
Mereka berdua duduk berdua sejenak, mereka membahas tentang kepergian mereka ke Jepang minggu depan. Siapa yang akan menyiapkan semuanya dan kemana saja mereka akan pergi selama di Jepang.
"Aku tidak enak semua nya kau yang menyiapkan nya."
"Semuanya memang sudah di persiapkan daddy ku," kata Nathan.
"Ya sudah untuk persiapan yang lainnya, aku akan yang mempersiapkan semuanya. Kau jangan meminta apapun pada daddy mu."
"Iya Helen, kau tinggal sendirian, tidak ada orang tua mu yang datang," tanya Nathan.
"Aku tidak mempunyai orang tua yang memperhatikan ku, tidak seperti orang tua mu yang sangat hangat, keluarga mu sangat luar biasa, berbeda dengan ku, aku seperti tidak memiliki keluarga padahal bisa di katakan keluarga ku lengkap. Hahaha sudah jangan membahasnya mood ku jadi tidak bagus," kata Helen.
Nathan bergeser mendekati Helen dan mengusap rambutnya. Ia tidak pernah tau bagaimana rasa nya jadi Helen, karena sedari kecil mendapatkan kasih sayang yang sangat lengkap dari keluarga nya.
"Sabar sebentar lagi kau akan merasakan hangat nya sebuah keluarga. Jangan pernah membenci mereka secara berlebihan, membenci mereka itu hak mu, tapi jika terlalu amat benci dirimu sendiri yang akan tersakiti. Aku juga pernah membenci keluarga ku, dan aku sangat menyesalinya, aku tidak bersyukur dengan apa yang telah aku punya. Di luar sana banyak orang yang memiliki nasib yang kurang beruntung dari pada aku."
"Iya Nathan, terimakasih untuk semuanya. Jujur dengan ada nya diri mu. Aku lebih merasakan kehangatan keluarga," ucap Helen.
Nathan melihat ke arah jam tangan nya, sudah waktunya untuk ia kembali ke rumah, ia akan pergi bersama Stiven untuk mengerjakan sesuatu hal.
"Kau mau pergi," tanya Helen.
"Iya aku akan pergi, aku sudah ada janji dengan kakek ku, istirahat dengan baik, aku tidak ingin melihat mu seperti ini lagi. Kita bertemu minggu depan," jawab Nathan.
"Iya hati hati ya, jaga kesehatan mu juga," ucap Helen.
Setelah berpamitan Nathan pun pergi meninggalkan Helen, ia akan bertemu dengan wanita nya ini minggu depan. Nathan tidak tau bagaimana rindu nya ia tidak melihat Helen begitu lama.
... ☘️☘️☘️...
Hari hari mereka berdua di lalui tampah ada kabar satu sama lain. Nathan benar-benar sibuk dengan Stiven hal itu tidak sempat untuk nya memegang handphone. Begitu juga dengan Helen yang cukup sibuk untuk mempersiapkan apa saja yang akan ia kerjakan di Jepang nanti, Nathan sudah mempersiapkan akomodasi dan berbagai macam kebutuhan mereka di sana, Helen tidak ingin terlalu jauh merepotkan Nathan dan keluarga nya.
"Sudah 6 hari dia tidak memberikan ku kabar," ucap Helen.
"Siapa Helen," tanya Tiara.
"Nathan, kata nya dia ingin mendekati ku, tapi memberikan ku kabar saja tidak. Sekedar bertanya bagaimana kabar mu Helen? sudah lebih baik tidak?. Tidak ada sama sekali," jawab Helen.
__ADS_1
"Hahaha jadi kau sudah berharap pada nya," tanya Tiara.
"Sebenarnya tidak berharap juga si, tapi ntalah aku tidak tau," jawab Helen.
"Hahaha kau sudah tua sayang, jangan sampai lubang mu itu sudah bersarang jangan sampai pria tidak mau lagi menghampiri sarang mu," kata Tiara.
"Tiara, aku masih muda dan aku merawat nya dengan baik," ucap Helen.
"Hahaha ya sudah, tunggu saja lah," kata Tiara.
"Tunggu apa," tanya Helen.
"Tunggu diri nya lah, kata mu besok kalian akan pergi ke Jepang," jawab Tiara.
"Iya tapi dia tak memberikan ku kabar jadi atau tidak, tunggu saja besok," kata Helen.
"Hahaha semangat Helen, semangat menjemput jodoh, jangan takut untuk gagal karena gagal sebuah hubungan itu adalah sebuah fase agar kita lebih dewasa lagi dalam menjalin sebuah hubungan."
"Iya iya, aku akan mencoba nya," kata Helen.
Saat sedang bercerita Handphone Helen menerima sebuah pesan, awal nya Helen malas malasan membaca nya, ia pikir hanya pesan biasa saja. Tetapi ternyata pesan dari Nathan yang membuat Helen langsung bersemangat seketika.
"Wah pucuk di cinta ulan pun tiba."
"Jangan lupa besok, pagi sekali aku akan menjemput mu." Helen membaca pesan itu.
"Nah itu dandan yang cantik, jangan sampai dia ilfil dengan penampilan mu yang biasa ini."
"Hahaha penampilan ku sangat cantik kok, jangan khawatir dengan penampilan ku."
"Berbenah lah sedikit, kalau hanya dia yang mendekati mu tetapi kau acu tidak acu itu tidak akan jadi, tetapi jika kau sedikit membuka hati mu, sama sama berharap dan berjuang pasti kalian akan jadi. Tapi jual mahal juga ya, jangan sampai terlalu mahal, bisa sedikit di tawarlah."
"Hahaha kau bisa saja," ucap Helen.
Keesokan harinya, seperti yang di katakan Nathan yang ingin menjemput nya. Helen langsung bersiap siap dari pagi agar Nathan tidak terlalu lama menunggu nya. Tidak seperti biasa nya yang malas malasan Helen kali ini sangat bersemangat.
"Ha aku cukup cantik jika make up." Helen bercermin sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Setelah bersiap siap Helen menunggu Nathan di ruang tamu, dari sana ia bisa melihat apakah Nathan sudah sampai atau belum.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan halaman rumah Helen. Helen sudah yakin jika itu mobil Nathan. Saat ia keluar dari rumah sambil membawa koper nya, Nathan juga turun dari dalam mobil nya.
Nathan mendekati Helen dan langsung memeluk nya dengan erat.
"Aku sangat merindukanmu Helen," ucap Nathan.
"Jangan asal memeluk ku," kata Helen.
"Kau tidak merindukan ku," tanya Nathan.
"Aku cukup merindukan mu, kenapa tidak memberikan ku kabar." Helen membalas pelukan dari Nathan.
Nathan terkejut Helen membalas pelukan nya begitu hangat, seperti nya memang Helen sangat merindukan nya.
"Maaf aku tidak sempat membuka handphone, aku terlalu sibuk, tetapi yang terpenting sekarang kita sudah bertemu kan. Kita akan lama bersama, puas puas lah," kata Nathan.
"Sudah sarapan," tanya Helen.
"Belum sarapan aku terlalu bersemangat sampai lupa untuk sarapan," jawab Nathan.
"Aku membawa roti isi, ayo berangkat," ucap Helen.
Nathan merasa Helen lebih bersemangat dari biasa nya. Intinya Helen seperti lebih menerima diri nya dari biasa nya.
Helen terkejut ternyata Nathan tidak membawa mobil sendiri, Nathan datang bersama seorang supir.
"Aku tidak boleh membawa mobil sendiri, jadi terpaksa membawa supir."
"Anak manja."
Mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah Helen. Di perjalanan Helen membuka kotak yang berisi roti isi yang ia siapkan sebelum nya.
"Mau," ucap Nathan sambil membuka mulut nya.
Sambil tersenyum manis Helen menyuapi Nathan. Nathan benar-benar sangat senang dengan perubahan Helen pada nya.
__ADS_1
"Apakah mungkin Helen sudah nyaman pada ku," batin Nathan.