
"Masuk ke dalam baju ku," ucap Nathan.
"Ha!!!."
"Hahaha kenapa, itu akan membuat mu terasa lebih hangat," ucap Nathan.
"Tidak ah, itu gila. Kalau sampai ada orang yang tau bisa menimbulkan fitnah," kata Nathan.
"Ada orang yang tau. Helen sadar kita ini di hutan, siapa yang akan melihat kita."
"Tapi tetap saja, aku tidak mau."
"Helen sekarang aku tanya kenapa kau sampai berada di sini," ucap Nathan.
"Aku tida sengaja, aku hanya ingin melihat lihat, tetapi ternyata tiba tiba hujan deras datang. Aku berlari tanpa arah, dan tiba tiba banjir bandang datang. Aku sempat terjebak tetapi berhasil selamat, karena aku pikir kalau jalan ke bawa berbahaya aku memilih lebih naik ke atas untuk sementara waktu."
"Dan sampai terjebak seperti ini, kau memang membuat orang khawatir saja. Kenapa tidak membangunkan ku? untung saja akun terbangun karena suara hujan yang sangat deras."
"Ya aku tidak tega melihat mu tidur begitu nyenyak, kau pasti sangat lelah karena perjalanan jauh tadi. Dari pada aku merepotkan mu lebih baik aku berangkat sendiri saja."
"Lah begitu pulak, kau tidak pernah merepotkan ku, jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Pikirkan keselamatan mu," ucap Nathan.
Tubuh Helen semakin menggigil kedinginan. Nathan benar-benar dapat merasakan nya. Ia takut Helen terkena hipotermia itu benar-benar sangat berbahaya.
"Helen kau sangat kedinginan," ucap Nathan yang mempererat pelukan nya.
__ADS_1
"Sangat dingin Nathan."
"Aku bisa menghangatkan mu, tapi aku tidak mau itu terjadi. Ah bagaimana ini, kau tau ini sangat berbahaya," ucap Nathan.
"Lakukan apa yang bisa membuat ku hangat Nathan, aku tidak tahan," kata Helen.
Helen sendiri merasa tubuh nya sudah bergetar dengan cukup kuat. Kepala nya terasa pusing dan nafas nya mulai terasa sesak. Ia takut dirinya berakhir di hutan ini.
Nathan membuka kancing baju nya, ia membalik tubuh Helen, tak lupa ia juga membuka kancing baju depan tubuh Helen sampai terlepas semuanya. Setelah itu ia memeluk Helen dengan sangat erat. Dengan kulit yang saling menempel Nathan berharap mereka berdua bisa berbagi kehangatan.
Nathan juga mengucapkan minyak angin itu ke punggung, leher dan kepala Helen, dengan demikian tubuh yang tidak terkena pelukan tetap merasa hangat.
"Kaca mata mu, terlalu besar," ucap Nathan.
"Hahaha lepas saja ya, mana tau bisa semakin hangat," ucap Nathan.
"Terserah," kata Helen.
Nathan terkejut mendengar perkataan Helen, ia hanga bercanda tadi. Memang sangat menganggu karena menghalangi kulit mereka untuk bersentuhan. Ini juga kesempatan yang tidak mungkin terulang lagi.
Tangan Nathan bergerak ke belakang tubuh Helen, ia melepaskan satu persatu pengait kaca mata itu. Dan sampai kaca mata itu jatuh ke bawah. Nathan kembali memeluk Helen dengan erat. Sampai kedua tubuh mereka bersatu menjadi satu.
"Sial begini rasa nya, sangat lembut dan hangat. Mana besar lagi," batin Nathan.
"Hangat Nathan," ucap Helen.
__ADS_1
"Iya hangat dan enak," kata Nathan.
Nathan melirik ke arah jam tangan yang di pakai oleh nya. Ia tidak tau apakah pelacak yang di tanam di jam tangan itu berfungsi atau tidak. Jika berfungsi keluarga nya pasti dengan muda menemukan nya.
"Bagaimana kalau kita terjebak selama nya di sini, aku takut mati, aku belum menikah," ucap Helen.
"Tenang saja, kita akan selamat," kata Nathan.
"Aku tidak bisa tenang," ucap Helen.
"Begini saja kalau kita berhasil selamat, kau tidak masalah jika aku mendekati mu," kata Nathan.
"Kau suka dengan ku," tanya Helen.
"Aku tertarik dengan mu," jawab Nathan.
"Kau bukan tipe ku," ucap Helen.
"Aku tak peduli, jika aku mau aku bisa membuat mu menjadi milik ku seutuhnya," kata Nathan.
"Maksudnya?"
"Pokok nya jika kita selamat izinkan aku mendekati mu."
"Iya iya," ucap Helen.
__ADS_1