
Nathan menaikan kepala Helen ke atas. Perlahan ia mendekati wajah Helen dan mencium bibir Helen dengan sangat lembut. Awal nya hanya Nathan yang bekerja tetapi akhirnya Helen membalas ciuman itu. Ia merasa tubuh nya menghangat karena ciuman itu.
Tanpa sadar mereka berciuman cukup lama, saling membalas sampai menimbulkan suara diantara mereka berdua. Karena sudah merasa cukup Helen melepaskan nya. Ia sudah benar-benar hangat karena ciuman panas itu.
"Sudah lebih baik," tanya Nathan.
"Sudah, jangan salah paham ya. Aku membalasnya bukan karena aku suka," ucap Helen.
"Aku mencium mu karena aku nafsu," kata Nathan.
"Nathan," ucap Helen.
"Lah aku jujur. Kau juga sudah terbawa kan, bukti nya itu mu lebih kencang, aku dapat merasakan nya."
"Helen kau mau tidak, kita bisa melakukan nya sekarang," ucap Nathan.
"Nathan..."
"Hahaha tidak tidak aku bercanda."
Nathan melihat lihat ke arah sekitar mereka, ternyata hutan sudah gelap. Nathan mengambil handphone nya untuk menyalakan lampu flash.
"Pakai lagi Helen, atau aku pakai kan," ucap Nathan.
__ADS_1
"Jangan sentuh itu ku," kata Helen.
Cukup dada bidang Nathan yang boleh menyentuh nya. Lebih dari itu tidak boleh.
"Seperti nya alat ini berfungsi, kan ayah ku sudah memasang banyak pelacak," ucap Nathan.
"Apa benar," tanya Helen.
"Iya, aku rasa di tubuh ku juga ada. Kita harus ke tempat yang lebih luas, mana tau helikopter mereka lewat," ucap Nathan.
"Kaki ku sakit," kata Helen.
"Sama, satu kaki ku sakit sekali. Kita berjuang sama sama ya," ucap Nathan.
Seperti yang Nathan katakan, Calvin dengan muda menemukan Nathan karena alat yang berada di tubuh Nathan aktif. Mereka yang sudah tidak jauh dari tempat Nathan berada langsung bersiap siap.
"Itu keluarga mu," tanya Helen.
"Seperti nya iya," jawab Nathan.
Nathan dan Helen sudah berada di tempat yang lebih lapang. Nathan mengarahkan lampu flash nya ke atas langit. Mana tau mereka bisa melihat nya dengan demikian.
Beberapa alat pelacak di tubuh Nathan berbunyi, dari jam tangan, kalung, sampai sepatu memenang sudah tertanam. Vino benar-benar menjaga Nathan dengan sangat baik, ia tidak mau apa yang terjadi pada keluarga nya dulu terjadi lagi pada Nathan m
__ADS_1
Calvin sudah menemukan Nathan, mereka melihat kondisi helikopter itu bisa turun atau tidak. Ketika kamu semua nya di rasa bisa, Helikopter itu pun turun.
"Nathan," teriak Calvin.
"Kaki ku sakit, bantu aku," ucap Nathan.
Jika sudah seperti ini, walaupun sedang marah Nathan tetap memerlukan bantuan dari Calvin. Jika Calvin memang merasa tidak ada masalah dengan Nathan, ia tidak pernah marah sedikitpun pada Nathan.
"Kau baik baik saja kan," tanya Calvin sambil memeluk Nathan.
"Kenapa kau yang datang," tanya Nathan.
"Apa penting saat ini siapa yang datang," ucap Calvin.
"Sudah ayo." Calvin membantu Nathan berjalan ke arah helikopter, sedangkan Helen di bantu oleh orang lain.
Mereka pun pergi meninggalkan hutan itu. Nathan hanya diam jika sudah bersama dengan Calvin. Ia tidak menyangka Calvin mau datang mencari nya, padahal sikap nya pada Calvin selama ini benar-benar sangat buruk.
"Kita langsung ke rumah," tanya Calvin.
"Jangan barang barang ku dan Helen masih di kampung," jawab Nathan.
"Nanti ada orang yang akan mengambil nya," ucap Calvin.
__ADS_1
Malam itu mereka berdua langsung kembali ke kota. Sebelum pulang ke rumah masing-masing mereka di periksa dulu oleh dokter agar tidak ada hal yang sekira nya membayangkan kondisi mereka berdua.
"Ingat janji kamu, aku boleh mendekati mu," bisik Nathan pada Helen.