
"Nathan," ucap Helen dengan mulut yang terbuka.
"Iya." Nathan langsung menaikan kepala nya, ia menatap wajah Helen.
"Kau mengenal ku," tanya Nathan.
Dengan cepat Helen mengambil Edward dan berlari meninggalkan Nathan yang kebingungan, ia tidak tau siapa wanita itu, kenapa wanita itu bisa tau nama nya. Sambil tersenyum Edward melambaikan tangan pada Nathan.
"Ahhhkkk." Nathan memegang kepala nya yang terasa pusing secara tiba-tiba.
Sesampainya di rumah Helen mengatur nafas nya dengan perlahan, ia seperti habis melihat setan yang menyeramkan. Edward kebingungan kenapa mamah nya seperti itu.
"Mamah kenapa, paman tampan tadi membuat mamah takut," tanya Edward.
"Iya sayang, dia sangat menyeramkan, dia tidak tampan. Jangan dekat dekat dengan nya, dia seperti penculik," jawab Helen.
"Penculik, tadi kata paman itu dia tidak ingin menculik ku karena dia tampan."
"Itu hanya tipu daya nya sayang, jangan percaya pada nya. Kamu jangan dekat dekat dengan nya ya, sekarang kamu tidur, sudah malam." Helen membawa Edward ke kamar nya. Bocah 3 tahun itu sudah memiliki kamar sendiri. Helen ingin membiasakan Edward mandiri sejak kecil.
"Mamah Edward ingin ayah," ucap nya sambil menatap dalam Helen.
"Ayah?"
__ADS_1
"Dimana ayah Edward, dia bekerja tidak pulang pulang," tanya Edward.
Semenjak masuk sekolah khusus anak kecil. Edward sering menanyakan ayah nya. Helen dapat mengerti itu, karena ia pasti sering melihat teman teman seusianya bermain dengan ayahnya. Sedangkan diri nya tidak pernah bertemu dengan ayah nya.
Helen bingung siapa yang akan ia sewa sebagai ayah bohongan Edward, setidak nya sampai Edward mengerti semua nya.
"Minggu depan dia akan pulang sayang, kamu tenang saja, nanti kamu pasti akan bertemu dengan nya," kata Helen.
"Mamah janji," tanya Edward.
"Janji sayang sudah tidur lah." Mungkin hanya ini yang bisa Helen katakan pada Edward, ia hanya bisa memberikan janji palsu pada Edward, memang terasa sakit untuk nya karena ia berbohong, tetapi mau bagaimana lagi, ia tidak tau harus melakukan apa lagi selain mengatakan hal itu.
Nathan pulang ke Vila dengan kebingungan di hati nya. Ia bingung kenapa ada wanita yang tau nama nya tetapi ia tidak mengenal wanita itu. Wajah wanita itu terasa tidak asing bagi nya, tetapi Nathan sama sekali tidak bisa mengingat wanita itu, kepala nya akan terasa sangat sakit jika ia paksakan.
"Nathan kau sudah kembali, kenapa cepat sekali aku baru ingin menyusul mu."
"Kepala ku pusing, aku ingin istirahat," kata Nathan.
"Ada apa? kau tidak papa kan?"
"Tidak papa, jangan mengkhawatirkan ku aku baik baik saja," ucap Nathan.
"Ya sudah istirahat lah, kamar mu ada di lantai," kata Marvin.
__ADS_1
Setelah Nathan pergi. Marvin menghubungi Vino untuk memberikan kabar. Ia harus setiap saat memberikan kabar Vino sesuai dengan yang minta.
"Kalian sudah sampai," tanya Vino.
"Sudah dad, ada yang aneh dari Nathan, kepala nya sakit secara tiba-tiba. Aku khawatir dengan nya," jawab Marvin.
"Mungkin karena dia kelelahan, ya sudah biarkan dia istirahat, kau juga jaga kesehatan mu, terimakasih telah menjaga nathan dengan baik."
"Iya dad, selamat malam."
Marvin memastikan semuanya terkunci dengan benar, setelah itu baru lah ia kembali ke kamar untuk beristirahat.
Keesokan harinya, Nathan dan Marvin sedang dalam perjalanan ke restoran tempat mereka akan bertemu dengan beberapa orang penting. Vila dengan restoran itu tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit saja.
"Mereka datang, bekerja dengan benar."
"Siap buk." Helen dan Zahra mulai mempersiapkan makanan untuk tamu spesial mereka.
Nathan dan Marvin masuk ke dalam restoran itu, di sana sudah ada orang orang yang menunggu kedatangan mereka berdua. Dengan cepat mereka langsung membahas kerja sama antar perusahaan.
Setelah selesai membahas semua pekerjaan baru lah satu persatu makanan datang untuk mereka santap. Nathan kembali melihat seseorang wanita yang sama dengan yang ia temukan kemarin.
"Wanita itu," ucap Nathan.
__ADS_1