Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Langsung


__ADS_3

"Sayang kamu sudah mandi," tanya Nathan.


"Sudah, tadi mandi dengan nenek," jawab Edward.


"Ingin mandi dengan ayah tidak," tanya Nathan.


"Tidak mau," jawab Edward.


Nathan menggaruk rambut nya, ia tidak tau dengan cara apa membawa Edward ke kamar mandi. Jika keluar dari kamar ia juga sedang tidak memakai apapun. Tidak mungkin Nathan melakukan hal itu.


"Mandi yuk."


"Edward sudah mandi ayah, mandi lagi?"


"Iya dong dengan ayah." Nathan bangkit dari atas kasur dan langsung menggendong Edward ke kamar mandi.


"Ayah itu burung ayah," ucap Edward.


"Sudah hiraukan."


Helen mengerutkan dahinya melihat Nathan yang tidak ada malu nya di depan Edward. Ia saja tidak pernah tidak berpakaian di depan Edward. Helen juga bingung, padahal tadi malam sudah di pakai kenapa masih bisa bangun juga.


"Dia sangat seksi, kuat dan benar-benar keren."


Selagi nathan dan Edward berada di kamar mandi. Helen merapihkan kasur dan mengambil pakaian yang berserakan di lantai. Ia tidak bisa bergerak dengan cepat karena bagian intinya terasa cukup perih untuk berjalan.


Mata Helen tertuju pada noda darah di atas sprei, noda yang cukup banyak yang memiliki arti jika kesucian nya benar-benar sudah hilang. Nathan pria pilihan nya lah yang mengambil kesucian nya.


Setelah semuanya bersih dari rapi kembali. Helen kembali berbaring di atas kasur, ia tidak bisa terlalu lama berdiri karena memang benar-benar cukup perih.


"Ayah, itu kenapa dia bangun," tanya Edward.


Anak sekecil Edward memang tidak heran jika banyak bertanya, ada banyak hal yang membuat nya penasaran.


Nathan mengerutkan dahi nya melihat adik nya bangun begitu mudah. Memang otaknya masih tertuju pada malam pertama nya dengan Helen. Rasa nya ia ingin selalu mengulangi malam pertama nya.


"Tidak ada sayang, nanti jika sudah besar kamu juga merasakan apa yang ayah rasakan," kata Nathan.

__ADS_1


Setelah selesai mandi nathan membawa mendekati Helen, mereka berdua sudah sama-sama rapi dan wangi. Hanya helen yang masih acak-acakan, maklum saja seorang wanita memang seperti itu.


"Mama sakit," tanya Edward.


Edward heran kenapa sejak tadi mamanya tidak ada bicara dan bergerak dari tempatnya, dia pikir mamahnya sedang sakit.


"Mamah tidak sakit sayang, semua ini karena ulah ayahmu," kata Helen.


"Ulah ayah? Ayah nakal pada mamah?" Edward melirik ke arah ayah nya.


"Hahaha iya sayang maafkan saya. Ayah sedikit khilaf."


"Ayah tidak boleh nakal pada mamah. Edward saya mamah."


"Tidak sayang dengan ayah?"


"Sayang juga. Tapi kata paman Riga, ayah mamah sedang bersenang-senang."


"Jangan dengarkan pamanmu itu, dia tidak benar," ucap Nathan.


"Benar itu tidak baik, kamu jangan suka berbohong ya," ucap Nathan.


"Sayang mandi gih, aku tunggu di sini dengan Edward."


"Malas gerak sayang, aku sangat lelah," ucap Helen.


"Sayang jangan begitu ah, sudah kamu mandi sana. Edward mamah mu tidak mau mandi."


"Iya iya aku akan mandi." Helen berjalan secara perlahan ke kamar mandi.


"Mamah sakit yah," ucap Edward.


"Maafkan ayah sayang, sedikit sakit."


Nathan sedikit tidak tega melihat cara berjalan Helen yang sedikit kesulitan. Jika tidak ada Edward ia sudah menggendong Helen masuk ke dalam kamar mandi.


Di luar Riga sedang menunggu Nathan di restoran. Ia sudah tidak sabar mendengar kabar dari malam pertama Helen dan Nathan. Apalagi tadi ia menghasut Edward untuk mengganggu mereka berdua.

__ADS_1


"Ayah mu nakal al," ucap Alfi.


"Hahaha tidak sayang, ayah hanya iseng saja, kamu suka di sini, jarang jarang kita liburan seperti ini."


Alvaro yang pada saat itu belum genap berusia satu tahun, hanya tertawa di ajak daddy dan mamah nya berbicara. Di masa depan Alvaro pasti tau sendiri apa yang mamah dan daddy nya katakan.


Sebelum Helen selesai mandi. Edward dan Nathan keluar terlebih dahulu dari dalam kamar, Edward sudah merengek meminta makanan.


"Itu paman lucknut mu," ucap Nathan.


"Kau." Nathan memukul meja di depan Riga.


"Kau mengejutkan anak ku Nathan," ucap Riga.


"Kau gila, kau menghasut anak ku masuk ke dalam kamar," kata Nathan.


"Hahaha kan sudah selesai juga," ucap Riga tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


"Hey anak mu menggemaskan." Perhatian Nathan tertuju pada Alvaro yang benar-benar sangat menggemaskan, wajah nya semakin tembem.


"Kita tukeran sebentar." Edward mengambil Alvaro dan memberikan Edward pada Riga.


"Tadi ayah dan mamah mu sedang apa," tanya Riga.


"Sedang tidur, kata paman mamah dan ayah bersenang-senang. Paman berbohong, itu tidak baik," ucap Edward.


"Dengar kan itu anak ku, jangan berbohong, jangan mengajarkan yang tidak tidak pada nya."


"Diam, kau fokus saja dengan anak ku," kata Riga.


"Nathan bagaimana tadi malam lancar kan," tanya Riga.


"Sangat lancar dong, bagaimana tidak lancar Helen langsung pasrah pada ku," jawab Nathan.


"Berapa ronde Nat? mau langsung hamil atau tidak?"


"Hanya satu ronde saja, kami kelelahan. Kalau aku si mau nya langsung jadi. Edward juga sudah ingin mempunyai adik," ucap Nathan.

__ADS_1


__ADS_2