
"Sayang," teriak Salsa.
"Begini enak sayang, makanan sore terbaik ku."
Di luar sana ada beberapa karyawan yang masih bekerja. Mereka seperti lupa jika saat ini mereka sedang tidak berada di kamar. Mungkin memang seperti ini lah jika seseorang yang tidak di sukai berubah menjadi suka.
Nabila dan Jack sedang membeli buku dan beberapa novel. Jack tak mengambil satu buku pun, ia tak suka membaca, ia tak suka belajar dan ia tak suka buku. Ia hanya menemani Nabila yang benar benar gila jika sudah membeli buku, baru beberapa menit saja Nabila sudah mengambil lebih dari 5
buku. Memang kalau orang pintar itu memiliki vibe yang berbeda.
"Kau seperti mengambil makanan saja ya, aku saja malas mengambil satu, tetapi kau mengambil buku seperti mengambil makanan enak."
"Aku suka bosan, dari pada aku bingung sendiri di rumah lebih baik aku membaca buku. Kau enak sudah memiliki istri, kau bisa menghabiskan waktu dengan istri mu," kata Nabila.
"Apaan, dia saja kalau pulang malam, selama kami menikah kami baru beberapa kali tidur bersama. Mana sekarang aku mendapatkan hukuman dari ayah, aku harus tidur dengan Edward," ucap Jack.
"Ke perusahaan nya yuk, aku lupa jika harus mengantarkan sesuatu dari ayah.."
"Ayo lah, aku muak dengan buku buku ini. Jauh tidak," tanya Jack.
"Tidak hanya 5-10 menit dari sini," jawab Nabila.
Setelah membayar semua buku itu, Nabila dan Jack langsung menuju ke kantor Edward. Jack tak membayarkan belanjaan Nabila karena Nabila jelas jauh lebih kaya dari nya, Nabila tak perlu di bayari malah diri nya yang perlu mendapatkan traktiran dari Nabila.
"Uang mu tadi aku belikan minyak, tak papa kan," tanya Jack.
"Hahaha ya tak papa, aku kan memberikan nya pada mu."
"Mana tau kan, kau permasalahan lagi," ucap Jack.
"Aku tak seperti itu Jack, apa yang sudah aku berikan tak akan aku permasalahan lagi," balas Nabila.
"Itu perusahaan abang ku."
"Wah besar juga ya, tak kalah dengan milik paman Nathan."
"Iya memang dia mendapatkan nya dari mamah ku, mamah ku yang membangun semuanya," jelas Nabila.
Sesampainya nya di sana, Nabila langsung mengajak Jack masuk ke dalam, mereka tak heran perusahaan ini sudah sepi karena memang sudah jam pulang. Jack rasa ia bisa meminta pekerjaan oleh Edward di sini, perusahaan ini pasti bisa memberikan gaji yang besar untuk nya. Apalagi ini milik Edward sendiri yang sekarang mereka berdua sedang baik kan.
"Dimana," tanya Jack.
"Lantai 10," jawab Nabila.
Sesampainya di depan ruangan Edward, kuping Jack yang sangat sensitif mendengar sesuatu yang sangat aneh dari dalam. Saat Nabila ingin membuka pintu ruangan itu dengan cepat Jack menahan nya, ia yakin di dalam sedang melakukan ritual aneh.
"Tunggu sebentar," ucap Jack dengan sangat pelan.
Perlahan Jack membuka sedikit pintu ruangan itu, ia mengintip suara apa yang ada di dalam sana. Mata nya terbelalak saat melihat apa yang sedang Edward lakukan. Edward dan Salsa masih menggunakan pakaian lengkap tetapi ritual suami istri sedang mereka berdua jalan kan.
Jack kembali mengeluarkan kepala nya. Ia menutup pintu ruangan itu dengan perlahan.
"Panggil saja dulu," ucap Jack.
"Kenapa begitu," tanya Nabila.
"Sudah panggil saja," jawab Jack.
Jack tau bagaimana rasa nya lagi enak enak nya di ganggu, kepala Edward pasti akan cenat cenut jika belum menyelesaikan ritual nya. Ini kesempatan nya untuk mengerjai Edward.
"Abang, aku Nabila," teriak Nabila.
"Nabila..." Salsa dan Edward langsung panik seketika.
Dengan cepat mereka menyudahi ritual suami istri itu. Edward sangat bingung bagaimana cara nya adik nya kembali tidur, ia lagi di masa masa enak nya eh malah di ganggu seperti ini.
"Abang aku masuk yaa..." Teriak Nabila.
"Tunggu Nabila jangan," saut Edward.
Setelah adik nya kembali tidur Edward langsung merapikan diri nya kembali. Sedangkan Salsa langsung berlari ke kamar mandi, ia sangat berantakan akibat ulah suami nya.
"Abang, aku masuk ah.." Nabila membuka pintu itu dan langsung masuk ke dalam.
Semua itu karena hasutan dari Jack. Jack tersenyum lebar melihat wajah Edward yang kemerahan menahan sesuatu yang luar biasa. Ia sangat tau apa yang Edward sedang rasakan.
"Kau lama sekali," ucap Jack.
"Kalian, kalian sedang apa..."
"Sedang berjalan, kau tak lihat," ucap Jack.
"Aku ingin memberikan ini, kau kan membutuhkan ini," kata Nabila sambil memberikan buku.
"Oh iya terimakasih, ayo duduk."
"Kau pasti nut nutan kan, belum keluar tapi sudah berhenti," bisik Jack.
"Sial jadi dia tau, aku yakin ini semua ulah nya, memang adik nya Salsa tak ada benar nya," batin Edward.
"Kau."
"Salah siapa melakukan nya di kantor, seperti tak ada rumah." Jack menjauh dari Edward sebelum Edward memukul nya.
"Dimana kakak Salsa," tanya Jack.
"Salsa ada di sini??"
"Ada tadi aku melihat nya," kata Jack.
__ADS_1
"Sedang di kamar mandi," saut Edward.
"Edward ada lowongan pekerjaan untuk ku," tanya Jack.
"Ada OB," jawab Edward.
"Jahat sekali abang, berikan yang bagus. Jack sudah berniat bekerja loh," ucap Nabila.
"Ya memang itu, tak ada lowongan pekerjaan untuk nya," kata Edward.
"Sayang cari kan dulu, adik ku ingin bekerja, kamu jangan seperti ini dong," ucap Salsa sambil berjalan mendekati mereka semua.
"Nah itu benar, lebih baik aku bekerja di sini saja," kata Jack.
"Kau masih kuliah, kau tak akan fokus bekerja," ucap Edward.
"Kata siapa, aku bisa bekerja sambil kuliah, ayolah jangan begini, kita kan sudah baik kan," kata Jack.
"Ya ya ya ya, nanti aku carikan lowongan untuk mu," ucap Edward.
"Yang bagus ya, gaji nya yang besar," kata Jack.
"Mana ada seperti itu, kau minta pekerjaan tapi yang enak."
"Kakak suami mu begitu sekali pada ku."
"Kau bekerja dengan serius, nanti kakak bantu cari kan," ucap Salsa.
"Sayang pemimpin di sini aku, bagaiman cara nya kamu mencari pekerjaan untuk nya, semua keputusan saja ada di tangan ku."
"Jangan sombong kau, kalau dari mu aku tak bisa mendapatkan pekerjaan, aku meminta nya dari paman Nathan, paman Nathan sendiri yang akan mencarikan pekerjaan untuk ku."
''Terserah mu, sayang kamu pulang saja dengan Nabila. Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dengan anak ini, kamu tak boleh bergadang. Kalau ada waktu untuk pulang aku akan pulang, tetapi jika tak ada waktu aku tak pulang," kata Edward.
"Dengan ku?? Kita menginap di sini, jangan gila ah, apa enak nya, menginap di sini."
"Jack kau mau bekerja kan, lakukan saja apa yang abang ipar mu katakan, mana kunci mobil mu," kata Salsa.
"Ini, kalau istri ku pulang, katakan pada nya aku sedang bekerja," ucap Jack.
"Aku tak mau berbicara dengan istri mu dia sangat galak, wajah nya saja seperti itu." Salsa mengambil kunci Jack dan pergi meninggalkan mereka, di ikuti oleh Nabila di belakangan nya.
"Kenapa kau bergadang di sini sih," tanya Jack.
"Pekerjaan ku menumpuk, lusa harus sudah selesai aku harus lembur untuk bekerja. Dari pada aku bolak-balik rumah perusahaan, lebih baik aku menginap saja di sini," jawab Edward.
"Terus kita makan apa? kalau malam bukan nya lampu perusahaan akan mati," tanya Jack.
"Istri ku sudah membawa makanan untuk kita, ya akan mati kalau tak ada orang nya. Tapi kalau lampu ruangan ku tetap menyalah," jawab Edward.
"Apa pekerjaan ku???"
Malam ini Edward bekerja dengan Jack, tak ada salah nya mengajak Jack bekerja dengan nya Bila di pikir pikir Jack itu cukup asik. Ia hanya memiliki rasa egois dan gengsi yang tinggi, sama seperti diri nya.
Jack dan Edward mulai fokus bekerja, tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Edward memutuskan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian nya yang lebih santai. Ia menyetok beberapa pakaian di tempat kerja nya.
Satu persatu lampu pun mati secara otomatis di perusahaan itu, mati nya lampu terdengar oleh Jack. Ia berjalan membuka pintu ruangan itu, bulu kuduk nya merinding bukan main melihat semuanya sudah gelap. Ya walaupun tak segelap ya di pikirkan nya.
"Edward," ucap Jack.
"Dimana dia?? kenapa lama sekali." Jack mendekati kamar mandi.
"Hey kau di dalam," teriak Jack.
"Aku sedang berganti pakaian tunggu sebentar," ucap Edward.
Tak lama Edward keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang segar. Ia menyempatkan diri untuk mandi. Setelah itu memakai pakaian santai tetapi juga tebal agak tidak kedinginan.
"Kau mandi, enak sekali," ucap Jack.
"Kalau kau mau mandi ya sudah, aku tunggu di meja," kata Edward.
"Ada dalaman sama pakaian," tanya Jack.
"Ada dalaman ku masih baru."
Selagi menunggu Jack mandi. Edward memutuskan untuk mengeluarkan makanan dan cemilan yang Salsa bawak untuknya, memang istri nya ini sangat mengerti apa yang ia butuhkan.
Edward mengambil handphone nya untuk menghubungi Salsa hanya untuk sekedar berterimakasih pada nya, Edward tau hal hal kecil seperti ini akan membuat istri nya senang dan merasa di hargai oleh Edward, ia ingin menjalin rumah tangga yang harmonis bersama dengan Salsa.
"Halo sayang, baru beberapa jam aku tinggal kamu sudah kangen saja dengan ku," kata Salsa.
Edward tersenyum mendengar hal itu. Ia tak marah sama sekali, karena memang apa yang salsa katakan benar apa adanya, ia sudah merindukan istri nya walaupun baru saja di tinggal.
"Hahaha kamu tau saja, ya memang aku sangat merindukan mu," kata Edward.
"Aku juga sayang, padahal kita baru dua hari tak tidur bersama, tapi aku sudah sangat merindukan aroma ketiak mu yang sangat wangi."
"Cinta memang buta ya sayang ketiak saja kamu katakan wangi, oh iya aku ingin berterimakasih pada mu, makasih telah membawakan berbagai macam yang sangat enak ini. Aku menyayangi mu," ucap Edward.
"Salsa hampir melompat dan berteriak mendengar hal ini. Ini sangat tak bisa di percaya, Edward berterimakasih pada nya padahal ia hanya melakukan tugas nya sebagi seorang istri, belum lagi Edward mengatakan kata sayang pada nya untuk yang pertama kali nya, Salsa benar benar sangat bahagia, meskipun tidak mengatakan mencintai nya, itu sudang sangat cukup untuk nya.
''Sayang kamu kenapa malah diam saja si," ucap edward.
"Aku ingin bulan madu dengan mu sayang, tak usah lama lama tiga hari saja sudah cukup, tak usah jauh jauh di Bali saja cukup," kata Salsa.
"Hmmm aku sedang sangat sibuk sayang, tapi untuk kamu aku usahakan ya, minggu ini aku selesaikan dulu semua pekerjaan ku, nah setelah selesai baru lah kita bulan madu."
"Aku tunggu waktu luang mu sayang, aku sangat menantikan hal itu, ya sudah kamu kerja yang semangat aku ingin ke kamar mandi."
__ADS_1
"Ya sudah. Selamat malam sayang.''
Edward langsung melihat tanggal untuk mencari waktu yang tepat untuk mereka bulan madu. Permintaan Salsa tak lah memberatkan nya, memang seharusnya mereka sedang menikmati indah nya bulan madu.
Jack keluar dari kamar mandi dengan segar juga, Jack ingin bertanya pada Edward kenapa sabun di kamar mandi bisa habis tak tersisa, perusahaan sebesar ini tak mungkin tidak memperhatikan hal kecil seperti itu.
"Sebenarnya sabun di kamar mandi untuk apa si? kau minum atau kau jadikan bahan?" tanya Jack.
"Hey sopan pada ku, aku bos mu.. Sabon di kamar mandi habis aku jadikan bahan arena diri mu. Ku dan Nabila tiba tiba masuk saat aku sedang enak enak nya, aku yakin sebenarnya kau tau apa yang aku lakukan tadi," kata Edward.
"Ya itu salah mu sendiri, karena kau melakukan nya di kantor padahal aku rasa setiap hari di rumah kau melakukannya, sudah jangan membahasnya aku sedang lapar, ayo kita makan seperti semua makanan itu sangat enak."
"Memang enak, masakan istri ku tak pernah mengecewakan, tidak seperti istri yang pasti tak bisa memasak, aku yakin istri mu masak air saja gosong," ejek Edward. Ntah kenapa Edward jadi ikut ikut Salsa yang tak suka dengan Jesika.
Jack tak memperdulikan ucapan dari Edward, karena memang apa yang Edward katakan benar ada nya, ia memang mencintai Jesika tetapi ada sedikit rasa menyesal menikah dengan Jesika setelah melihat pelayanan yang Edward dapatkan dari kakak nya.
Mereka pun memakan, makana yang Salsa masak, setelah itu mereka berdua melanjutkan pekerjaan Edward yang masih sangat menumpuk dan pada akhirnya Jack juga mengambil beberapa pekerjaaan penting Edward.
Handphone Edward tiba tiba berdering, terlihat panggilan dari satpam perusahaan nya, karena takut ada hal penting Edward langsung mengangkat nya.
"Ok oke oke, lakukan saja demi kebaikan perusahaan," ucap Edward sambil mematikan sambungan telepon itu.
''Ada apa? seperti nya ada hal penting?"
"Lampu akan segera mati, ada pemeriksaan listrik di
perusahaan demi kebaikan semua orang, ya mau bagaimana lagi lampu akan mati dalam beberapa jam ke depan."
"Apa!!.. Aku tak suka gelap gulita, kalau remang remang tak apa, tapi kalau gelap itu sangat menakutkan."
"Ya mau bagaimana lagi Jack, tak akan gelap gulita juga kok. Remang remang seperti apa yang kau katakan," kata Edward.
Baru saja Edward katakan lampu ruangan itu sudah padam, tak ada yang bisa Jack lakukan selain hanya mendekati Edward, ia bukan nya tak suka tetapi ia takut.
"Kau takut ya, bukan tak suka, hayo Jack yang kata nya sangat pemberani ternyata sanga penakut, hahaha makan bubur saja Jack jangan makan daging. Sudah menikah juga masih saja taku ntah apa yang di takutkan," ejek Edward.
Jack sangat kesal menjadi bahan ejekan Edward, tetapi memang benar sebenarnya ia takut, ia tak pernah mau berada di tempat gelap. Demi mempertahan harga diri nya, Jack membantah tuduhan itu, ia telah melakukan sebuah kesalahan, dengan seperti itu ia akan semakin di kerjai oleh Edward.
"Jack kau tau, kata mamah ku perusahaan ini dulu nya kuburan kuno, terus di bangun rumah sakit pada zaman penjajahan dulu, nah saat rumah sakit itu berdiri banyak kejadian kejadian di luar nalar. Rumah sakit itu tutup karena pembantai massal. Dan selama kurang lebih 50 tahun kosong, gadung rumah sakit itu di robohkan dan di beli mamah ku untuk membangun perusahaan ini. Konon kata nya, kalau kita melakukan perbuatan yang tak baik, hantu hantu di sini akan marah," kata Edward.
"Kau beneran??, kenapa perusahaan mu horor sekali? tapi tadi kau baru saja melakukan hal yang tak baik dengan istri mu dan di kamar mandi, jadi hantu itu akan marah nya pada mu dong, bukan pada ku," ucap Jack.
"Iya juga ya, kau benar. Aku yang berbuat tidak baik. Tapi aku tak perlu khawatir karena aku sudah memberikan sesuatu pada hantu hantu di sini. Sebelum aku menjabat sebagai CEO perusahaan memotong puluhan kambing agar aku tetap aman tanpa gangguan. Yang harus kau khawatir saat ini adalah diri mu sendiri, jangan sampai hantu hantu itu datang dan membuat hidup mu tak nyaman."
"Edward jangan menakuti ku, aku mau pulang aku tak mau bekerja di sini ataupun menemani mu," ucap Jack.
"Hahaha ya sudah sana pulang, kau harus turun pakai tangga darurat karena lift pasti sudah mati dan ke dua kau tak bisa naik mobil karena mobil mu di bawa istri ku dan juga Nabila. Kau harus mencari taksi, sudah gelap mencari taksi lagi, kalau aku si...
"Edward... Hiks hiks hiks.." Tanpa di duga Jack malah menangi seperti anak kecil. Edward harus menahan tawa nya kalau tidak Jack pasti akan menangis lebih keras. Saling memukul tidak membuat nya menangis hanya ketakutan dari cerita Edward yang membuat Jack menangis.
"Kau menangis. Maaf maafkan aku, aku hanya bercanda pada mu. Semua kata kata ku bohong..." Edward tak tega dan langsung memeluk Jack.
Mulai sejak itu mereka berdua jadi dekat. Jack dan Edward sudah tak pernah bertengkar lagi, mereka sudah seperti abang adik yang saling membantu, walaupun begitu tetap saja kata kata pedas tak bisa hilang dari bibir mereka untuk saling menghina. Memang untuk dekat harus menghabiskan waktu bersama sama.
Satu bulan sejak kejadian itu, Jack mulai bekerja di perusahaan Edward sebagai asisten nya. Ia bekerja kalau tak ada kelas kuliah yang bertabrakan. Awalnya Jack menolak karena cerita gila Edward tetapi Helen mengatakan semuanya tak benar dan Edward malah mendapatkan hukuman dari Helen.
Hubungan Edward dan Salsa sudah seperti lem kertas sangat lengket sekali, walaupun hampir dua bulan menikah Edward masih melarang Salsa hamil, ia masih belum berbicara dengan Narendra tentang masalah ini. Jika Narendra mendengar Salsa hamil pasti ia semakin sulit berbicara dengan nya.
Berbeda dengan Edward, hubungan Jack dan Jesika tak ada perkembangan. Mereka berdua jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Jack harus kuliah dan bekerja, ia hanya ada waktu malam hari. Sedangkan Jesika juga sedang kuliah dan bermain main dengan teman teman nya, apalagi Jack mulai bekerja yang membuat uang nya semakin banyak, hal itu membuat Jesika dengan mudah mengambil uang suaminya.
Mereka dekat jika Jack menginginkan tubuh istrinya, baru lah akan ada kata kata cinta yang terucap di antara mereka berdua, jika tidak satu hari pun mereka berdua bisa tak saling berbicara, saat Jack pulang bekerja Jesika sudah tidur, saat Jack bangun Jesika juga sudah pergi meninggalkan rumah. Apalagi Jesika juga sering menginap di rumah orang tuanya.
Untuk saat ini Jack tak mempermasalahkan itu ia tau Jesika sedang berada di semester yang sibuk sibuk nya tugas. Sampai Jesika selesai kuliah ia cukup tak masalah, yang penting tempat pelepasan hasrat nya masih ada. Walaupun ya terkadang ia kesal dan marah pada diri nya sendiri.
"Kamu mau kemana pagi pagi begini, ini weekend sayang," ucap Jack.
"Ayah ku kembali masuk rumah sakit sayang, aku harus ke Singapura lagi," kata Jesika.
"Harus??"
"Iya sayang, mamah ku dan ayah ku sudah berpisah, tak ada lagi yang menemani nya, kamu mengerti kan sekarang. Dan sayang aku membutuhkan 100 juta," ucap Jesika.
"Untuk apa? itu gaji ku satu bulan, aku membanting tulang dan otak sayang."
"Biaya rumah sakit ayah ku sayang, kami tau kan di sana sangat mahal, aku takut ayah ku kekurangan uang," kata Jesika.
"Ya sudah, aku transfer nanti. Setelah ini bawa ayah mu ke sini, jangan membuat mu bolak-balik ke sana sini," ucap Jack.
"Iya sayang terimakasih..." Jesika mencium wajah Jack dan pergi meninggalkan Jack dengan membawa sebuah koper.
Tak lama Edward masuk ke dalam kamar Jack. Ia ingin mengajak Jack dan istri nya pergi ke suatu tempat.
"Hey kau tidur terus, ini weekend ayo ke Bali," ucap Edward.
"Ngapain, istri ku saja sudah pergi ke Singapura. Kau ke Bali dengan istri mu???"
"Pantas kau lemas, ya iyalah. Aku ke Bali ingin berbulan madu, ayolah tiga hari saja. Nabila juga ikut kok, temani saja dia agar tak sendiri," ucap Edward.
"Ayolah, tapi kau tak takut Nabila aku apa apain," tanya Jack.
"Aku bunuh kau sampai kau melakukan hal yang tidak tidak pada Nabila."
"Hahaha aku tunggu, kau mana sanggup membunuh ku."
"Ayo bersiap-siap kita berangkat sekarang, naik jet pribadi kakek ku."
"Oke aku akan keluar 10 menit lagi," kata Jack.
"Lemah sekali 10 menit, aku sampai setengah ataupun sejam," ucap Edward.
__ADS_1
"Bukan itu ajg..."