka sedikit berbeda saja dari kita, inti nya jangan merasa aneh saja lah dengan mereka," jawab Helen.
Setelah selesai makan mereka berdua bersantai sambil menonton televisi. Menonton berdua sambil memakan cemilan memang sangat menyenangkan. Tidak ada mengalahkan rasa nikmat seperti itu.
"Ay kapan ulang tahun mu," tanya Nathan.
"Bulan Mei tanggal 23," jawab Helen.
"Sebentar lagi dong, ini tanggal 5 Mei, wah ada yang mau ulang tahun. Tenang ay aku akan memberikan mu hadiah," kata Nathan.
"Nathan panggil nama saja kenapa si. Ay ay aku bukan ayang mu."
"Iya memang kau bukan ayang ku tapi kau calon ayang ku," kata Nathan.
"Hadeuh, ya ya ya terserah mu saja."
__ADS_1
Nathan mendekati Helen dan menarik Helen ke pelukan nya. Ia meletakkan Helen ke atas dada bidang nya.
"Nathan," ucap Helen.
"Ay apa kamu percaya jika ada sepasang manusia yang bersahabat murni bersahabat tanpa memiliki perasaan di antara ke dua nya," tanya Nathan
"Tak ada seperti itu, jika tidak mereka saling suka pasti salah satu nya memliki perasaan lebih. Mereka hanya tidak berani mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain. Mungkin mereka takut merusak persahabatan mereka."
"Untung aku tidak, jika aku suka aku mengatakan nya. Seperti sekarang ay, aku suka dengan my," ucap Nathan.
"Ya aku tau itu," kata Helen.
"Jadi apakah kau suka juga pada ku," tanya Nathan.
"Aku tidak bisa mengatakan nya tidak, aku hanya belum mempunyai perasaan itu pada mu, tetapi jujur aku mulai nyaman dengan sikap aneh mu," jawab Helen sambil mengusap ngusap dada bidang Nathan.
Helen tidak sadar melakukan hal itu, ia sudah terlanjur nyaman berada di posisi seperti ini. Helen tidak sadar jika apa yang dilakukan nya bisa membuat sesuatu yang tenga tidur dapat bangun dari tidur nya.
"Helen," ucap Nathan.
"Hmmm, itu film nya sangat lucu," kata Helen.
"Hehehe iya tapi tangan mu itu bisa santai tidak," tanya Nathan.
"Hmmm ada yang salah," tanya Helen.
Waktu terus berlalu malam semakin larut. Nathan benar-benar sudah tertidur, begitu juga dengan Helen yang sudah sangat mengantuk, tanpa sadar Helen memejamkan mata nya di atas dada bidang Helen.
Di pagi hari nya posisi mereka sudah berbaring dengan sambil berpelukan. Pelukan yang sangat hangat di pagi udara kota Tokyo yang sangat sejuk.
"Nathan," ucap Helen yang bangun lebih dulu.
"Nathan," ucap Helen sekali lagi.
"Hmmm iya ay," kata Nathan.
"Kita ketiduran di sini, bagaimana bisa seorang ini," ucap Helen.
"Ya mau bagaimana lagi ay, nama nya juga sudah mengantuk, kamu jangan banyak bergerak ay seperti nya dia bangun."
"Apa yang bangun," tanya Helen.
"Bagian bawa sana ayang, jangan banyak bergerak nanti dia semakin bangun bagaimana."
"Ini apa Nat, aku merasakan sesuatu yang keras."
__ADS_1
"Ya sudah aku katakan jangan banyak bergerak ayang."
"Nathan aku ingin mandi, bagaimana aku mau mandi jika sama kamu tidak boleh bergerak," kata Helen.
"Hahaha bergerak nya perlahan, jangan goyang goyang ya," ucap Nathan sambil melepaskan Helen secara perlahan.
"Kamu siap siap Nat, kita langsung bekerja," kata Helen.
"Kita kemana ay," tanya Nathan.
"Buka handphone kamu, aku sudah menyiapkan jadwal hari ini, kemana kita hari ini, seperti nya si sampai malam," jawab Nathan.
Helen berjalan pergi meninggalkan Nathan. Nathan menatap kepergian Helen yang masuk kedalam kamar nya. Nathan sudah seperti memiliki seorang istri saja, ia merasa jika terus seperti ini hidup nya akan terasa sangat bahagia.
"Saat nya mandi." Nathan pun masuk ke dalam kamar nya.
Pukul 7 pagi mereka berdua sudah berkumpul kembali di ruang makan, sarapan pagi mereka hanya sepotong roti dan segelas susu. Mereka tidak biasa makan besar jika pagi pagi begini.
"Sudah siap ay," tanya Nathan.
"Sudah kita naik apa nat," tanya Helen.
"Ada supir yang akan mengantarkan kita ke sana sini," jawab Nathan.
Setelah semuanya siap mereka pun pergi meninggalkan apartemen, kegiatan hari ini memang benar benar sangat padat, pagi ini mereka harus ke perusahaan cabang yang ada di Jepang, setelah itu bertemu dengan beberapa klaen, mencari furniture dan lain sebagainya.
Pekerjaan mereka dapat di lalui dengan sangat baik dan lancar. Semua ini berkata kepintaran Helen dan Nathan yang memang sangat cocok jika di kombinasi kan. Hampir semua pekerjaan selesai lebih cepat dari yang mereka berdua perkiraan.
"Baru jam 8 Nat, seharusnya kita selesai jam 12 malam lebih," kata Helen
"Kapan ya Riga sampai nya, lama sekali," ucap Nathan.
"Dia sudah di jalan," tanya Helen. #
"Sudah dari sore tadi," jawab Nathan.
"Tunggu saja lah, selagi kita menunggu mereka, kita jalan jalan dulu bagaimana? "
"Ide yang sangat bagus Ay, ayo kita ke tokyo tower," kata Nathan.
"Aku tidak berani Nathan, aku takut ketinggian," ucap Helen.
"Tidak papa ay jangan takut, ada aku di sini," kata Nathan.
"Janji tidak aneh aneh," ucap Helen.
__ADS_1
"Janji Ay, aku janji tidak melakukan hal yang aneh aneh," ucap Nathan.
Semakin bersama semakin terbiasa Helen dengan perkataan yang Nathan katakan. Memang awalnya terasa aneh tetapi terasa unik juga