Wanita Pemikat Hati

Wanita Pemikat Hati
Adu ketahanan


__ADS_3

"Ayah," ucap Edward.


"Iya sayang, ada apa," tanya Nathan.


"Ayah akan ulang tahun?"


"Kamu tau dari mana," tanya Nathan.


"Dari mamah yah, kata mamah, mamah membutuhkan Edward untuk ulang tahun ayah. Tetapi Edward tidak tau apa itu."


"Sayang kamu tidak bisa menjaga rahasia ya..."


"Itu rahasia mah," tanya Edward.


"Hahaha ini baru anak ayah, benar sayang ayah akan ulang tahun," jawab Nathan.


"Sayang jangan membuat kejutan apa pun ya, rayakan saja ulang tahun ku dengan bertempur sepanjang malam."


"Edward ikut, kita akan bermain tempur tempuran," tanya Edward.


"Hahaha iya sayang, tapi hanya mamah dan ayah. Karena malam hari kamu pasti mengantuk, tidak akan sanggup."


"Kenapa malam malam? bermain kan seharusnya siang hari."


"Untuk orang tua itu malam hari sayang, nah kalau itu kamu baru siang hari. Sudah ya kamu tidur, nanti ayah tidak bisa membuat adik kalau Edward tidak tidur."


"Harus tidur sekarang yah," tanya Edward.


"Benar anak pintar. Belum membuat anak sudah punya anak, itu lah aku.."


Helen benar-benar bahagia melihat Nathan seperti ini, padahal Nathan belum memiliki pengalaman mempunyai seorang anak, tetapi ia benar-benar mendidik dan memberikan pemahaman pada Edward seperti layak nya ayah pada anak kandung nya. Helen berharap kita mempunyai anak nanti Nathan tetap seperti ini. Tidak membedakan anak kandung dan anak tiri nya.


Setelah Edward tidur. Nathan langsung menggendong Helen masuk ke dalam kamar. Ya sudah pasti apa yang mereka lakukan di dalam kamar sana sangat rahasia sampai Edward tidak boleh melihat nya.


Keesokan harinya. Bryan dan Nathan sedang mempersiapkan sesuatu untuk mereka berkemah nanti. Mereka berdua menyiapkan sesuatu yang berat dan para istri sudah pasti menyiapkan makanan dan keperluan ringan lainnya.


"Kau tau danau nya dimana," tanya Bryan.


"Yang jelas tidak begitu jauh, mungkin satu atau dia jam. Aku pernah ke sana saat jomblo dulu, itu sudah sangat lama. Semoga saja tempat itu masih bersih dan bagus."


"Aku tidak tau apa apa daerah sini, jarak rumah ku dan rumah ini saja sudah 1 jam lebih."


"Ikut saja aku, lagi pula kita naik satu mobil saja, kalau dua mobil repot."


"Ya kau benar, mobil itu saja besar dan cukup kuat untuk perjalanan yang tidak bagus," ucap Nathan.


"Punya siapa tu," tanya Bryan.


"Punya ku baru tadi pagi datang," jawab Nathan.


"Wah mobil baru ya, keren kau banyak uang."


"Itu hadiah dari sahabat ku, ya aku tidak minta si, dia saja yang langsung memberikan nya pada ku Rezeki tidak boleh di tolak," ucap Nathan.


Mobil itu pemberian dari Riga. Riga tau Nathan akan segera mempunyai banyak anak itu sebabnya Riga memberikan mobil besar untuk Nathan dan para keluarga nya nanti. Riga tidak ingin memberikan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk orang lain.


Beberapa persiapan besar sudah selesai, satu persatu barang masuk ke dalam mobil. Saat ini mereka hanya tinggal mempersiapkan diri saja. Seperti bersih bersih dan lain sebagainya.


"Ayah kita akan jalan jalan," tanya Edward.


"Iya sayang, kamu boleh membawa mainan tetapi tidak banyak. Hanya beberapa saja ya," ucap Nathan.


"Aku sudah membawa mainan yang sekiranya cocok untuk nya. Kita akan berangkat sayang?"


"Iya bersiap siap lah," ucap Nathan.


"Ayo sayang kita mandi." Helen membawa Edward masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah mereka semua telah siap mereka pun berangkat. Bryan dan Nathan duduk di depan sedangan para istri dan anak anak mereka duduk di belakang. Bryan yang menyetir mobil karena hanya Bryan yang tau danau yang mereka tuju.


Perjalanan menghabiskan waktu yang tidak lama, hanya satu jam. perjalanan. Tak lama mereka semua sampai di danau yang Bryan maksud Danau itu sangat indah sekali, tida ada orang yang datang ke sana karena memang tempat nya yang terpencil. Mungkin hanya beberapa orang saja yang tau tempat itu.


"Aku ingin mandi," teriak Edward.


"Kau sudah mandi, besok pagi saja," kata Helen.


Bryan memarkirkan mobil itu yang tepat di tempat yang akan mereka jadikan tempat berkemah. Nathan dan Bryan mulai memasang tenda untuk mereka istirahat nanti malam. Sedangkan para istri menemani anak anak mereka yang asik bermain air di pinggir danau. Mereka tidak perlu takut dengan buaya karena memang tempat itu tidak ada hewan buas itu.


"Melihat istri dan anak senang itu hal yang paling membahagiakan untuk ku," ucap Bryan.


"Wah kau suami yang baik, tapi benar juga. Dari pada membawa mereka liburan di kota dengan berbagai macam polusi bagus membawa mereka ke alam seperti ini, sangat baik untuk kesehatan mereka dan juga sangat baik untuk perkembangan anak kita."


"Kita harus sering sering membawa mereka liburan ke alam," ucap Bryan.


Meskipun Tiara sedang hamil besar Bryan tidak khawatir dengan kandungan Tiara. Kandungan Tiara masih 7 bulan 2 minggu, tidak mungkin Tiara akan melahirkan mendadak. Lagi pula Tiara juga sangat kuat, buktinya ia selalu berpacuan kuda seperti malam nya. Itu sudah sangat membuktikan sekuat apa Tiara.


"Bagaimana kandungan mu," tanya Helen.


"Sangat baik, mungkin Selasa aku akan periksa, mana tau aku salah hitung. Tiba tiba-tiba lahir saja, kan tidak enak. Banyak hal yang harus aku siapkan," jawab Tiara.


"Bagaimana dengan mu, kau sudah siap untuk mempunyai anak," tanya Tiara.


"Aku si belum siap sebenarnya. Tetapi suami ku sudah sangat ingin mempunyai anak, Edward juga sudah meminta adik terus menerus, ya mau bagaimana lagi, lebih baik di turuti saja lah. Malahan Nathan ingin ikut progam kehamilan, kamu belum satu minggu menikah sudah mau ikut seperti itu. Nathan benar-benar sangat terburu buru."


"Apa dia dalam tekanan, biasa nya seorang suami tidak terlalu begitu. Apa dia tau kalau hamil di trimester pertama tidak ada jatah."


"Aku si kurang tau dia dalam tekanan atau tidak. Tetapi mamah nya akan hamil lagi, kata dia si dia takut kesaing dengan daddy nya. Mungkin itu yang membuat Nathan cepat cepat ingin mempunyai anak. Dia juga tidak tau jika trimester awal tidak ada jatah," jelas Helen.


"Hahaha tapi ada baik nya juga dia ingin cepat punya anak, dia jadi tidak bisa macam macam pada mu. Nathan kuat kan, sudah jangan takut untuk masalah anak. Mengandung tidak seburuk yang kamu pikirkan," kata Tiara.


Tenda yang Nathan dan Bryan dirikan sudah jadi. Mereka berdua memanggil anak dan istri mereka untuk mendekat.


"Sayang kamu bawa panggang kan," tanya Bryan.


"Bawa, kita jadi manggang manggang nya," tanya Tiara.


"Jadi dong sayang, ya sudah aku dan Nathan akan memancing kalian rapihkan semua barang barang di dalam tenda."


"Ayah ikut," ucap Edward.


"Ayo." Nathan menggendong Edward ke pinggiran danau. Ia sangat menjaga Edward agar tidak terjatuh ke danau.

__ADS_1


Beberapa kali umpan mereka masukan ke dalam danau dan beberapa kali pula pancing mereka di makan. Tetapi tidak ada satu dari mereka mendapatkan ikan yang memakan umpan itu. Hal itu cukup membuat Nathan dan Edward merasa cukup kesal.


"Aku mau coba," ucap Edward.


"Iya coba ya, ayah bantu." Nathan sangat senang jika Edward aktif seperti ini, banyak mencoba hal baru dan tida takutan terhadap sesuatu. Saat umpan yang Edward lempar masuk ke dalam air, umpan itu di sambar dengan ikan yang besar, hal itu membuat Edward terpental ke depan.


Beruntung Nathan dan Bryan cepat menangkap Edward, kalau tidak Edward sudah tercemplung ke dalam danau. Bryan mengambil alih pancing Edward dan menarik nya dengan cepat. Edward hanya diam karena syok dengan apa yang terjadi. Jantung nya berdetak cukup kuat, karena ia cukup takut masuk ke dalam danau itu.


"Kamu baik baik saja kan? tidak ada yang sakit sayang," tanya Nathan.


"Tidak papa, akun terkejut," jawab Edward.


"Ya ampun Edward wajahmu benar-benar menggemaskan," ucap Nathan.


Ekspresi wajah Edward yang terkejut membuat Nathan merasa gemas, kalau tidak anak nya sudah ia makan hidup hidup anak ini.


"Tarik paman," teriak Edward.


"Kau hebat, ini semua karena mu.." Bryan masih terus menarik senar pancing itu. Seperti nya ikan yang Edward dapatkan memang besar. Bryan saja sampai harus mengeluarkan tenaga lebih.


Tak lama ikan itu pun naik kedaratan. Dengan cepat Nathan mengambil nya agar tidak kembali terjatuh ke dalam danau.


"Wah besar sekali, ikan apa itu yah," tanya Edward.


"Ayah juga tidak tau, ikan apa ini," tanya Nathan pada Bryan.


"Ikan patin, jangan kalian pegang sirip nya," jawab Bryan.


"Sayang jangan dekat dekat dia berbahaya," ucap Nathan.


Sebelum membawa ikan itu ke tenda. Bryan membersihkan nya terlebih dahulu, ikan itu sangat besar yang sudah cukup untuk mereka berenam. Mereka juga membawa berbagai macam makanan dari rumah.


"Lagi yah lagi," ucap Edward.


"Sudah Edward cukup, kita tidak boleh mengambil nya secara berlebihan. Ini sudah cukup untuk kita semua. Kamu harus mengerti sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, biarkan mereka berkembang dengan baik di danau ini, nanti kalau ada waktu luang kita bisa memancing lagi di sini," ujar Bryan.


"Paman Bryan benar sayang, jangan berlebihan mengambil sesuatu, sudah cukup untuk kita, sesuatu yang berlebihan itu tidak bagus sayang," ucap Nathan.


"Begitu..."


"Iya karena kamu yang dapat ikan ini kamu bebas memakannya dengan banyak," ucap Nathan.


Sebelum hari gelap. Nathan, Edward dan Bryan memutuskan untuk mandi di pinggir danau. Kalau urusan pria memang tidak sulit, cukup mandi mandi tanpa sabunan saja sudah cukup. Berbeda dengan wanita yang ribet. Wanita juga di larang mendekati mereka bertiga. Ntah apa yang membuat Bryan melarang mereka mendekat. Karena itu para wanita memutuskan membuat api dan menyiapkan hal yang mereka pelukan nanti malam.


"Kenapa kau melarang mereka mendekat," tanya Nathan.


"Karena nanti mereka melihat apa yang seharusnya tidak mereka lihat," jawab Bryan.


"Kau naked," tanya Nathan.


"Ya iya lah, aku tanya kau membawa baju ganti," tanya Bryan.


"Bawa di mobil," jawab Nathan.


"Ya ambil, terus kau jemur baju ini," kata Bryan.


"Tida ah, aku seperti mu saja," ucap Nathan.


"Sayang ayo sini," ucap Edward.


"Paman bantu Edward."


"Iya tunggu." Bryan membantu Edward melepaskan pakaian nya lalu membiarkan Edward melompat ke dalam air. Hal ini membuat Bryan terkejut karena anak ini tidak ada takut nya sedikit pun. Nathan menangkap Edward agar Edward tidak tenggelam.


"Putar tubuh kalian," ucap Bryan.


"Aku tidak akan melihat milik mu, tidak ada beda nya dengan milik ku," kata Nathan.


"Benar juga." Tanpa pikir panjang bole Rusia itu langsung melompat ke dalam danau.


"Itu burungnya terbang," ucap Edward.


"Hahaha benar sayang," kata Nathan.


"Sial Edward melihat nya," ucap Bryan.


"Bryan Bryan, kau ya, bisa bisa nya tidak lihat lihat," kata Nathan.


"Paman ayo ke sana, ayo."


"Berenang lah kau ke sini, jangan jauh juahh," ucap Bryan.


"Aku tidak bisa berenang, aku takut tenggelam," kata Edward.


"Kau ada rasa takut juga ya, ayo sini melompat ke arah paman," ucap Bryan.


"Satu.. dua.. tiga..." Edward melompat ke arah Bryan, hampir saja ia tidak sampai ke tangan Bryan.


Para wanita mendengar keasikan mereka berenang Apalagi Edward berteriak dengan keras karena terlalu seneng nya. Salsa ingin sekali bergabung dengan mereka semua, tetapi ayah dan mamah nya menolak nya.


"Ayah dengan Edward bersenang-senang," ucap Salsa.


"Itu urusan pria sayang, sudah tidak papa, kita tunggu mereka disini saja ya."


"Bryan benar-benar dekat dengan Edward, apa dia menginginkan anak cowok," tanya Helen.


"Sebenarnya iya, dulu anak pertama ingin itu Helen tetapi lahir Salsa. Ya meskipun begitu Bryan sayang sekali dengan Salsa, karena Edward datang mungkin rasa ingin anak laki-laki itu sedikit terpenuhi. Kita lihat saja bagaimana Bryan memperlakukan Edward."


"Oh begitu, ya memang cukup sulit ya. Apa yang diinginkan apa yang keluar. Kita tidak bisa menentang hendak tuhan. Apalagi aku nanti, Edward ingin adik laki-laki dan Nathan ingin anak perempuan, ya aku tidak tau nanti mana yang akan keluar," ucap Helen.


"Biasa nya yang diinginkan ayah nya tidak akan keluar. Hahaha lihat saja nanti," kata Nathan.


Hari sudah mulai gelap. Nathan dan yang lainnya sudah kembali ke tenda. Mereka menghangatkan tubuh di depan api unggun sambil meminum kopi panas, memang kenikmatan yang luar biasa.


"Sayang kita bakar sekarang," tanya Helen.


"Ya sekarang, sini aku bantu," jawab Nathan.


Untung saja Tiara membawa panggangan yang sangat mudah untuk di pakai. Edward cukup sedih melihat ikan nya sudah terpotong menjadi beberapa bagian. Padahal sebelum nya, ikan nya masih utuh.


"Ikan aku," ucap Edward.

__ADS_1


"Kamu yang mendapatkan sayang, wah kamu sangat keren," kata Helen.


"Hahaha aku sangat keren paman," ucap Edward.


"Iya kau sangat keren, padahal paman dan ayah mu tidak dapat dapat," kata Bryan.


Malam ini mereka menghabiskan waktu dengan makan makan bersama. Rasa kekeluargaan seperti ini memang membuat mereka semua terasah semakin dekat. Ini yang Bryan inginkan jika berkemah seperti ini, rasa kekeluargaan yang sangat hangat. Jika mereka liburan di kota tidak akan dapat hal seperti itu.


"Rasa nya enak yah," ucap Salsa.


"Manis kan sayang, memang begitu kalau langsung di tangkap dari danau," kata Bryan.


"Edward kamu sangat hebat," ucap Salsa.


Wajah Edward seperti memerah mendatangkan pujian banyak orang, hal itu membuat diri nya sedikit bangga.


Hari semakin malam. Setelah makan malam bersama dan bercerita banyak hal, anak anak sudah harus tidur, Edward sudah terlihat sangat mengantuk, begitu juga dengan Salsa. Para istri membawa anak anak masuk ke dalam tenda.


"Kita beradu ketahanan," ucap Bryan.


"Maksudnya," tanya Nathan.


"Hahaha kata mu ingin jatah," ucap Bryan.


"Hahaha aku tidak tau ya, aku malu lah. Nanti kau melihat tubuh istri ku," kata Nathan.


"Aku juga tidak mau kau melihat tubuh istri ku, tenang saja, ada pembatas nya. Mungkin hanya bayangan yang terlihat," ucap Bryan.


"Oke kita adu ketahanan, siapa yang paling tahan mendapatkan uang," kata Nathan.


"Anjay uang, aku tidak butuh uang," kata Bryan.


"Jadi apa yang harus kita taruhkan," ucap Nathan.


"Hmmm apa ya... Hahaha aku tidak tau si, nanti saja lah setelah selesai baru kita pikirkan," kata Bryan


"Aku perhatikan kau seperti dekat sekali dengan Edward, kau seperti ada sesuatu...


"Hahaha, kau baru sadar ya.. Aku memang sangat suka dengan anak laki-laki, aku ingin anak laki-laki, nah ada Edward yang datang, rasa ingin anak laki-laki ku yang dulu terpendam kembali muncul. Padahal sebelum nya aku sudah sangat cukup mendapatkan Salsa."


"Oh begitu, aku juga ingin mempunyai anak perempuan, tetapi Edward menginginkan adik laki-laki," kata Nathan


"Jadi kau pilih mana," tanya Bryan.


"Ya mana saja lah, aku mana saja akan menerima nya dengan sangat senang," jawab Nathan.


"Bagus lah, aku dulu juga begitu, apa saja pasti aku Terima dengan baik."


"Itu sudah USG apa hasil nya," tanya Nathan.


"Laki-laki, kali ini tidak akan ada yang meleset. Burung nya sudah terlihat dengan jelas, tidak akan berubah," jawab Bryan.


"Hahaha kalau berubah bagaimana? jangan kecewa ya."


"Tidak akan lah, aku tetap akan menerima nya dengan baik," ucap Bryan.


"Halah bulshit, kecewa itu pasti ada tetapi jangan berlebihan, aku juga sering di kecewa kan banyak hal."


"Begitu ya, ya ntalah akun malas membahas nya lagi, kau jadi membuat ku ragu."


"Kalian membicarakan apa," tanya Helen sambil duduk di dekat Nathan.


"Ia sayang seperti nya kalian ingin membicarakan hal penting," ucap Tiara.


"Tidak sayang, anak anak sudah tidur," tanya Bryan.


"Sudah seperti nya, dia cemburu dengan Edward, kamu terlalu memujinya sayang," jawab Tiara.


"Hahaha begitu, nanti aku minta maaf pada nya."


"Baby boy..." Bryan mengusap perut Tiara.


Beberapa tendangan membuat Bryan tersenyum, saat Bryan mengatakan baby boy sambil mengusap perut Tiara pasti ada tendangan dari dalam. Hal itu membuat Bryan semakin yakin jika anak itu berjenis kelamin laki-laki.


"Akkgg aku ingin seperti itu sayang," ucap Nathan.


"Hahaha sabar sayang, kamu pikir mudah mendapatkan seperti itu."


"Ya mudah kalau kita yakin dan terus menerus membuat nya," kata Nathan.


"Sabar Nathan sabar, jangan begitu nanti malah lama di beri nya. Seperti biasa saja," ucap Helen.


"Sayang jatah," bisik Nathan.


"Sayang mana mungkin, ini bukan di kamar sayang."


"Apa Helen, gas saja lah, aku dengan Bryan masih ingin di luar saja," kata Tiara.


"Sssttt aku ingin jatah sayang, ayo masuk." Bryan menggendong Tiara masuk ke dalam. Mereka mengambil satu tempat di sisi tenda. Setelah itu menarik sleting pemisahan mereka tenda.


"Sayang," ucap Tiara.


"Iya, ada apa, mau gaya apa," tanya Bryan.


"Atas," jawab Tiara.


"Hahaha ganas ya sayang, kamu yakin ingin di atas," tanya Bryan.


"Iya sayang, ayo..."


Helen dan Nathan masih kikuk di luar sana. Mereka mendengar semuanya, rasa nya malu tetapi ingin ikut juga. Nathan masih diam memantau situasi, ia jadi lomba ketahanan atau tidak dengan Bryan.


"Sayang ayo," bisik Nathan.


"Aku takut sayang, nanti kalau anak bangun bagaimana," tanya Helen.


"Tidak mungkin lah, ayo masuk. Atau kita di luar saja bagaimana???".


"Ha di luar, kamu jangan aneh aneh."


"Ya sudah ayo masuk." Nathan membawa Helen masuk ke dalam tenda.

__ADS_1


Nathan sudah tidak tahan mendengar suara Bryan dan juga Tiara. Apa yang terpendam di dalam tubuh Nathan kembali mengamuk meminta hak nya.


__ADS_2