
Helen pergi meninggalkan kota itu untuk menenangkan perasaan nya. Hubungan nya dengan Nathan sudah terlalu jauh dan kandas begitu saja membuat jiwa Helen benar-benar tergoncang, ia tidak pernah berpikir jika hubungan nya dengan Nathan kandas begitu saja. Bukan hanya hati nya yang terasa sakit, fisik nya juga terasa sakit. Memang yang ia butuhkan saat ini hanya pergi ke tempat yang jauh untuk menenangkan jiwa nya.
Ia pergi hanya memberitahu Tiara seorang, ia tidak memberitahu siapapun selain Tiara karena ia memang benar-benar ingin tenang. Awal nya Tiara merasa bingung, apalagi Helen sampai memberikan perusahaan yang ia bangun sangat susah pada keluarga nya, padahal hubungan Helen dengan keluarga nya tidak lah baik. Tetapi Helen memberikan semua nya dengan cuma cuma.
Setelah mendengar semua penjelasan Helen, Tiara pun mengerti kenapa Helen seperti ini. Helen ingin melepaskan semua hal yang berhubungan dengan Nathan. Perusahaan yang ia bangun sudah termasuk campur tangan Nathan. Dan pasti ia akan terus mengingat Nathan dan rasa sakit yang Nathan berikan pada nya.
"Satu dua tiga bulan atau untuk selamanya, aku tidak tau itu. Aku ingin hidup dengan tenang setelah semua yang terjadi." Itu saja yang Helen tinggalkan, untuk Tiara maupun orang orang terdekat nya. Termasuk Albar yang pasti mencari nya.
"Hanya itu Tiara," tanya Albar.
"Hanya itu, jiwa nya benar-benar sangat terguncang, aku tidak bisa menjelaskan nya lebih lanjut Yang penting saat ini Helen bisa menenangkan diri nya," kata Tiara.
Albar tersenyum kecut. Jika seperti ini tidak ada kesempatan nya untuk mendekati Helen. Ia pikir dengan lepas nya Nathan dengan Helen membuat mereka berdua bisa dekat lagi, ternyata tidak sama sekali.
Berbeda dengan Helen, Nathan tidak bisa kemana mana, ia memiliki tanggung jawab besar. Jika ia pergi ia akan mengecewakan semua orang. Apalagi pengangkatan nya sebagai pemimpin di sebarkan dia berbagai macam media besar.
Nathan menenangkan diri nya hanya beberapa hari saja. Setelah itu semua nya seperti berjalan normal saja, walaupun kekosongan hati Nathan membuat Nathan tidak memiliki semangat. Hubungan Nathan dengan Vino kembali hancur untuk yang kedua kali nya. Nathan benar-benar membenci Vino, ini yang keduanya kali nya Vino mengecewakan nya.
"Nathan berhenti," ucap Vino.
"Ada apa lagi dad, apa!!!"
"Kenapa kau sangat berbeda dengan yang lainnya, Marvin dan Nila tidak sulit di atur seperti mu," ucap Vino, ia juga terpancing emosi.
"Ya sudah punya anak saja mereka, aku bukan anak mu, kita berbeda dad!! Jika tidak karena kakek aku sudah melepaskan jabatan ini, bukan karena hanya wanita, ini lebih dari itu dad, kau sudah mengecewakan ku untuk kesekian kali nya. Kau masih berpikir kebahagiaan yang kau buat itu kebahagiaan ku. Tidak sama sekali dad, pertama jangan ganggu aku, kita memang memiliki hubungan darah, anggap saja aku banalu dalam hidup mu. Ke dua aku tidak akan melanjutkan perjodohan gila ini, lebih baik aku mati."
"Nathan!!"
Citra mendekati Nathan dan langsung menampar nya.
"Kau boleh marah, tapi ini berlebihan, dia orang tua mu, kau tidak akan ada karena nya sayang. Minta maaf pada nya."
"Jika itu mau mu nat, oke aku tidak akan melanjutkan semua nya. Kau bebas sekarang, seperti yang kau katakan kau bukan anak ku lagi."
__ADS_1
"Daddy, sudah jangan seperti ini." Nila tidak mungkin membiarkan semuanya terjadi.
"Dia sendiri yang meminta nya, aku hanya ingin yang terbaik untuk nya, tapi apa yang dia berikan pada ku."
"Itu kesalahan daddy, daddy berhenti berpikir seperti itu. kebahagiaan yang daddy pikirkan bukan kebahagiaan ku!!!"
"Nathan!!!." Satu pukulan mendarat di wajah Nathan.
"Nathan berhenti berbicara, minta maaf pada daddy," ucap Marvin.
"Tidak akan!! Kalian ingin mengusir ku, ya aku akan pergi."
"Nathan jika kau melangkah satu jengkal saja dari tempat mu, jangan salahkan mommy berbuat sesuatu yang membuat mu menyesal."
Jika sudah berhubungan dengan Citra, Nathan tidak bisa berkutik. Ia hanya diam di tempat nya.
"Mommy," ucap Nathan.
"Daddy." Nila membantu Vino untuk duduk.
"Darah tinggi daddy pasti naik, jangan marah seperti ini dad," ucap Nila.
Nathan sebenarnya tidak tega tetapi rasa kesal nya pada Vino terlalu dalam.
"Aku harus bekerja." Nathan pergi meninggalkan tempat itu.
"Nathan!!!"
"Sudah biarkan saja, perasaan nya masih kacau," kata Citra.
"Maaf dad, seperti nya yang Nathan katakan tentang hubungan nya dengan Helen benar. Jika tidak kenapa dia sampai seperti ini. Jika aku boleh saran, hentikan perjodohan ini, jangan sampai keluarga kita terpecah," ucap Marvin.
"Kau tau semenjak dia mengurung diri di dalam kamar, aku sudah menghentikan perjodohan ini. Aku ingin bicara baik baik pada nya, tapi begitu respon nya. Jika dia tidak mau, ya sudah tidak masalah, dia bisa mencari wanita yang dia mau," kata Vino.
__ADS_1
"Sudah berhenti membahas masalah ini, lebih baik kalian berdua menenangkan diri kalian masing-masing," ucap Citra.
Nathan memang sedang berada di puncak emosi nya. Setelah beberapa hari menenangkan diri ia tidak menjumpai Helen di perusahaan dan di rumah nya. Hal itu membuat Nathan semakin membenci Vino sampai terjadi lah pertengkaran hebat seperti tadi.
Awal nya Nathan hanya ingin ke perusahaan, tetapi karena emosi nya yang sedang tidak stabil dan ia pasti tidak bisa mengerjakan apapun membuat Nathan pergi ke tempat lain.
Vino sudah sampai di perusahaan, walapun sedang marah dengan Nathan. Ia juga masih sempat menanyakan keberadaan Nathan. Hubungan anak dan ayah tidak mungkin bisa hancur begitu saja.
"Dia tak ada datang sejak tadi tuan."
"Ha kemana dia," ucap Vino.
Pukul 9 malam, Nathan masih belum pulang ke rumah, satu keluarga panik di buat nya. Mereka takut Nathan pergi meninggalkan rumah.
"Marvin kita harus mencari nya," kata Vino.
"Hati hati sayang," ucap Citra.
Marvin dan Vino pergi mencari Nathan, mereka mendatangi tempat yang menurut mereka di datangi oleh Nathan.
Dari kejauhan mereka berdua melihat jalan begitu ramai nya. Marvin dan Vino berhenti dari kejauhan.
"Kecelakaan dad," ucap Marvin.
"Kau benar." Untuk memastikan siapa yang kecelakaan mereka berdua turun untuk melihat nya.
"Dia menabrak pembatas jalan," ucap seseorang.
"Daddy itu plat keluarga Vins," kata Marvin.
"Apa benar." Vino dan Marvin langsung membela kerumunan untuk melihat semua nya.
"Nat, Nathan," teriak Marvin.
__ADS_1