
Sebelum nya agar nyambung baca 2 bab sebelum nya, karena baru saja di edit.
_____________________________________________
"Memang iya, Mereka meminta ku untuk pulang, selagi tidak bertemu di rumah aku ingin bertemu dengan mereka. Jujur saat melihat kehangatan keluargamu aku jadi ingat keluargaku, aku jadi sangat merindukan mereka. Jadi mungkin ini saatnya untuk aku bertemu mereka kembali, tidak tau apa yang terjadi nanti, itu urusan nanti."
"Ya sudah aku temenin, kemanapun kamu pergi aku akan ikut," ucap Nathan.
"Kamu yakin, nanti kamu tidak suka lagi dengan keluargaku," tanya Helen."
"Yakinlah kenapa tidak, ya tidak papa. Yang terpenting kan aku sukanya sama kamu bukan sama keluargamu, aku menikah nya dengan kamu juga bukan dengan keluargamu. Jadi suka tidak suka tidak ada ruginya" jawab Nathan.
"Hahaha kamu benar ya sudah sekarang kita siap-siap, nanti jam 11.00 kita berangkat."
"Oke Helen, sekarang kamu keluar dari kamarku karena aku ingin mandi atau kamu ingin bersamaku?"
"Tak mau, terimakasih atas tawaran nya," kata Melanie dan langsung pergi meninggalkan kamar Nathan.
Nathan tersenyum melihat kepergian Helen, ia beranjak dari atas kasur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah nathan bersiap-siap, ia keluar dari dalam kamar dengan keadaan yang sudah rapi. Nathan melihat helen sedang mempersiapkan makan siang untuk mereka berdua. Mereka langsung makan siang tanpa sarapan karena bangun terlambat.
"Masak apa ay," tanya Nathan.
"Spaghetti, aku memasak yang simpel saja," jawab Helen.
"Kamu sudah mandi," tanya Nathan.
"Sudah dong, sudah dong, aku sudah sangat wangi," jawab Helen.
"Cepat sekali ay, aku saja baru selesai, kamu mandi bebek ya," tanya Nathan.
"Hahaha tidak dong, aku kalau mandi jarang lama, kamu iya kalau mandi sangat lama," jawab Helen.
"Aku bantu ya," ucap Nathan.
"Tidak usah Nathan, tunggu saja di sana Nathan, sebentar lagi juga siap," kata Helen.
"Kamu tidak ingin aku repotin ya, hahaha ya sudah aku tunggu di sana ay." Nathan berjalan menjauh. Melihat calon istri nya memasak cukup membuat nya senang.
Tak lama Melanie membawa spaghetti yang ia masak ke meja makan yang sudah ada Nathan, ia sedang menunggu Helen selesai memasak.
"Sudah matang," ucap Helen.
"Hanya satu piring," tanya Nathan.
"Tunggu sebentar Nathan, aku ambil piring lagi," jawab Helen.
Dengan cepat Nathan menahan tangan Helen, lebih baik mereka makan satu piring bersama saja, agar semua nya lebih romantis.
"Kita makan di piring yang sama saja ya," ucap Nathan.
"Ha??"
__ADS_1
"Tidak papa, lebih baik kita makan sepiring berdua, itu akan lebih menyatukan perasaan kita," ucap Nathan.
Helen hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Nathan, senyuman itu berarti ia setuju makan satu piring dengan Nathan.
"Aku ambil minum dan sendok saja," ucap Helen.
"Jangan yang manis ay, kamu sudah manis nanti aku diabetes," kata Nathan.
"Jangan menggombal seperti itu, tidak cocok untuk mu," ucap Helen.
"Hahaha maaf ay, kamu terlalu cantik untuk tidak aku gombalin," kata Nathan.
Mereka pun makan di piring yang sama. Nathan dan Helen sama sama makan dengan lahap. Mereka berdua sudah tidak memiliki rasa canggung satu sama lainnya. Seperti nya cinta sedang menari nari di hati mereka masing-masing.
"Aku sangat kenyang, makanan nya sangat enak, terimakasih ay," ucap Nathan.
"Enak lah, siapa lagi yang masak, jika masakan di bumbui dengan rasa cinta pasti rasa nya akan sangat enak."
"Jadi masakan mu di bumbui dengan cinta, pantas saja ay."
"Pantas apa," tanya Helen.
"Pantas saja aku semakin mencintai mu, aku memakan semua bumbu cinta itu."
"Nathan." Helen mencubit wajah Nathan.
"Hati aja ay, yang kamu cubit," ucap Nathan.
"Tidak mau, ayo kita pergi," kata Helen.
"Mertua mu?"
"Iya dong mertua ku, kan kamu calon pacar mu, ya jadi mereka mertua ku," ucap Nathan.
"Iya iya Nathan, semua yang kau katakan itu benar," kata Helen sambil mencium wajah Nathan.
Nathan seperti ingin meledak seketika, ini pertama nya Helen mencium nya secara tiba-tiba.
"Aku meleleh." Nathan langsung jatuh ke lantai.
"Hahaha ya sudah aku pergi sendiri." Helen berlari pergi meninggalkan Nathan.
"Ayang tunggu aku." Nathan bangkit dari atas lantai dan langsung berlari mengejar pujaan hati nya.
Sebelum sampai di rumah nenek nya Helen menghubungi orang tua nya terlebih dahulu. Ia memberikan mereka kabar jika ia dan Nathan akan datang ke rumah.
"Terimakasih sayang."
"Katakan dengan mereka jangan membuat ku malu, lupakan semua nya hari ini," ucap Helen sambil memutuskan sambungan telepon itu.
"Wih calon istri ku ganas juga ya," kata Nathan.
__ADS_1
"Hahaha memang iya, jangan macam macam dengan ku, atau aku akan memakan mu," ucap Helen.
"Mau dong di makan ayang, pasti enak," kata Nathan.
"Aneh." Helen kembali meletakkan kepala nya du atas dada bidang Nathan.
Seperti nya hari ini kedekatan mereka berdua semakin bertambah saja. Helen lebih membuka perasaan nya dan mulai menerima setiap cinta yang Nathan berikan pada nya. Sifat aneh Nathan kali ini berubah menjadi keunikan di mata Helen.
"Ay aku ingin menikah akhir tahun ini," ucap Nathan.
"Iya terserah mu," kata Helen.
"Kamu sudah siapkan," tanya Nathan.
"Di umurku yang sudah segini bagaimana aku tidak siap," jawab Helen.
Sesampainya di rumah nenek Helen. Mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah. Di sana sudah ada keluarga besar Helen yang menunggu mereka berdua. Dari ayah, mamah, adik sampai dengan para sepupu Helen. Mereka semua tidak pernah menyangka jika Helen sampai sesukses ini.
"Bukan nya itu Nathan Vins grup."
"Iya benar itu Nathan mereka berdua berpacaran, Helen sangat keren."
"Sayang." Mamah Helen langsung memeluk Helen dengan erat.
"Apa kabar mah," tanya Helen.
"Sangat baik sayang," jawab Nita mamah Helen.
Dari semua orang yang ada di sana hanya mamah nya Helen mau berpelukan karena mamah nya tidak terlalu bersalah. Apalagi hanya mamah nya lah yang sering menghubungi nya.
"Siapa dia," tanya Arya.
"Pacar ku," jawab Helen.
"Masih pacaran, kamu sudah tua Helen. Dulu tante menikah umur 20 tahun," ujar tante Helen.
"Karena apa, hamil lebih dulu untuk menutupi malu?" tanya Nathan.
Pertanyaan Nathan membuat tante Helen langsung diam seketika.
"Nathan," ucap Helen.
"Dia dulu, aku tidak suka pacar ku di katakan seperti ini."
"Helen tidak bisa kah mencari pacar yang memiliki sopan santun," tanya Arya.
"Paman bisa kan menjadi ayah yang berguna," ucap Nathan.
"Nathan." Helen benar-benar heran dengan keberanian yang Nathan miliki.
"Jaga mulut mu, kau tau tanpa restu ku kau tidak bisa menikah dengan anak ku."
__ADS_1
"Takut? hahaha tidak? masih pantas di katakan Ayah nya Helen," tanya Nathan.
"Nathan sudah lebih baik kita pergi dari sini, memang sebaiknya kita tidak datang ke tempat ini."