
Seperti yang sudah Nathan dan Helen rencana kan mereka berdua akan tinggal bersama dengan Tiara dan suaminya. Hal ini sudah mendapatkan persetujuan semua orang, mereka mendukung semua hal yang Helen dan Nathan lakukan asalkan semua itu baik.
Mereka bertiga sudah berada di rumah itu. Sangat senang rasanya Helen dapat kembali ke rumah tersayang nya, meskipun hanya sementara waktu sudah cukup untuk melepaskan rasa rindu nya dengan rumah ini.
"Mau bekerja langsung," tanya Helen.
"Iya, tolong baju ku," jawab Nathan.
"Iya." Helen membantu suaminya memakaikan pakaian nya.
"Sayang, Edward ada kamar sendiri kan," tanya Nathan.
"Ada, dengan anak nya Tiara," jawab Helen.
"Oh bagus lah, bukan aku tidak mau tidur dengan nya, tapi untuk satu bulan ini kita harus fokus mencetak debay," ucap Nathan.
"Iya iya." Helen pasti langsung merasa malu jika Nathan membahas hal itu. Ia jadi teringat malam pertama nya dengan Nathan. Gagah nya Nathan membuat Helen tidak bisa melupakan momen indah itu.
"Aku berangkat." Nathan mencium bibir dan wajah Helen.
"Hati hati mas."
"Sayang jaga mamah mu dengan baik ya, ayah akan bekerja dulu." Tak lupa ia mencium wajah Edward yang sedang tertidur dengan lelap.
Helen mengantarkan suaminya keluar rumah, setelah itu ia kembali masuk ke dalam dan langsung menemui Tiara yang sedang memasak di dapur. Ini enak nya satu rumah dengan sahabat dekat, mereka bisa bekerja sama mengurus rumah, saling bercerita dan tidak ada rasa kesepian.
"Suami mu sudah berangkat," tanya Tiara.
"Sudah, tadi barusan berangkat," jawab Helen.
__ADS_1
"Wah wah wah, seperti nya kalian pasangan yang bahagia ya," ucap Tiara.
"Pasti dong, sudah duduk lah aku yang akan memasak," kata Helen.
"Tidak tidak, ini pertama kali nya kau tinggal di sini, aku yang akan memasak."
"Bagaimana malam pertama mu," tanya Tiara.
"Ah mantap, aku mendapatkan semuanya, sakit nya iya enak nya juga iya," jawab Helen.
"Hahaha benar-benar, pasti itu. Sudah terlihat dengan jelas bagaimana Nathan menikmati mu," kata Tiara.
"Hahaha kau ya, tapi memang gemas tau, melihat suami kita seperti sangat menikmati nya. Ekspresi wajahnya nya itu loh," ucap Helen.
"Kau benar, Ekspresi wajahnya memang jadi sangat menggemaskan. Sebenarnya mereka juga begitu saat melihat Ekspresi wajah kita, kita nya saja yang tidak sadar," kata Tiara.
"Anak mu belum pulang sekolah," tanya Helen
"Bagaimana dengan Edward ya, aku ingin mendaftarkan nya sekolah, tetapi aku masih belum tau akan menetap dimana."
"Ya sudah nanti saja, toh dia juga masih kecil," ucap Tiara.
"Sayang aku berangkat..."
"Iya hati hati," ucap Tiara.
"Hati hati Bryan, jangan sampai mencari yang baru," kata Helen.
"Hahaha tidak akan, aku setia dengan sahabat mu itu."
__ADS_1
"Kau ya, jangan sampai dia berpaling ke lain hati. Susah mencari bule seperti nya," ucap Tiara.
"Selera mu tinggi juga ya bule."
"Pasti lah, sudah besar tahan lagi, hahaha. Tidak tidak bukan begitu, dia bule yang benar-benar tulus mencintai ku. Dia sampai meninggalkan semua demi aku, dan sekarang dia sudah seperti orang Indonesia tulen," kata Tiara.
"Pelet apa yang kau gunakan Tiara, ayo jujur pada ku," tanya Helen.
"Goyangan maut, hahaha jangan lupa main di atas biar cepat," kata Tiara.
"Kau ya, sudah ah lanjutkan memasak mu, aku ingin menemani anak ku tidur." Helen pergi meninggalkan dapur.
Sebenarnya Helen ingin langsung ke perusahaan nya, tetapi Edward tidak ada yang menjaga, ia tidak bisa pergi meninggalkan Edward bersama Tiara di rumah, mereka berdua tidak terlalu dekat. Mengajak Edward juga bukan hal yang bagus, Edward akan rewel jika ia sibuk mengerjakan tugas nya.
"Mamah dimana ayah," tanya Edward.
"Kamu sudah bangun. Ayah sedang bekerja sayang," jawab Helen.
"Bekerja dimana? pergi lagi? ayah pergi lagi mah," tanya Edward.
"Tidak sayang, nanti malam juga pulang, jangan takut ayah pergi lagi," jawab Helen.
Di perusahaan Nathan langsung memimpin rapat besar. Ini pertama kali nya ia melakukan hal itu, semuanya berjalan dengan sangat lancar, dan rapat itu mengharuskan Nathan untuk pergi ke luar kota selama satu minggu. Sebenarnya berat untuk Nathan tetapi mau bagaimana lagi, ini sudah resiko seorang pemimpin.
"Jika tidak bisa tidak papa," ucap Vino.
Vino tidak ingin pernah membebani Nathan lagi. Ia tau Nathan sedang bahagia bahagia nya dengan istri nya.
"Tidak papa dad, aku akan pergi jangan khawatirkan aku," ucap Nathan.
__ADS_1
"Dengan Cindy loh kau tau dia kan, nanti istri mu cemburu bagaimana?"