Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Lagi dan lagi


__ADS_3

Nathan dan Helen sedang makan siang berdua, bermesraan adalah hal yang sangat enak di lakukan untuk saat ini. Mereka berdua tampak begitu harmonis jika seperti ini. Duduk berdua sambil saling bersuapan benar-benar sangat romantis sekali.


"Sayang makanan kamu tidak pernah mengecewakan aku sangat suka," ucap Nathan.


"Hahaha siapa dulu Helen, wanita kuat dan pekerja keras."


"Tadi aku hampir salah paham, aku pikir mommy ku sudah hamil lagi," ucap Nathan.


"Kenapa bisa seperti itu? apa ada mamah rencana untuk hamil lagi," tanya Helen, ia baru pertama kali mendengar hal ini.


"Ada sayang, daddy ku menginginkan anak lagi. Aku salah paham karena daddy membawa hasil tes rumah sakit, aku pikir tes kehamilan ternyata tes kesehatan. Aku ingin kamu dulu yang hamil baru mommy ku, aku merasa tersaingi oleh daddy."


"Hadeh keluarga kamu sangat aneh, aku tidak mengerti lagi. Ya sudah si terserah yang memberikan anak, siapa dulu ya di percaya."


"Hhahaha kamu benar, tapi aku tetap ingin kamu dulu, itu sebabnya kita harus setiap hari membuat nya."


"Iya iya setiap hari, ya sudah aku bersiap siap dulu ya. Kamu tunggu sini," ucap Helen.


"Tanya Edward mau ikut atau tidak," kata Nathan.


"Iya aku juga tidak mungkin meninggalkan anak ku," ucap Helen.


Helen berjalan naik ke lantai 2, sebelum menemui Edward, Helen memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap-siap terlebih dahulu. Sebenarnya helen tidak ingin pergi kemana-mana hari ini, tetapi karena nathan ingin pergi ke perusahaan, ia memutuskan untuk ikut karena ia takut Nathan akan bertemu dengan Cindy. Mau bagaimanapun helen tidak ini Nathan dan Cindy dapat waktu berduaan. Dan sepertinya dia harus lebih berwaspada lagi.


Setelah selesai bersiap-siap, helen berjalan ke kamar Edward dan Salsa. Ia cukup terkejut melihat Edward begitu akrab dengan Salsa, jarang sekali Edward mau berteman dengan seorang wanita, ini pertama kalinya Helen melihat semua ini.


"Wahh wahh yang mendapatkan teman gadis, bagaimana kamu suka dengannya sayang." Helen berjalan mendekati mereka berdua.


"Mamah, dia cantik dan tidak cengeng."


"Sudah pasti sayang anaknya siapa dulu tante Tiara."


"Hahaha kau bisa saja Helen, tapi aku pikir pikir mereka berdua cocok loh, yang satu tampan yang satu cantik. Tapi seperti nya yang tampan ini calon buaya darat," kata Tiara.


"Aku rasa begitu Tiara, memang sekarang dia tidak suka bermain dengan wanita, tetapi jika didikan ayah nya sudah pasti lah. Buaya darat akan menghampiri nya."


"Buaya darat apa mah," tanya Edward.


"Tidak ada sayang, kamu ingin ikut dengan mamah dan ayah atau bermain di sini dengan Salsa," tanya Edward.


"Mamah mau kemana," tanya Edward.


"Mau bekerja," jawab Helen.


"Edward boleh tidak ikut, Edward mau main saja."


"Boleh dong sayang. Tiara aku titip Edward ya. Nanti ada mainan nya yang akan datang, kamu bisa masukan saja ke kamar sana, itu akan menjadi kamar Edward," kata Helen.


"Iya Helen, hati hati ya. Jangan khawatir Edward aman bersama dengan ku, lagi pula ada gadis cantik yang selalu bersama dengan nya," kata Tiara.


"Hahaha benar-benar, Salsa kamu main dengan Edward ya. Dia cukup cengeng."


"Iya tante," ucap Salsa.


Helen kembali turun ke lantai dasar. Ia melihat Nathan sedang mengobrol dengan Bryan, dua pria ini seperti nya sudah semakin dekat saja. Helen merasa tenang jika Nathan berteman dengan Bryan, ia tau bagaimana Bryan sekarang, memang dulu sangat buaya tetapi sekarang Bryan benar-benar pria yang sangat bisa dijadikan contohan.


"Sayang ayo," ucap Helen.


"Sudah siap, nanti lagi kita lanjutkan lagi," kata Nathan.


"Hahaha iya tenang saja, masih banyak waktu," ucap Bryan.


"Hayo kalian mau apa," tanya Helen.


"Suami mu ingin banyak belajar dari ku, hahaha dia mau belajar dari mantan buaya darat," jawab Bryan.


"Sudah sudah, ayo sayang. Tunggu dulu dimana anak ku," tanya Nathan.


"Anak mu masih terpanah dengan kecantikan Salsa anaknya Bryan, dia tidak mau pergi," jawab Helen.


"Oh begitu. Jangan sampai anak itu jadi buaya."


"Bagaimana tidak jadi buaya, paman dan ayah nya saja buaya." Helen menarik Nathan pergi dari sana.


"Hahaha kau benar Helen, hati-hati dengan Nathan, dia memang polos tetapi kepolosan nya itu menyimpan sesuatu yang tidak kau duga," ucap Bryan.


"Jangan aneh aneh Bryan." Teriak Nathan.


Helen dan Nathan langsung pergi meninggalkan rumah. Mereka sudah jarang sekali bisa pergi berdua seperti ini. Ini kesempatan emas bagi mereka berdua untuk mempererat hubungan mereka berdua.


"Tampan," ucap Helen.


Terkadang Helen masih saja terpanah dengan ketampanan suami nya. Apalagi saat Nathan sedang fokus seperti ini, benar-benar terlihat sangat tampan. Ia yakin kalau anak nya nanti cowok pasti akan jauh lebih tampan dari ayah nya.


"Sayang kamu membuat ku gugup," ucap Nathan.


"Hahaha kenapa gugup sayang, kamu ada masalah," tanya Helen.


"Kamu menatap ku begitu dalam, ya aku sangat gugup," jawab Nathan.


"Kamu di tatap kok gugup. Aku hanya mengagumi ketampanan mu," kata Helen.


"Oh aku memang sangat tampan, tidak perlu kamu tetap begitu ah. Sumpah aku gugup dan tidak nyaman," ucap Nathan.


"Hahaha sayang, sayang." Beberapa kecupan mendarat di wajah suami nya.


"Kamu beruntung memiliki suami tampan seperti ku."


"Tidak sama sekali sayang, aku sangat was-wasan. Aku takut kamu di ambil dengan wanita wanita gatal di sana. Apalagi ada bibit buaya di dalam dirimu."


"Tidak sayang, aku tu sangat setia pada mu, aku tida mungkin selingkuh dari mu," kata Nathan.


"Tetap saja pria seperti mu, tidak bisa di lepas begitu saja, harus sering sering di kontrol," ucap Helen.


"Iya iya, kalau aku si tidak pernah khawatir dengan mu, mana ada pria yang lebih tampan dari ku, mana ada pria yang bisa mengambil hati mu dari ku, hati mu hanya ada aku, hahaha aku tidak sombong si, aku hanya berkata dengan jujur," ucap Nathan.


"Iya sayang, aku paham kok, kamu yang paling luar biasa, sudah kamu puas," kata Helen.


Memuji diri sendiri dan meninggi kan diri sendiri adalah hal yang biasa Nathan lakukan. Jika tidak dia iya kan pasti Nathan tidak akan diam.


"Kamu saja mengakui itu."


"Sudah jangan banyak berbicara, ketampanan mu itu hilang jika banyak berbicara," ucap Helen.


"Setiap kali aku tidak bersamamu, aku hanya melihat ke langit dan bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa begitu cantik dan aku merasa beruntung karena wanita cantik itu adalah bagian dari hidupku."


Helen menatap ke arah Nathan, tumben sekali Nathan berbicara seperti itu pada nya, biasa nya Nathan tidak pernah sepuitis ini pada nya.


"Buaya darat mana yang mengajari mu," tanya Helen.

__ADS_1


"Ada lagi sayang, tadi Bryan mengajari ku...


Dunia membutuhkan wanita yang kuat. Wanita yang akan mengangkat dan membangun orang lain, yang akan mencintai dan dicintai. Wanita yang hidup dengan berani, lembut, dan galak. Wanita dengan keinginan kuat. Hatiku telah diambil oleh seorang gadis cantik dan dia adalah yang paling berharga bagiku dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Gadis itu adalah kamu, wanita kuat dan cantik yang memberikan ku arti bertapa indah nya ciptaan Tuhan."


"Sedikit tidak nyambung tetapi oke lah, jangan lagi ya, buaya.." Helen memberikan tatapan tajam pada Nathan.


Nathan heran kenapa istri nya malah tidak suka ia berikan kata kata yang indah. Helen malah memberikan tatapan tajam pada nya, padahal kata Bryan, wanita sangat suka di puji dan diberikan kata kata indah setiap hari.


"Mungkin Helen salah satu spesies langka, ia tidak seperti pada wanita umumnya. Ya sudah lah aku jadi tidak perlu repot repot mencari kata kata indah. Itu membuat ku pusing, dia saja tidak suka," batin Nathan.


Helen malah takut jika Nathan seperti ini. Benih-benih buaya mulai tumbuh di dalam diri Nathan meskipun ia tau Nathan tidak akan menggombali wanita lain selain diri nya.


"Sayang kamu aneh ah," ucap Nathan.


"Ya aku memang aneh, sudah tau aneh kenapa kamu mau dengan ku," kata Helen.


"Aneh mana sama aku," tanya Nathan.


"Aneh kamu lah, kamu jelek, tidak punya uang, hadeh kenapa aku mau dengan mu..


"Hahaha iya juga ya kan, ada juga wanita seperti itu, sudah tau yang di kejar jelek, tidak punya uang, tidak punya hati. Masih saja mengharapkan apa yang tidak pasti. Harga diri itu mahal, boleh mengejar tetapi harus sadar diri, karena menjaga apa yang sudah dimiliki jauh lebih penting dibanding mengejar yang tak pasti," ucap Nathan.


"Hahaha sayang kamu kenapa serius begini, aku bercanda, aku tidak mengejar mu, kamu yang mengejar ku, wanita itu untuk di kejar bukan mengejar, harga diri ku lebih tinggi dari pada mengejar seorang pria," kata Helen.


"Nah itu baru istri ku, aku bercanda kok, aku tidak serius hanya kata kata yang terlintas di otak ku saja," ucap Nathan.


"Jangan bergaul dengan Bryan sayang, aku tidak mau kamu seperti itu ah."


"Kamu jangan seperti itu. Bryan benar-benar baik pada ku, dia banyak mengajarkan ku tentang rumah tangga, itu hanya sedikit ajaran tidak baik dari nya. Ya niat awal nya memang ingin menggoda mu, tetapi kamu nya tidak suka aku goda."


"Aku suka di goyang," kata Helen.


"Hahaha kalau itu aku pun suka, apalagi kalau kamu di atas beh enak benar."


"Langsung ya, dasar otak pria."


Karena terlalu asik mengobrol tidak terasa mereka berdua sampai di perusahaan. Nathan langsung membawa Helen masuk kedalam perusahaan nya. Nona Helen belum banyak di kenal orang, memang pernikahan Nathan dan Helen sangat besar tetapi tidak semua karyawan perusahaan datang menyaksikan pernikahan itu. Hanya petinggi perusahaan saja yang datang di acara pernikahan itu.


"Itu nona yang menikah dengan tuan Nathan. Sangat dewasa dan terlihat sangat galak."


"Benar, seperti nya tuan Nathan akan kicep dengan nya."


"Hahaha kau benar, tuan Nathan masih terlihat polos jika di samping wanita gahar seperti itu."


"Sayang aku dengar apa yang mereka ucapkan," kata Helen, kupingnya terasa sangat panas mendengar itu semua.


"Hahaha biarkan saja, memang kamu sangat dewasa kok, memang galak juga. Dan benar aku terlihat sangat polos jika bersama mu. Tetapi yang terpenting aku mencintaimu sayang," ucap Nathan.


"Hahaha begitu, memang si aku terlihat lebih mendominasi diri mu.".


Helen tidak bisa mengelak memang ia lebih mendominasi Nathan. Nathan seperti suami yang benar-benar taat pada istri nya. Meskipun sebenarnya tidak begitu, ia tetap takut pada Nathan, apalagi kalau Nathan sudah marah terlihat begitu menyeramkan.


Nathan membawa Helen ke ruangan nya. Helen pertama kali nya masuk ke ruangan itu, ia melihat lihat apa saja yang ada di dalam sana, mana tau ada hal yang mencurigakan yang bisa Helen temukan. Perkataan Nathan tentang Cindy membuat Helen sangat waspada.


"Tidak ada hal yang mencurigakan," ucap Helen.


"Sayang kamu mencari apa si?? aku tida menyimpan apapun sayang," kata Nathan.


"Mana tau kan, kamu ingin mengambil apa," tanya Helen.


"Laptop ku saja, besok sampai senin tanggal merah, dari pada aku bingung mengerjakan apa, lebih baik aku bawa pekerjaan ku ke rumah."


"Bekerja itu tugas suami sayang, istri hanya diam dirumah, belanja sana sini, dan mengurus anak," kata Nathan.


Saat keluar dari ruangan Nathan mereka berdua bertemu dengan Cindy dan Marvin, hal itu mengejutkan mereka berdua. Untung saja Nathan membawa Helen jadi tidak akan rasa curiga dari Helen. Helen menatap tajam Nathan, ia merasa sangat beruntung ikut dengan Nathan, kalau dia tidak ikut Nathan dan Cindy akan bertemu berduaan.


"Kalian, bukan nya kalian sudah harus pergi keluar kota," tanya Nathan.


"Iya Nathan tetapi nanti setelah ini, kami berdua baru pergi. Tida berdua juga si, istri dana anak ku juga ikut."


Cindy merasa tidak nyaman berada di antara mereka semua. Ia berjalan menjauh dari mereka semua agar tidak ada hal yang membuat Helen marah pada nya ataupun pada Nathan. Ia tau Nathan tidak jadi pergi karena tidak mendapatkan izin dari Helen.


"Dia pergi bagus lah, dia sadar," batin Helen.


"Aku pergi dulu." Marvin berjalan menyusul Cindy.


"Sayang tatapan kamu sangat tajam, Cindy sampai takut pada mu."


"Bagus lah dia sadar, kenapaa kamu tidak suka???"


"Bukan begitu sayang, aku tidak enak pada nya."


"Ya sudah kalau tidak enak. Kejar lah dia." Helen berjalan meninggalkan Nathan.


"Sayang jangan marah." Nathan tidak mungkin mengejar Cindy, bisa bisa rumah tangga nya langsung berakhir di meja hijau. Istri nya ini sangat sensitif jika sudah menyangkut masalah Cindy.


"Sayang." Nathan menarik tangan Helen agar Helen berhenti berjalan.


"Apa," ucap Helen.


"Jangan membuat ku malu." Nathan sadar mereka berdua menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Terserah ku."


"Helen... Jangan berlebihan, lihat banyak orang yang memperhatikan kita, ayo." Nathan ingin membawa Helen ke dalam mobil tetapi Helen menepis tangan nya.


"Helen." Nathan menatap tajam Helen dan kembali memegang tangan Helen, dengan cepat Nathan membawa Helen pergi dari sana.


Di dalam mobil Helen dan Nathan saling diam, mereka berdua duduk di bangku belakang karena Nathan belum bisa mengendalikan emosinya Ia takut malah terjadi hal yang tidak tidak jika ia memaksakan diri.


"Kamu berlebihan aku tidak suka, aku sudah cukup sabar sayang, oke kamu bisa marah pada ku tapi jangan di tempat umum. Kamu tau aku siapa kan, aku pemimpin perusahaan ini nama ku bisa hancur jika kamu seperti itu di depan banyak orang."


Helen merasa Nathan benar-benar marah pada nya, ia jadi takut dengan kemarahan Nathan.


"Apa!!! Aku salah lagi," tanya Nathan.


"Tidak maaf." Helen benar-benar takut dengan kemarahan Nathan.


Nathan merasa sudah cukup memarahi Helen Ia menarik Helen ke dalam pelukan nya.


"Aku mencintaimu sayang, aku tidak akan berpaling darimu. Apa pun terjadi di masa lalu ku, aku tida akan mengulangi nya lagi sayang. Aku sudah terjebak di dalam cinta yang luar biasa ini," ucap Nathan.


"Maafkan aku sayang, aku berlebihan." Helen memeluk suami nya dengan erat.


Nathan membuat Helen duduk di atas pangkuan nya, Untung saja mobil yang mereka pakai cukup tinggi yang membuat Helen tidak terbentur atap mobil.


"Sayang kamu mau apa," tanya Helen.


"Aku haus." Nathan membuka beberapa kancing baju Helen. Sifat nakal nya datang kembali.

__ADS_1


Cindy meminum air putih cukup banyak. Jujur ia merasa kesal dengan Helen, ia tidak akan merebut Nathan dari Helen, tidak sudi untuk nya merebut seseorang yang sudah mempunyai istri. Apalagi diri nya juga termasuk seseorang terpandang di kalangan pembisnis. Nathan juga bukan tipe nya sama sekali, perjodohan nya yang batal dengan Nathan itu juga karena permintaan nya.


"Aku tidak akan merebut nya. Dia bukan tipe ku, banyak pria yang lebih tampan dari nya," ucap Cindy.


"Sabar," kata Marvin.


"Aku tidak bisa sabar begitu, ini sangat keterlaluan," ucap Cindy.


"Namanya juga manusia Cindy, mungkin dia trauma dengan masa lalu nya, aku juga tidak bisa menyalahkan nya," kata Marvin.


"Sudah lah, aku malas membahas nya, ayo berangkat kata anak istri mu sudah menunggu di bandara," ucap Cindy.


Helen dan Nathan kembali pulang ke rumah, mereka berdua tidak enak pergi terlalu lama meninggal kan Edward bersama dengan Tiara. Edward pria yang cukup cerewet dan banyak pertanyaan.


"Sayang, mamah pulang," ucap Helen.


"Mamah...."


"Kamu sendiri sayang, dimana kakak itu," tanya Helen.


"Mandi, mamah sudah selesai," tanya Edward.


"Sudah sayang, ayah mu masih di bawa," jawab Helen.


"Mamah Edward ingin sekolah dengan Salsa," ucap Edward.


"Hedeh buaya darat satu ini, ya sudah nanti mamah daftarkan. Tetapi mamah ingin kamu membantu mamah," ucap Helen.


"Membantu..."


"Sebentar lagi ayah mu ulang tahun sayang, nah kamu akan menjadi alat untuk mamah."


"Aku tidak mengerti," ucap Edward.


"Ya sudah jangan di mengerti sayang, ribet nanti saja ya," kata Helen.


Edward sama sekali tidak paham dengan apa yang mamah nya katakan, ia malah asik dengan mainan baru yang baru ia beli tadi. Banyak mainan yang belum pernah ia lihat.


Di bawa seperti biasa Nathan banyak konsultasi pada Bryan, ia yakin Bryan pasti memiliki solusi di setiap masalahnya. Meskipun begitu Nathan tidak ingin terlalu terbuka, ada beberapa hal yang cukup dia dan Helen saja yang tau. Salah satu nya sikap buruk ke dua nya.


"Sesekali tegas boleh tetapi galak jangan," ucap Bryan.


"Itu reflek, aku seperti memiliki dua sifat. Kalau aku marah karena susah keterlaluan pasti akan muncul sifat itu. Tetapi kalau hanya masalah kecil aku masih bisa menahannya."


"Aku penasaran bagaimana kalau Nathan seperti mu itu marah, kau seperti pria baik baik begitu, bagaimana mungkin kau bisa marah."


"Hanya terlihat saja bukan benar-benar pria baik baik."


"Oh iya Nathan, sampai lusa kan libur. Bagaimana kita bawa anak istri kita jalan jalan," ucap Bryan.


"Kemana? aku si mau saja," tanya Nathan.


"Aku mempunyai beberapa tempat referensi, aku si ingin nya ke danau. Ha di sana kita akan berkemah, disana kita akan melakukan banyak hal, seperti memancing. Kita juga bisa memberikan anak kita pelajaran tentang alam.


"Ide bagus, besok sore kita berangkat, siang nya kita bersiap siap, kau ada tenda?"


"Hahaha itu masalah nya, aku tida mempunyai tenda."


"Kita beli saja lah, beli dua dengan ukuran besar," ucap Nathan.


"Dua untuk apa dua," tanya Bryan.


"Dua untuk anak kita, kalau ingin jatah bisa berbeda tenda," jawab Nathan.


"Hahaha jatah jatah," ucap Bryan.


"Kebutuhan primer Bryan, biasa nya pengantin baru masih anget anget nya," kata Nathan.


Malam hari nya, Nathan menyampaikan niat mereka untuk berkemah besok sore. Semumpung mereka semua lagi berkumpul makan malam bersama sama.


"Sayang," ucap Nathan.


"Iya," kata Helen.


"Besok kita pergi berkemah. Bryan mempunyai ide itu."


"Iya sayang, itu sangat bagus," kata Tiara.


"Nah kan sudah aku katakan sangat bagus," ucap Bryan.


"Ya sudah ayo lah, Edward mau ikut," tanya Helen.


"Mau lah, mana mungkin dia tidak ikut. Mau di rumah sendiri kan tidak mungkin."


"Iya juga sayang," ucap Helen.


"Ayah mainan Edward belum datang semua nya."


"Sudah Edward berada di kamar satu nya," kata Tiara.


"Iya tante, Salsa nanti malam main lagi," ucap Edward.


"No no Salsa nanti harus belajar."


"Aku tida belajar mah," tanya Edward.


"Tidak sayang, kamu belajar tidur di kamar baru," jawab Helen.


Setelah selesai makan malam. Nathan dan Helen membawa Edward ke kamar baru nya, mereka menyusun kamar itu agar lebih nyaman untuk Edward. Lagi pula pasti Edward belum mau tidur sendiri di kamar ini.


"Ini kamar Edward?".


"Iya sayang, mamah susun dulu ya. Kamu rapihkan mainan mu dengan Ayah."


"Sayang lihat ini, kamu pintar memilih mainan," kata Nathan.


"Edward tidak suka itu, ayah Edward ingin tidur dengan ayah..."


"Tidak bisa sayang, kata kamu, kamu ingin mempunyai adik," ucap Nathan.


"Ayah...."


"Ayan temani tidur ya, nanti setelah Edward tidur ayah akan keluar dari sini."


"Bagaimana cara membuat adik nya, Edward ingin ikut."


"Tidak bisa sayang, kamu belum bisa. Nanti ketika sudah besar baru kamu bisa membuat nya, hahaha kamu ini ya banyak saja pertanyaan mu. Kalau kamu tau ya bahaya," ucap Nathan.


Nathan menggendong Edward ke atas kasur yang sudah Helen rapihkan. Sudah saat nya untuk Edward tidur karena jatah Nathan sudah harus jalan..

__ADS_1


__ADS_2