Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Berbaikan


__ADS_3

Bryan membagi spaghetti yang ia masak tadi. Ia tidak pernah pelit dengan makanan, apalagi makanan itu di sukai oleh orang lain. Nathan memakan dengan lahap, ia jadi merasa lebih tenang setelah memakan makanan dari Bryan.


"Bryan kau pernah bertengkar karena masalah kecil," tanya Nathan.


"Sering lah, karena masalah kecil saja bisa bertengkar. Bahkan pernah aku terlalu kencang goyang dia marah, ya kita harus lebih Mangala saja. Memeng menjalin rumah tangga itu tidak mudah, ketika aku sudah memutuskan untuk menikah aku sudah siap mengambil semua resiko yang aku dapatkan. Apalagi aku dan Tiara berasal dari negera yang berbeda. Banyak problem dari rumah tangga kami berdua. Karena sifat ku yang tidak suka bertengkar, aku hanya diam saat istri ku ngeromet tidak jelas. Toh nanti dia capek sendiri setelah itu aku minta maaf pada nya," jawab Bryan.


"Hahaha kau pria hebat. Aku tidak bisa, karena mungkin aku belum siap menikah kali ya, aku pasti menjawab apa saja yang dia mempermasalahkan," ucap Nathan.


"Jangan Nathan, diam bukan berarti kalah, diam nya kita itu emas Nathan, tetapi jangan sampai istri kita jadi kurang ngajar pada kita. Pintar pintar Kita lah," kata Bryan.


"Ya juga ya, terimakasih Bryan kau memberikan ku saran yang baik. Pantas saja Tiara tergila-gila pada mu, kau saja seperti pria sempurna seperti itu," ucap Nathan.


"Hahaha aku tidak sesempurna yang kau pikirkan Dulu aku tu nakal Nathan. Hahaha Tiara membuat ku tobat, ya walaupun aku membobol nya dulu, tapi karena itu aku bisa tobat," kata Bryan.


"Wah wah gila, kau membobol nya lebih dulu," tanya Nathan.


"Hahaha nama nya playboy Nathan, mau bagaimana lagi. Body Tiara benar-benar seksi, aku memang sudah niat untuk menikahi nya, karena perbedaan warganegara membuat pernikahan kami lebih lama, aku sudah tidak tahan ya gas lah."


"Dia mau," tanya Nathan.


"Awalnya coba coba eh ketagihan. Hahaha jelas tidak lah, aku paksa dengan berbagai macam ancaman, intinya dulu aku tidak sebaiknya yang kau pikirkan. Sekarang saja aku sudah tobat," ucap Bryan.


"Tiara berarti wanita hebat mempu membuat mu tobat."


"Dia mengerti kebutuhan ku nat, aku termasuk hiper tapi dia dapat mengimbangi keinginan ku, dimana pun dan kapan aku mau dia ready. Itu sebabnya aku tidak kekurangan kebutuhan rohani dan aku lebih fokus bekerja."


"Keren keren, aku belajar banyak dari mu."


"Kau besok bekerja," tanya Bryan.


"Tidak, aku libur bekerja," jawab Nathan.


"Bagus, malam ini ada pertandingan bola kita menonton," tanya Bryan.


"Beruntung aku tidak jadi keluar kota, ayo kita gas," jawab Nathan.


"Nah iya kata mu tadi kau akan pergi keluar kota."


"Hahaha tidak jadi, karena itu aku bertengkar dengan istri ku. Padahal sebelum nya kami baru menggapai indahnya cinta tetapi karena hal kecil kami bertengkar," kata Nathan.


"Hayo bagi mu itu masalah kecil tapi bagi istri mu itu masalah besar, jangan menganggap semua nya itu sesuai dengan sudut pandang mu Nathan. Coba lihat dari sudut pandang istri mu," ucap Bryan.


"Seperti nya kau benar, sudah nanti aku selesai kan. Jadi tida nonton bola nya," tanya Nathan.


"Jadi lah, aku sudah menunggu pertandingan ini," jawab Bryan.


Dua pria itu menghabiskan malam dengan menonton bola, istri mereka berdua sudah terlelap karena ganas nya mereka berdua.


Pagi hari nya. Helen bingung kenapa Nathan belum kembali masuk ke dalam kamarnya, ia pikir Nathan langsung pergi meninggalkan rumah dan keluar kota bersama dengan Cindy.


"Dia mementingkan pekerjaan nya, ya sudah aku juga bisa," ucap Helen.


Helen turun dari lantai atas, ia berpapasan dengan Tiara yang juga baru bangun dari tidurnya.


"Pagi Helen, apa kau melihat suami ku," tanya Tiara


"Kau kehilangan suami mu juga, hahaha sama aku juga kehilangan nya, dia ntah kemana," jawab Helen.


"Jangan jangan suami kita ada main," ucap Tiara.


"Maksud mu mereka berdua... Tidak tidak Nathan normal, kemarin saja dia habis menggempur ku habis habisan," kata Helen.


"Hahaha aku bercanda, mana mungkin suami kita belok, mungkin mereka ketiduran karena menonton bola. Bryan biasa seperti itu jika hari libur," ucap Tiara.


"Apa benar, tapi aku rasa Nathan sudah pergi keluar kota," kata Helen.


"Kita lihat saja di ruang tv."


Tiara dan Helen turun dari lantai atas. Mereka berdua saling menatap karena cara berjalan mereka yang sedikit aneh.


"Sakit," tanya Helen.


"Hahaha iya sakit, nama nya begitu," jawab Tiara.


"Sama Tiara, apalagi aku 3 ronde tanpa henti, Mati-mati, bagus dia pergi keluar kota," kata Helen.


"Hahaha sabar Helen, nama nya juga pria, aku juga sering seperti mu, tapi pasti tadi malam kau sangat puas," ucap Tiara.


"Hehehe kalau itu jangan di tanya, pasti lah sangat puas, bagaimana tidak puas goyangan nya mantap sekali," kata Helen.


"Hahaha tu minta suami keluar kota, sudah bagus di goyang malah seperti itu itu, nanti suami mu pergi beneran baru tau rasa," ucap Tiara.


"Hehehe aku juga sedang bertengkar dengan nya."


"Kenapa bisa begitu," tanya Tiara.


"Biasa lah, masalah Nathan, sudah ah aku malas membahas nya."


Mereka berdua melihat suami mereka berdua sedang tertidur di atas sofa dengan televisi yang masih menyala. Memeng apa yang di katakan Tiara benar apa ada nya.


"Saat nya membangunkan mereka Helen," ucap Tiara.


"Malas biar saja," kata Helen.


"Duduk di atas pangkuannya dan cium bibir nya, kamu tu harus mengerti kesenangan suami kamu Helen Ayo." Tiara menarik Helen mendekati suami mereka.


Tiara naik ke atas pangkuan suaminya. Helen yang tida ingin melihat Tiara melakukan hal gila didepan nya memutuskan melakukan hal yang sama.


Nathan terkejut saat tiba-tiba ada yang berusaha menebus bibir nya. Ia membuka mata nya perlahan, dan betapa terkejut nya Nathan, melihat Helen yang melakukan hal ini, ia tidak mengerti kenapa Helen melakukan hal itu, tetapi jujur Nathan sangat suka. Perlahan Nathan memegang wajah Helen dan membalas ciuman itu.


Hal yang sama juga di lakukan Tiara. Bryan sudah sangat biasa mendapatkan hal itu, hal seperti ini yang membuat Bryan benar-benar sangat mencintai istri nya, apa yang ia inginkan selalu Tiara lakukan tanpa ia minta. Wanita sepeka Tiara adalah wanita terbaik untuk nya.


"Lihat," ucap Tiara.


"Mereka bertengkar sebelum nya," bisik Bryan.


"Hahaha iya aku tau, aku yang meminta nya untuk melakukan nya. Biasa sayang rumah tangga baru, dulu kita saja seperti itu."


"Ya tapi kamu sangat sabar pada ku, kalau Helen tidak. Malah seperti nya Nathan yang lebih sabar dari Helen."


"Memang iya, Helen wanita yang keras. Semoga saja Nathan bisa lebih mengerti Helen," ucap Tiara.


"Ehem..." Gumam Bryan.


Helen dan Nathan langsung melihat ke arah mereka berdua. Mereka belum terbiasa dan merasa sangat malu. Apalagi Nathan yang sebelumnya sudah bercerita pada Bryan jika ia sedang bertengkar dengan Helen, saat mendapatkan hal seperti ini ia malah sangat luluh.


"Sudah baikan Nat," ucap Bryan.


"Hehehe ya begitu lah, nama nya kucing di. kasih ikan asin mana ada yang tidak mau," kata Nathan.


"Maafkan aku sayang, aku tida mengerti diri mu Aku tidak akan pergi, aku tau kamu pasti sangat trauma dengan wanita itu. Aku tidak tau apa yang kamu rasakan dulu, aku tidak tau apa yang membuat mu begitu membenci wanita itu. Tetapi aku yakin kamu membenci seseorang pasti ada alasan yang sangat jelas."


"Tidak papa, aku mengerti, kamu tidak mengingat semua nya, aku juga salah."


"Sudah gas Nat, libur kan," ucap Bryan.

__ADS_1


"Hahaha tidak lah, aku harus menjemput anak ku," kata Nathan.


"Sayang." Tiara dan Bryan saling menatap.


"Anak kita." Mereka berdua lupa jika tadi malah harus nya mereka menjemput anak pertama mereka di rumah nenek nya.


"Ah pasti dia ngambek padaku." Bryan langsung berlari ke bagasi mobil dan pergi meninggalkan rumah.


"Suami mu sigap ya," ucap Helen.


"Pasti dong, tanpa aku minta."


"Dengarkan sayang, jadi lah suami yang sigap dan kuat," ucap Helen.


"Kurang kuat apalagi aku sayang, tiga ronde tanpa henti masih kurang kuat," tanya Nathan.


"Bukan kuat begitu yang aku maksud sayang, ah kamu tidak paham."


Nathan memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjemput Edward, ia yakin pasti Edward sudah menunggu nya. Masalah kepergian nya ke luar kota yang gagal sudah ia bicarakan dengan Vino dan Marvin lah yang menggantikan nya pergi keluar kota.


"Aku berangkat sayang," ucap Nathan.


"Tidak sarapan dulu," tanya Helen.


"Tidak perlu, aku akan makan di luar dengan Edward."


"Hati-hati, jangan membuat Edward terlalu betah di sana," ucap Helen.


"Hahaha iya iya."


"Dia bukan ayah kandung Edward tetapi Nathan seperti benar-benar sangat menyayangi Edward."


"Aku pun heran, bagaimana mungkin bisa Nathan sesayang itu pada Edward. Mereka berdua sama sekali tidak memiliki ikatan apapun, bertemu juga baru beberapa minggu tetapi mereka berdua benar-benar saling menyayangi."


"Lalu apa akan selama nya Edward menganggap kalian berdua ayah dan ibu nya?"


"Itu masih aku pikirkan, tetapi seperti nya lebih baik kami mengatakan langsung jika memang dia bukan anak kandung kami, ya tunggu sampai dia remaja lah, mungkin dia akan mengerti semuanya setelah masuk usia remaja," kata Helen.


"Memang lebih baik mengatakan nya secara langsung Helen, dari pada merahasiakan nya dan dia tau dari orang lain itu akan sangat menyakiti nya. Aku yakin jika membicarakan semuanya baik baik pasti Edward akan mengerti semua nya. Dan kalian tidak perlu khawatir pasti Edward akan tetap menyayangi kalian berdua."


"Aku sangat takut sebelum dia dewasa orang tua kandung nya tiba tiba datang mengambil nya, hal itu terkadang cukup menghantui pikiran ku, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi, bagaimana kalau Edward pergi dengan orang tua kandung nya."


"Tidak akan, kata mu saja Edward tidak memiliki identitas yang jelas. Bagaimana mungkin bisa ada orang yang mengaku ngaku orang tua nya. Lagi pula Edward juga sudah masuk ke dalam kartu keluarga kalian bukan? jadi jangan terlalu memikirkan nya."


Sesampainya di rumah Vino. Nathan langsung berlari ke kamar atas. Ia sangat yakin pasti Edward sudah menunggu nya sejak tadi.


"Ayah," teriak Edward sambil melompat ke arah Nathan.


"Ayah lama sekali," ucap Edward.


"Hehehe maaf sayang, ayah kesiangan," kata Nathan.


"Edward ingin pulang. Teman teman Edward sudah pergi sekolah, Edward ingin sekolah juga."


"Iya nanti kita mendaftar sekolah ya, sekarang ayo kita pergi jalan jalan, kamu ingin membeli makanan atau mainan," tanya Nathan.


"Mainan," jawab Edward.


Saat keluar dari dalam rumah Nathan berpapasan dengan Vino. Hal ini membuat Nathan tidak enak karena ia tidak jadi pergi keluar kota.


"Kapan sampai nat," tanya Vino.


"Tadi dad, daddy dari mana," tanya Nathan.


"Dari rumah sakit, mengambil sempel hasil pemeriksaan," jawab Vino


"Positif dong, mana mungkin daddy gagal," jawab Vino.


"Hahaha keren, mommy sudah hamil lagi, ini sangat keren," ucap Nathan.


"Positif apa? hamil mana pulak hamil."


"Jadi positif apa?"


"Positif jika daddy sehat, hahaha kau salah paham. Daddy tes kesehatan sayang, jangan memikirkan hal. yang tidak tidak," ucap Vino.


"Daddy.... Aku pikir sudah hamil," kata Nathan, hampir saja Nathan merasa tersaingi dengan kehamilan mommy nya, dengan penuh harapan Nathan ingin sekali Helen hamil lebih dulu dari mommy nya.


"Daddy maafkan aku, aku tidak jadi pergi, aku tida mendapatkan izin dari Helen. Aku tidak tau apa yang membuat nya sangat membenci Cindy. Apa salah Cindy, dia seperti nya wanita yang baik.


"Iya daddy paham sayang, semua itu salah daddy, kau tidak perlu tau, sudah biarkan seperti ini saja. Memang tidak seharusnya kau bertemu dengan Cindy lagi."


"Ayah ayah lapar," ucap Edward.


"Hey boy, kau ingin pergi dari rumah kakek," tanya Vino sambil mencium wajah Edward.


"Edward tidak ada teman di sini, mereka semua sudah pergi sekolah."


"Kan ada kakek sayang, sini saja ya, kita bermain bersama..."


"Ayah..."


"Iya iya, kamu ikut ayah. Dia sudah bosan di rumah dad, nanti aku akan membawa nya ke sini lagi, aku dan Edward pergi dulu," ucap Nathan.


"Ya sudah jangan lupa bermain ke rumah kakek sayang."


"Iya kek. Edward pulang dulu..."


"Wajah mu benar-benar menggemaskan." Beberapa kali Vino mencium wajah Edward. Meskipun bukan cucu kandung nya tetap saja Vino sangat menyayangi Edward. Edward memang memiliki daya tarik tersendiri, masih kecil saja sudah banyak memikat orang lain, apalagi jika sudah dewasa nanti, pasti Edward akan menjadi pria yang di cintai banyak wanita.


Nathan membawa Edward ke restoran di mall terbesar di kota itu. Sebelum jalan jalan dan membeli banyak mainan untuk di rumah mereka berdua harus mengisi perut terlebih dahulu. Rasa lapar sudah menghantui mereka berdua.


"Ayah ayah tadi kata Marcel dia akan punya adik lagi," ucap Edward.


"Ha kamu serius," tanya Nathan.


Ia sedikit tidak percaya Nila sudah hamil lagi. Memang Marcel sudah 5 tahun dan adiknya 4 tahun, tetapi tetap saja itu terasa aneh. Karena memang Nila tidak ingin mempunyai anak lagi.


"Ya mungkin karena Calvin, siapa lagi jika bukan ulah Calvin," batin Nathan.


"Ayah kapan Edward punya adik?"


"Sabar sayang, adik kamu sedang proses pembuatan, sabar ya..." Nathan mengusap kepala Edward, seperti nya memang Edward sudah tidak sabar mempunyai seorang adik. Hal itu membuat Nathan memikirkan sesuatu, ia rasa ia harus menjalani program kehamilan bersama dengan Helen. Mungkin dengan demikian mereka berdua bisa segera menghadiahkan adik untuk Edward.


"Edward ingin adik seperti Edward..."


"Laki laki maksud kamu... Hmmm tapi ayah ingin kamu mempunyai adik wanita," kata Nathan.


"Tidak mau," ucap Edward.


"Kenapa sayang, wanita itu cantik seperti mamah," kata Nathan.


"Nathan menangis terus seperti adik itu."


"Adik itu. Hmmmm anak nya Marvin ya, tapi ayah ingin anak wanita sayang," kata Nathan.

__ADS_1


"Tidak mau," rengek Edward.


"Hadeh ya sudah iya iya, yang berburung seperti mu," kata Nathan.


Setelah selesai makan seperti yang aku Nathan rencanakan. Edward dan Nathan langsung mencari mainan untuk mengisi kamar Edward yang masih kosong. Berbagai macam mainan Edward tunjuk, ia sangat senang berbelanja dengan ayah nya, apa yang ia tunjuk pasti langsung di kemas tanpa banyak larangan.


"Yang kemarin yah, yang besar," ucap Edward.


"Hmmm dimana kamu memainkan nya, tidak ada tempat sayang," kata Nathan.


"Tidak boleh," tanya Edward.


"Bukan tidak boleh, tapi tempat nya kurang lebar sayang. Nanti saja ya kalau sudah mempunyai rumah baru, ayah akan membeli yang besar besar," jawab Nathan.


"Iya yah." Edward kembali mencari mainan yang mungkin untuk ia miliki. Dengan mempunyai banyak mainan Nathan yakin Edward tidak akan kesepian di rumah.


Pukul 11 siang mereka berdua sudah kembali ke rumah. Kebetulan Helen sedang memasak makan siang untuk mereka, Nathan secara diam-diam membawa Edward ke arah Helen.


"Mamah," teriak Edward.


"Sayang kamu mengejutkan mamah," ucap Helen.


"Mamah masak apa? mamah masak untuk Edward?"


"Iya sayang, mamah masak untuk anak mamah tersayang ini."


"Mamah luka, itu kenapa," tanya Edward sambil menunjuk leher Helen.


"Mampus," ucap Nathan sambil menutup mulut nya.


"Mampus kenapa yah," tanya Edward.


"Jangan dengarkan ayah mu, ini karena ulah ayah. Dia membuat luka ini."


"Ayah nakal," ucap Edward sambil memukul burung Nathan. Karena memang hanya itu yang bisa Edward jangkau.


"Edward...." Nathan memegang perut nya yang terasa sakit.


"Jangan ayah jahat," ucap Edward.


"Sayang adik yang kamu inginkan dari sini, kalau dia terluka bagaimana." Nathan langsung duduk untuk mengurangi rasa sakit itu.


"Adik dari sana," tanya Edward.


"Edward jangan dengarkan ayah, sekarang kamu naik ke atas, berkenalan dengan anak tante Tiara."


"Ada teman," tanya Edward.


"Ada sudah sana, hati hati jangan berlari," jawab Helen.


Setelah Edward pergi Helen mematikan kompor dan berjalan mendekati Nathan. Ia yakin pasti rasa nya benar-benar sangat sakit sekali.


"Sakit sayang, dia memukulnya dengan kuat," ucap Helen.


"Sakit banget, mana saat setengah bangun lagi," kata Nathan.


"Kenapa bisa setengah bangun," tanya Helen.


"Aku suka melihat mu dari belakang, jadi teringat tadi malam."


"Otak kotor, mana sini aku periksa," ucap Helen sambil melihat barang memperhatikan milik Nathan.


Helen melihat barang itu, tidak ada yang berubah hanya bentuk nya saja yang mengecil, karena barang itu berwarna putih bersih terlihat cukup merah karena pukulan kuat Edward.


"Sayang itu sakit coba kamu elus," ucap Nathan.


"Ini." Dengan bodoh nya Helen melakukan apa yang Nathan minta.


"Kalau tidak sunat ada pelindung nya," kata Helen.


"Iya aku si tidak tau, aku sunat dari bayi. Aku tau saat melihat milik Edward, seperti nya milik Edward akan menjadi calon anaconda," ucap Nathan.


"Dia juga akan sunat sayang," tanya Helen.


"Iya dia akan sunat sayang, nanti setelah masuk sekolah dasar saja. Demi kebersihan nya, lihat milik ku jadi bagus kan," ucap Nathan.


"Dia bangun..." Helen langsung menutup nya kembali, ia merapihkan kembali celana Nathan.


"Dia bangun karena mu, hahaha sudah tidak sakit, terimakasih sayang."


"Hmmm apa kata daddy kamu? apa dia marah pada mu karena kamu tidak jadi keluar kota," tanya Helen.


"Ya begitu lah, dia tidak marah, malahan dia mengerti semuanya. Dia sangat merasa bersalah karena itu kesalahan nya. Itu kata nya aku tidak tau apa yang daddy ku maksud."


"Oh iya sayang. Edward ingin adik laki-laki, tapi aku ingin anak perempuan," ucap Nathan.


Nathan tidak ingin membahas masa lalu nya, lebih baik ia mengalihkan perhatian Helen ke lain hal yaitu soal anak.


"Aku si terserah, lagi pula kita menikah belum sampai satu minggu."


"Nah itu sayang, aku ingin kita melakukan program kehamilan," ucap Nathan.


"Haaa???


"Iya sayang, agar kamu cepat hamil dan kita bisa merencanakan kehamilan ini dengan sangat matang."


"Sayang kita menikah belum sampai satu minggu. Tidak ah, nanti saja kalau misalnya 6 bulan aku belum hamil itu bisa kita program kehamilan," ucap Helen.


"Begitu ya... Tapi...


"Tidak ada kata tapi sayang, kamu tau kalau program jatah kamu bisa di kurangin loh."


"Apa benar, ya sudah tidak usah lah, oh iya aku akan ke kantor lagi. Nanti jika mainannya Edward sudah datang kamu bisa meminta mereka untuk membawa nya langsung ke lantai atas."


"Kamu mau pergi lagi? bukan nya hari ini kamu libur," tanya Helen.


"Tidak lama hanya mengambil beberapa berkas penting."


"Ya sudah nanti saja lah, aku sebentar lagi siap memasak, makan dulu ya. Aku nanti ikut menemani mu."


"Ya sudah aku makan dulu temani aku ya."


"Iya sayang, aku akan menemani mu."


Helen melanjutkan kegiatan memasak nya dengan cepat agar Nathan bisa cepat makan dan ia bisa bersiap siap untuk pergi bersama dengan Nathan..


Di kamar Edward berkenalan dengan anak nya Tiara. Gadis cantik yang usia nya 1 tahun lebih tua dari Edward. Edward sangat senang mempunyai teman di rumah ini.


"Kalian jangan bertengkar ya, main dengan benar. Ayah ingin ke kamar mandi."


"Iya paman," ucap Edward.


"Kamu lucu," kata Salsa.


"Makasih," ucap Edward.

__ADS_1


"Ciah bisa saja ini anak gadis, jarang melihat cowok tampan ya." Tiara hanya bisa tertawa melihat mereka berdua. Seperti nya mereka berdua sama sama nyaman bersama.


"Kalau kalian kami jodohkan, bisa seru ini, nanti aku akan membicarakan masalah ini dengan Helen dan Nathan. Mana tau mereka mempunyai pemikiran yang sama seperti ku," ucap Tiara.


__ADS_2